Investor Asing Serbu 10 Saham Unggulan di Awal 2026, IHSG Melesat ke Level 8.936!

Investor Asing Serbu 10 Saham Unggulan di Awal 2026, IHSG Melesat ke Level 8.936!

saham-pixabay-

Investor Asing Serbu 10 Saham Unggulan di Awal 2026, IHSG Melesat ke Level 8.936!

Di tengah gejolak geopolitik global yang dipicu oleh ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela, pasar saham Indonesia justru menunjukkan daya tarik luar biasa bagi investor asing. Selama sepekan perdagangan pertama tahun 2026 (5–9 Januari), arus modal asing terus mengalir deras ke Bursa Efek Indonesia (BEI), mencerminkan kepercayaan kuat terhadap fundamental ekonomi domestik dan prospek investasi jangka panjang di Tanah Air.



Berdasarkan data resmi BEI, investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp2,56 triliun selama periode tersebut. Jika diakumulasi sejak awal tahun, total beli bersih asing bahkan telah mencapai Rp3,1 triliun, menandakan optimisme berkelanjutan terhadap pasar modal Indonesia meski tekanan eksternal masih menghantui perekonomian global.

Sektor Pertambangan, Energi, dan Perbankan Jadi Primadona
Dari pantauan BEI, sejumlah saham unggulan menjadi incaran utama investor asing dalam sepekan ini. Tiga sektor utama yang mendominasi aliran dana asing adalah pertambangan, energi, dan perbankan—sektor-sektor yang dinilai memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta potensi pertumbuhan stabil di tengah volatilitas pasar global.

Di posisi teratas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi saham paling diburu asing dengan akumulasi beli bersih mencapai Rp608,2 miliar. Harga saham emiten tambang pelat merah ini ditutup di level Rp3.490 per saham, menunjukkan sentimen positif terhadap komoditas logam mulia dan nikel yang menjadi fokus bisnis ANTM.


Tak kalah agresif, investor asing juga gencar mengoleksi saham PT Astra International Tbk (ASII)—konglomerat otomotif dan jasa terbesar di Indonesia—dengan nilai beli bersih mencapai Rp483,3 miliar. Langkah ini mencerminkan kepercayaan terhadap diversifikasi bisnis ASII yang mencakup otomotif, jasa keuangan, infrastruktur, hingga agribisnis.

Sementara itu, saham kontraktor pertambangan ternama PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan net buy asing sebesar Rp401,6 miliar. Harga saham PTRO bahkan menguat signifikan dan ditutup di level Rp12.275 per saham, didorong oleh ekspektasi peningkatan permintaan jasa pertambangan seiring pemulihan harga komoditas global.

Saham Konstruksi hingga Perbankan Ikut Dilirik
Di luar sektor pertambangan, investor asing juga menunjukkan minat besar terhadap saham-saham infrastruktur dan properti. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), perusahaan konstruksi yang aktif dalam proyek-proyek strategis nasional, mencatat akumulasi beli bersih asing sebesar Rp365 miliar, dengan harga saham berada di Rp7.675.

Dari sektor perbankan, dua raksasa keuangan nasional menjadi favorit utama. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net buy asing sebesar Rp282,9 miliar, sementara harga sahamnya bertengger di Rp3.710. Di posisi berikutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)—bank swasta terbesar di Indonesia—juga dibeli bersih oleh asing senilai Rp252,6 miliar, meski harga sahamnya sedikit melemah ke Rp8.050. Hal ini menunjukkan bahwa investor jangka panjang tetap percaya pada kualitas aset dan profitabilitas BBCA.

Komoditas Nikel dan Tembaga Tak Ketinggalan
Minat asing terhadap sektor komoditas strategis seperti nikel dan tembaga juga sangat kuat. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), salah satu produsen nikel terbesar di dunia, diborong asing senilai Rp248,3 miliar, dengan harga saham ditutup di Rp6.000. Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)—yang sedang memperluas operasi tambang tembaganya di Kalimantan—mencatat beli bersih asing sebesar Rp241,3 miliar.

Tak kalah menarik, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga masuk radar investor global dengan net buy mencapai Rp236,5 miliar, meski harganya masih berada di level rendah, yakni Rp1.205 per saham. Ini bisa menjadi indikasi bahwa investor melihat potensi valuasi menarik di saham-saham berkapitalisasi kecil namun memiliki aset mineral berharga.

Terakhir, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)—produsen bahan bangunan ramah lingkungan—menjadi satu-satunya wakil dari sektor manufaktur dalam daftar 10 saham terborong asing pekan ini. Nilai beli bersihnya mencapai Rp203 miliar, dengan harga saham di Rp3.850, mencerminkan tren investasi berkelanjutan (ESG investing) yang semakin populer di kalangan investor institusional global.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya