Siapa Indira Estianti Nurjadin? Sosok yang jadi Dalang Kenaikan Tarif Museum Nasional yang Kini Sepi Pengunjung

Siapa Indira Estianti Nurjadin? Sosok yang jadi Dalang Kenaikan Tarif Museum Nasional yang Kini Sepi Pengunjung

Indira-Instagram-

Siapa Indira Estianti Nurjadin? Sosok yang jadi Dalang Kenaikan Tarif Museum Nasional yang Kini Sepi Pengunjung
Kenaikan Tarif Museum Nasional ke Rp50.000 pada 2026: Investasi untuk Pengalaman Berkunjung yang Lebih Baik
Mulai Januari 2026, Museum Nasional Indonesia (MNI) resmi menaikkan tarif masuk menjadi Rp50.000 per orang. Kebijakan ini bukan sekadar penyesuaian harga, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas fasilitas, layanan, dan pengalaman edukatif bagi seluruh pengunjung. Langkah tersebut telah melalui proses kajian mendalam sejak pertengahan 2025 dan diputuskan setelah mempertimbangkan kesiapan infrastruktur museum.

Indira Estianti Nurjadin, Kepala Museum dan Cagar Budaya yang membawahi MNI, menjelaskan bahwa rencana kenaikan tarif sebenarnya sudah disiapkan sejak Agustus 2025. Namun, demi memastikan kenyamanan dan kualitas layanan yang optimal, penerapannya sengaja ditunda hingga awal 2026. “Kami tidak ingin menaikkan tarif tanpa memberikan nilai tambah nyata kepada masyarakat. Fasilitas harus benar-benar siap sebelum kebijakan ini diberlakukan,” ujar Indira dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/1/2026).



Fasilitas Baru yang Ramah Keluarga dan Pelajar
Salah satu transformasi signifikan yang dilakukan MNI adalah pemindahan pintu masuk utama ke Hall Majapahit—sebuah ruang publik baru seluas 1.500 meter persegi yang dilengkapi sistem pendingin udara. Ruang ini dirancang sebagai area tunggu yang nyaman bagi pengunjung sebelum memasuki area pameran inti. Tidak hanya itu, Hall Majapahit juga dapat dimanfaatkan oleh pendamping rombongan pelajar, keluarga, atau komunitas yang ingin berkumpul sebelum atau sesudah tur museum.

“Ruang ini bersifat non-tiket, artinya siapa pun bisa memanfaatkannya tanpa harus membayar. Ini bagian dari komitmen kami agar museum tetap menjadi ruang publik yang inklusif,” tambah Indira.

Selain itu, MNI juga melakukan revitalisasi tata pamer dengan pendekatan naratif modern yang lebih interaktif dan kontekstual. Pencahayaan, penempatan artefak, hingga panel informasi digital diperbarui agar pengunjung—terutama generasi muda—dapat memahami sejarah Indonesia secara lebih menyeluruh dan menyenangkan.


Tarif Sosial Tetap Diberlakukan untuk Kelompok Prioritas
Meski tarif umum naik, pengelola museum menegaskan bahwa akses edukasi tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, tarif khusus tetap berlaku bagi pelajar, mahasiswa, lansia, serta penerima bantuan sosial. Mereka cukup menunjukkan identitas resmi untuk mendapatkan harga tiket yang lebih terjangkau.

“Museum bukan hanya tempat menyimpan benda bersejarah, tapi juga pusat pembelajaran dan pelestarian identitas bangsa. Kami ingin memastikan bahwa siapa pun, terlepas dari latar belakang ekonominya, tetap bisa mengakses pengetahuan sejarah,” kata Indira.

Respons Publik: Antara Apresiasi dan Kekhawatiran
Tak semua kalangan menyambut hangat kenaikan tarif ini. Amilia Sara Suciati, seorang pengunjung asal Bandung yang kerap membawa anak-anaknya ke museum, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, angka Rp50.000 terasa cukup tinggi, terutama bagi keluarga dengan anggaran terbatas.

“Menurut saya itu mahal sih, jujur ya. Saya takutnya malah daya minat masyarakatnya jadi agak menurun,” ungkap Amilia. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara harga tiket dan kualitas layanan yang diberikan. “Kalau fasilitasnya benar-benar oke, mungkin masih bisa diterima. Tapi kalau cuma naik harga doang, itu yang bikin enggan balik lagi.”

Komunikasi Terbuka dan Evaluasi Berkelanjutan
Menyadari sensitivitas kebijakan ini, pihak pengelola MNI membuka saluran komunikasi dua arah dengan masyarakat. Masukan dari pengunjung—baik melalui media sosial, kotak saran di lokasi, maupun survei online—akan dikumpulkan dan menjadi bahan evaluasi berkala.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya