Profil Tampang Timothy Ronald, yang Dilaporkan Atas Dugaan Penipuan Kripto Senilai Rp200 Miliar: Umur, Agama dan Akun Instagram

Profil Tampang Timothy Ronald, yang Dilaporkan Atas Dugaan Penipuan Kripto Senilai Rp200 Miliar: Umur, Agama dan Akun Instagram

Timothy-Instagram-

Profil Tampang Timothy Ronald, yang Dilaporkan Atas Dugaan Penipuan Kripto Senilai Rp200 Miliar: Umur, Agama dan Akun Instagram

Dunia investasi Tanah Air tengah diguncang oleh kasus dugaan penipuan kripto yang melibatkan sosok yang selama ini dikenal sebagai investor muda penuh idealisme: Timothy Ronald. Pria yang sempat dijuluki “The Next Warren Buffett Indonesia” kini harus menghadapi sorotan publik setelah dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas tuduhan menyesatkan ribuan anggota komunitas investasinya dalam skema trading aset digital.



Laporan tersebut, yang diajukan pada Minggu (11/1/2026), dikonfirmasi langsung oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bhudi Hermanto. “Benar, ada laporan terkait kripto oleh pelapor berinisial Y,” ujar Bhudi saat dikonfirmasi media.

Dalam Proses Penyelidikan, Bukti Mulai Dikumpulkan
Bhudi menambahkan bahwa laporan tersebut kini sedang dalam tahap penyelidikan awal. “Saat ini terlapor dalam proses penyelidikan,” tegasnya. Pihak kepolisian juga akan segera memanggil pelapor untuk menganalisis bukti-bukti yang telah diserahkan, termasuk dokumen transaksi, chat grup, dan rekaman pertemuan virtual yang diduga menjadi sarana promosi investasi ilegal tersebut.

Yang mengejutkan, Timothy tidak sendirian. Ia dilaporkan bersama rekan dekatnya, Kalimasada, dengan sangkaan pelanggaran terhadap Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Undang-Undang tentang Transfer Dana, serta sejumlah pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait penipuan dan penggelapan.


Akademi Crypto: Komunitas yang Berubah Jadi Ladang Kerugian
Menurut unggahan viral dari akun Instagram @skyholic888, laporan itu berasal dari sejumlah mantan anggota Akademi Crypto, sebuah komunitas edukasi investasi digital yang didirikan oleh Timothy Ronald dan Kalimasada. Akun tersebut menyebut bahwa kedua tokoh tersebut diduga mengajak para anggotanya berinvestasi pada aset kripto tertentu—bukan untuk tujuan edukasi atau diversifikasi portofolio, melainkan demi keuntungan pribadi mereka.

Lebih mengejutkan lagi, unggahan itu mengklaim bahwa sekitar 3.500 orang mengalami kerugian finansial akibat ajakan investasi tersebut, dengan total estimasi mencapai lebih dari Rp200 miliar. Para korban, yang sebagian besar adalah anak muda dan pemula di dunia investasi, mengaku sempat takut melapor karena adanya ancaman dan tekanan psikologis dari pihak internal komunitas.

Namun, semangat kolektif akhirnya muncul. Mereka membentuk grup solidaritas, mengumpulkan bukti, dan secara berani mendatangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan dugaan kejahatan finansial tersebut. Foto lembar laporan polisi pun turut disertakan dalam unggahan tersebut sebagai bentuk transparansi dan dorongan agar kasus ini ditangani serius.

Dari Investor Inspiratif ke Tersangka Potensial
Sebelum kasus ini mencuat, nama Timothy Ronald justru identik dengan sosok investor muda yang inspiratif. Ia mulai menekuni dunia investasi sejak usia 14 tahun, mempelajari literatur klasik seperti The Intelligent Investor karya Benjamin Graham—buku yang juga menjadi fondasi filosofi investasi Warren Buffett.

Popularitasnya melesat ketika ia diketahui membeli 11 juta lembar saham Bank Central Asia (BBCA), langkah yang membuat banyak analis pasar tercengang. Gaya investasinya yang fokus pada fundamental perusahaan dan horizon jangka panjang membuat media menjulukinya sebagai “The Next Warren Buffett Indonesia”.

Dalam wawancara dengan Antara pada Rabu (27/8/2025), Timothy pernah menegaskan prinsip hidupnya:

“Investasi bukan hanya soal mengejar keuntungan cepat. Bagi saya, investasi adalah tentang kesabaran dan disiplin jangka panjang. Jika hasilnya keuntungan, maka itu buah dari prinsip yang dijalankan konsisten.”

Ia bahkan menolak disamakan sepenuhnya dengan Buffett. “Bagi saya, keberhasilan bukan sekadar jumlah aset, tapi bagaimana saya bisa mendorong anak muda untuk berani berinvestasi dan berpikir jangka panjang,” katanya kala itu.

Visi Sosial yang Kini Dipertanyakan
Selain aktivitas investasinya, Timothy juga dikenal memiliki visi sosial ambisius: membangun 1.000 sekolah di seluruh Indonesia. Ia kerap tampil di seminar nasional, berbagi tips literasi keuangan, dan aktif di media sosial dengan konten edukatif yang menarik minat generasi Z dan milenial.

Namun, kini visi mulia tersebut dipertanyakan publik. Banyak netizen bertanya-tanya: apakah semua itu hanyalah strategi personal branding untuk menarik kepercayaan, lalu dimanfaatkan dalam skema investasi yang merugikan?

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya