Mengambil Hikmah di Balik Hujan Adalah Rahmat, Peringatan, dan Pelajaran Hidup dari Langit! Inilah Khutbah Jumat 16 Januari 2026

Mengambil Hikmah di Balik Hujan Adalah Rahmat, Peringatan, dan Pelajaran Hidup dari Langit! Inilah Khutbah Jumat 16 Januari 2026

ilustrasi-ebor-

Mengambil Hikmah di Balik Hujan Adalah Rahmat, Peringatan, dan Pelajaran Hidup dari Langit! Inilah Khutbah Jumat 16 Januari 2026

Hujan Bukan Sekadar Air—Tapi Cermin Kasih Sayang Ilahi



Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali membuat kita lupa bersyukur, datangnya hujan menjadi pengingat lembut dari Sang Pencipta. Ia bukan hanya fenomena meteorologis biasa, melainkan tanda nyata dari rahmat Allah SWT yang tak pernah berhenti mengalir kepada hamba-Nya. Di hari Jumat yang penuh berkah ini, 16 Januari 2026, mari kita renungkan khutbah bertema “Mengambil Hikmah di Balik Hujan”—sebuah ajakan untuk menyelami makna spiritual di balik tetesan air yang turun dari langit.

Hujan: Anugerah yang Sering Dilupakan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Anbiya ayat 30:

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”


Ayat ini bukan sekadar pernyataan ilmiah—ia adalah pengingat eksistensial. Tanpa air, tidak ada kehidupan. Tumbuhan layu, hewan mati kehausan, dan manusia pun tak mampu bertahan. Namun ironisnya, justru saat air melimpah, kita kerap melupakannya. Padahal, ketika kemarau panjang melanda, satu tetes hujan bisa bernilai lebih dari emas.

Dalam khutbah pertama, khatib mengajak jamaah untuk menyadari bahwa hujan adalah bentuk rububiyyah (kepemilikan dan pengaturan) Allah atas alam semesta. Ia bukan hasil kebetulan atau sekadar siklus cuaca, melainkan manifestasi kasih sayang Ilahi yang terus-menerus diberikan meski manusia sering lalai bersyukur.

Hujan sebagai Simbol Kebangkitan Akhirat
Salah satu pelajaran paling mendalam dari hujan adalah analoginya dengan hari kebangkitan. Bumi yang tadinya kering, retak, dan mati—dalam sekejap bisa berubah hijau, subur, dan penuh kehidupan setelah disiram hujan. Inilah gambaran nyata dari kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia dari kubur kelak.

Allah SWT berfirman dalam Surah asy-Syura ayat 28:

“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.”

Ayat ini menegaskan bahwa hujan bukan hanya soal irigasi atau pasokan air, tapi juga simbol harapan. Saat manusia putus asa—baik secara fisik maupun spiritual—Allah hadir dengan rahmat-Nya. Ini adalah undangan halus untuk tidak pernah kehilangan harapan, bahkan di tengah ujian terberat sekalipun.

Hikmah di Balik Distribusi Hujan yang Tak Merata
Menariknya, hujan tidak selalu turun merata. Ada daerah yang diguyur deras, sementara wilayah lain mengalami kekeringan. Dalam tafsir para sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, hal ini bukan tanpa tujuan. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Furqan ayat 50:

“Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara mereka agar mereka mengambil pelajaran…”

Inilah bentuk tadabbur (perenungan) yang diajarkan Islam: hujan yang tidak merata adalah ujian bagi yang kekurangan dan ujian syukur bagi yang kelebihan. Bagi yang dilimpahi hujan, apakah ia menggunakan air itu dengan bijak atau malah menyia-nyiakannya? Bagi yang kekeringan, apakah ia tetap sabar dan bertawakal?

Nabi Muhammad ﷺ dan Sikap Waspada terhadap Hujan
Meski hujan adalah rahmat, Rasulullah ﷺ—manusia paling dekat dengan Allah—tidak pernah merasa aman sepenuhnya. Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa wajah Nabi berubah ketika melihat awan mendung. Beliau bersabda:

“Wahai Aisyah, apa yang bisa menjaminku bahwa di dalam awan itu tidak ada azab? Sungguh suatu kaum telah Allah azab dengan angin, mereka melihat azab itu (mendung) lalu berkata: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (HR. Bukhari)

Ini mengajarkan kita dua sikap penting: syukur dan kewaspadaan. Jangan sampai kita terlena oleh nikmat hingga lupa bahwa Allah juga mampu mengubah rahmat menjadi ujian—banjir, longsor, atau penyakit musiman.

Amalan Sunnah Saat Hujan Turun
Agar hujan benar-benar menjadi berkah, umat Islam dianjurkan menghidupkan sunnah Nabi ﷺ saat hujan turun:

Berdoa: Saat melihat hujan, ucapkan:
“Allahumma shayyiban nāfi’ā”
(Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat).
Memohon Perlindungan: Jika hujan sangat deras dan berpotensi membahayakan, bacalah:
“Allahumma hawalaina wala ‘alaina…”
(Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, bukan atas kami).
Mengambil Berkah: Nabi ﷺ kadang menyingkap pakaiannya agar terkena tetesan hujan pertama—sebagai bentuk keyakinan bahwa hujan membawa keberkahan.
Menjaga Keselamatan: Sesuai firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 195:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan diri kamu sendiri ke dalam kebinasaan.”
Artinya, hindari daerah rawan banjir, jangan nekat menyeberangi sungai saat arus deras, dan patuhi imbauan BPBD atau pihak berwenang.

Jangan Menyekutukan Nikmat Hujan
Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan—bahkan oleh sebagian muslim—adalah mengaitkan hujan dengan bintang, rasi, atau ramalan cuaca semata. Padahal, Nabi ﷺ bersabda:

Baca juga: Jadwal Program Televisi Selasa, 13 Januari 2026 Ada Film Bioskop Xxx dan All The Devils Men di ANTV, GTV, Indosiar, MDTV, Metro TV, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans 7, Trans TV dan TVONE serta Link Streaming

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya