Banjir Halmahera Barat: Bencana Alam atau Dampak Eksploitasi Tambang yang Tak Terkendali?
Sherly-Instagram-
Banjir Halmahera Barat: Bencana Alam atau Dampak Eksploitasi Tambang yang Tak Terkendali?
Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Rabu, 7 Januari 2026. Peristiwa ini bukan sekadar bencana alam biasa—ia memicu gelombang pertanyaan publik: apakah banjir ini murni akibat curah hujan tinggi, atau justru merupakan konsekuensi dari kerusakan ekosistem akibat aktivitas pertambangan yang masif di kawasan tersebut?
Hujan Deras, Sungai Meluap, Permukiman Tenggelam
Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Halmahera Barat sejak Selasa sore, 6 Januari 2026. Intensitas curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat menyebabkan debit air sungai melonjak drastis, hingga meluap dan merendam permukiman warga serta fasilitas umum.
Lima kecamatan terdampak parah: Ibu, Ibu Selatan, Ibu Utara, Sahu, dan Sahu Timur. Di antara semuanya, Kecamatan Ibu menjadi episentrum bencana. Tiga desa di wilayah itu dilaporkan terendam air hingga ketinggian tiga meter, memaksa ratusan keluarga mengungsi dan memutus akses transportasi darat.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan pemandangan suram: rumah-rumah terendam, jalanan berubah menjadi sungai, dan warga berusaha menyelamatkan barang-barang penting dengan perahu darurat. Situasi ini memicu keprihatinan nasional, terutama karena Halmahera selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pertambangan strategis di Indonesia.
Suara Kritis dari Publik: “Saatnya Negara Bertobat Secara Ekologis”
Di tengah duka warga yang kehilangan tempat tinggal, muncul suara kritis dari tokoh publik. Sherly Annavita, seorang influencer lingkungan yang dikenal vokal, menyoroti kaitan antara bencana banjir dan praktik eksploitasi sumber daya alam di Halmahera.
“Halmahera adalah tempat tambang nikel besar berada. Saatnya negara melakukan pertobatan ekologis. Saatnya jaga alam agar alam jaga kita,” tulis Sherly dalam unggahan yang viral di Instagram dan Twitter.
Pernyataannya langsung mendapat respons luas. Netizen mulai mempertanyakan apakah pembukaan lahan tambang secara masif—tanpa mitigasi lingkungan yang memadai—telah melemahkan daya tampung ekosistem terhadap curah hujan ekstrem.
Halmahera: Surga Nikel yang Rentan Bencana
Fakta tak bisa dipungkiri: Halmahera memang menjadi salah satu poros utama industri nikel nasional. Namun, pusat aktivitas tambang nikel terbesar justru berada di Halmahera Tengah, tepatnya di kawasan Weda, bukan di Halmahera Barat yang kini dilanda banjir.
Di sana, dua raksasa industri—PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan Halmahera Persada Lygend (HPAL)—mengembangkan kompleks industri baterai kendaraan listrik terintegrasi. Proyek ini didukung oleh investasi asing besar, termasuk dari China dan Korea Selatan, dan menjadi bagian dari ambisi Indonesia menjadi pemain global dalam rantai pasok energi hijau.
Namun, jejak ekologis dari ekspansi industri ini tak bisa diabaikan. Deforestasi, perubahan tata guna lahan, dan gangguan terhadap aliran sungai menjadi risiko nyata yang sering kali diabaikan demi percepatan produksi.
Selain nikel, Halmahera juga menyimpan emas. Di Gosowong, Halmahera Utara, PT Nusa Halmahera Minerals (PTNHM) telah lama beroperasi sebagai salah satu penambang emas terbesar di kawasan timur Indonesia.
Penyempitan Sungai: Faktor Lokal yang Memperparah Bencana
Meski isu tambang menjadi sorotan utama, pemerintah daerah memberikan penjelasan teknis yang lebih spesifik. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa hasil identifikasi awal menunjukkan penyempitan aliran sungai sebagai salah satu penyebab utama banjir.
“Hasil kunjungan lapangan Kepala Balai Wilayah Sungai Maluku Utara bersama anggota DPR RI Irine Yusiana Roba Putri—bahkan sebelum banjir terjadi—sudah menyoroti adanya penyempitan aliran sungai. Ini disebabkan oleh bangunan warga yang berdiri di jalur aliran air,” ujar Gubernur Sherly.
Temuan ini menunjukkan bahwa faktor antropogenik lokal, seperti pembangunan permukiman di bantaran sungai, turut memperparah situasi. Namun, banyak ahli lingkungan berpendapat bahwa masalah ini tidak bisa dilihat secara terpisah dari konteks yang lebih luas: degradasi hutan akibat aktivitas pertambangan dan infrastruktur pendukungnya di seluruh pulau Halmahera.
Antara Iklim Ekstrem dan Kelalaian Tata Ruang
Banjir Halmahera Barat terjadi di tengah tren peningkatan frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global. Namun, bencana alam jarang terjadi dalam ruang hampa. Kapasitas alam untuk menyerap dan mengalirkan air hujan sangat bergantung pada kondisi tutupan lahan, vegetasi, dan tata kelola ruang.
Ketika hutan digunduli, tanah ditambang, dan sungai dipaksa berbelok demi pembangunan, maka sistem hidrologi alami pun runtuh. Dalam konteks inilah, banjir bukan lagi “bencana alam”, melainkan bencana akibat kebijakan yang gagal memprioritaskan keberlanjutan ekologis.