Teks Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Memaknai Isra Miraj dari Dimensi Syariat dan Hakikat untuk Penguatan Iman Umat
masjid-pixabay-
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh, seorang hamba shalat, namun tidak dicatat baginya seperenam atau sepersepuluh shalatnya. Yang dicatat hanyalah bagian yang ia sadari dan hayati.”
(Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali)
Artinya, hakikat shalat—kehadiran jiwa, ketundukan hati, dan kesadaran akan keagungan Allah—adalah inti yang menentukan nilai ibadah kita. Tanpa itu, shalat hanyalah gerakan kosong yang tak menyentuh langit, apalagi hati Allah.
Relevansi Isra Miraj di Era Modern
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, ketidakpastian global, dan krisis spiritualitas, peringatan Isra Miraj bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah panggilan untuk kembali kepada esensi ibadah: shalat yang tidak hanya mengisi waktu, tetapi mengisi jiwa.
Para khatib dan dai masa kini memiliki tanggung jawat besar untuk menyampaikan makna Isra Miraj tidak hanya sebagai kisah lalu, tapi sebagai peta spiritual bagi umat yang tengah kehilangan arah. Shalat lima waktu bukan beban, melainkan peluang lima kali sehari untuk “naik ke langit”, bertemu dengan Sang Pencipta, dan kembali ke dunia dengan jiwa yang lebih bersih.
Penutup: Doa dan Harapan untuk Umat
Dengan memahami Isra Miraj secara utuh—dari aspek syariat dan hakikat—semoga kita tidak hanya menjadi Muslim yang rajin shalat, tetapi juga orang Mukmin yang benar-benar “naik” dalam kualitas ruhani. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita:
Khusyuk dalam shalat,
Keikhlasan dalam ibadah,
Kebahagiaan di dunia,
Dan keselamatan di akhirat.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Catatan Redaksi:
Artikel ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan khutbah, kajian, dan konten dakwah digital yang relevan dengan tema Isra Miraj 27 Rajab 1447 H. Dengan struktur SEO-friendly, penggunaan kata kunci seperti Isra Miraj 2026, khutbah Jumat Isra Miraj, makna shalat lima waktu, dan bulan Rajab, konten ini siap dibagikan di platform media sosial, website masjid, atau newsletter keagamaan.