Podcast Ahok dan Denny Sumargo Dihapus YouTube, Bahas Stand-Up Pandji Pragiwaksono yang Kontroversial—Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ahok-Instagram-
Podcast Ahok dan Denny Sumargo Dihapus YouTube, Bahas Stand-Up Pandji Pragiwaksono yang Kontroversial—Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Dunia hiburan dan diskusi publik kembali diguncang setelah sebuah episode podcast populer antara Denny Sumargo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tiba-tiba menghilang dari platform YouTube. Podcast tersebut sempat menjadi sorotan lantaran membahas pertunjukan stand-up comedy kontroversial Pandji Pragiwaksono berjudul “Mens Rea”, yang kini tengah ramai diperbincangkan di berbagai lini media sosial.
Kabar penghapusan konten ini pertama kali mencuat melalui unggahan akun Twitter @murtadhaone1 pada 7 Januari 2026. Akun tersebut membagikan video berdurasi 43 detik yang berisi spoiler dari episode podcast “Curhat Bang” edisi spesial bersama Ahok. Dalam cuitannya, sang pengguna menulis:
"Breaking News, entah kenapa video podcast Denny Sumargo dengan Ahok ini tiba-tiba ditakedown YouTube."
Ahok Komentari “Mens Rea”: “Pandji Nekat Banget, Gua Pro!”
Sebelum dihapus, podcast tersebut memang menyentuh tema sensitif terkait pemerintahan dan penegakan hukum di Indonesia—topik utama dalam pertunjukan stand-up Pandji Pragiwaksono. Dalam cuplikan yang tersebar, Ahok tampak antusias memberikan tanggapan terhadap konten “Mens Rea” yang telah ditontonnya di Netflix.
"Tadi gua udah noton di Netflix, waduh gila nih Pandji nekat banget. Kalau gua pro sih," ujar Ahok dengan nada tegas, menegaskan dukungannya terhadap pandangan kritis yang disampaikan Pandji melalui komedi satirnya.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi luas di kalangan netizen, terutama mengingat reputasi Ahok sebagai sosok blak-blakan dan tak segan mengkritik sistem birokrasi maupun kebijakan pemerintah.
Misteri Penghapusan Konten: Apa Penyebabnya?
Meski belum ada penjelasan resmi dari YouTube, penghapusan mendadak ini memicu spekulasi luas di jagat maya. Denny Sumargo—yang akrab disapa Densu—melalui unggahan di media sosialnya, mengonfirmasi bahwa video tersebut memang ditakedown oleh platform karena melanggar pedoman komunitas (Community Guidelines).
"Maaf nih buat teman-teman yang ngedm mengenai podcastnya Pak Ahok kemarin yang akhirnya hilang dari beranda. Curhat Bang ke-takedown karena ada beberapa hal yang kita baca di community itu kayaknya bermasalah. Jadi kita coba rapihin lagi, kita coba upload nanti malam. Mungkin ada bahasanya yang musti di-sensor kali ya," jelas Densu dengan nada santun namun penuh penyesalan.
Reaksi Publik: Dari Kecaman Hingga Dukungan
Tak butuh waktu lama bagi publik untuk bersuara. Kolom komentar di berbagai unggahan terkait podcast tersebut dipenuhi beragam tanggapan, mulai dari kekecewaan hingga kritik tajam terhadap sistem sensor digital.
Akun Twitter @reydjati menulis:
"Soalnya Ahok mulutnya suka panas, par bajingan."
Sementara itu, @akbrwardhana menduga ada campur tangan pihak ketiga:
"Karena ada buzzer yang ngereport."
Ada pula yang menanggapi dengan nada sinis, seperti @hrtarmuji yang berkomentar:
"Wkwkwk gitu aja ditakedown."
Respons ini menunjukkan betapa sensitifnya topik kritik terhadap pemerintahan di ruang publik digital—terlebih saat melibatkan tokoh kontroversial seperti Ahok dan konten kritis ala Pandji Pragiwaksono.
Pandji Pragiwaksono dan “Mens Rea”: Komedi yang Menggugah Nurani
Pertunjukan stand-up “Mens Rea” memang sengaja dibuat oleh Pandji untuk memicu refleksi mendalam tentang hukum, keadilan, dan moralitas dalam sistem pemerintahan Indonesia. Judul “Mens Rea” sendiri diambil dari istilah hukum Latin yang berarti “niat jahat”—sebuah konsep krusial dalam menentukan pertanggungjawaban pidana.
Melalui narasi penuh satire, Pandji menyentil berbagai praktik birokrasi, inkonsistensi penegakan hukum, serta paradoks dalam kebijakan publik. Tak heran jika pertunjukan ini menuai pujian sekaligus kontroversi—terutama di tengah iklim kebebasan berekspresi yang semakin dibatasi.
Dukungan Ahok terhadap “Mens Rea” semakin memperkuat narasi bahwa kritik konstruktif melalui seni—termasuk komedi—bukanlah ancaman, melainkan cermin sehat bagi demokrasi.