Manohara Odelia Pinot Putus Hubungan dengan Sang Ibu Daisy Fajarina: Saya Tidak Kehilangan Kontak—Saya Memutus Kontak
Manohara-Instagram-
Manohara Odelia Pinot Putus Hubungan dengan Sang Ibu Daisy Fajarina: Saya Tidak Kehilangan Kontak—Saya Memutus Kontak
Dunia maya kembali digemparkan oleh pengakuan mengejutkan dari Manohara Odelia Pinot, model dan aktivis berdarah Indonesia-Amerika yang dulu dikenal lewat kisah dramatis pernikahannya dengan seorang pangeran Malaysia. Kali ini, bukan soal cinta atau perceraian yang jadi sorotan, melainkan hubungan rumitnya dengan sang ibunda, Daisy Fajarina.
Melalui unggahan Instagram Story-nya yang viral pada awal Januari 2026, Manohara merespons pertanyaan langsung dari seorang pengikut setianya. “Kak maaf kenapa lost contact sama mama? Sorry but I think kalian berdua dulu kayak dekat sekali,” tulis warganet tersebut, mengungkap rasa penasaran publik yang telah lama mengamati dinamika hubungan antara keduanya.
Namun, jawaban Manohara justru menghancurkan ilusi tersebut. “Saya tidak kehilangan kontak, saya memutus kontak,” tulisnya tegas, seolah menegaskan bahwa keputusannya bukan kecelakaan, melainkan sebuah tindakan sadar setelah bertahun-tahun menimbang.
Ilusi Kedekatan yang Dibangun untuk Citra
Lebih jauh, Manohara membuka tabir gelap di balik hubungan yang selama ini dipandang publik sebagai ikatan ibu-anak yang harmonis. “Kami sebenarnya tidak pernah benar-benar dekat, meskipun mungkin terlihat seperti itu di depan umum,” ungkapnya dengan nada penuh kekecewaan.
Ia menambahkan bahwa “mempertahankan penampilan kedekatan sangat penting baginya”—mengacu pada sang ibu—“dan itu adalah sesuatu yang kami diharapkan lakukan untuk membuatnya terlihat baik. Citra itu berfungsi sebagai bentuk kontrol.”
Pernyataan ini mengungkap sisi kelam dari hubungan keluarga yang selama ini sering ditampilkan sebagai contoh ikatan darah yang kuat. Bagi Manohara, kedekatan itu bukanlah ekspresi kasih sayang tulus, melainkan alat untuk mempertahankan citra publik sang ibu.
Trauma Masa Remaja: “Dipaksa Masuk Situasi Berbahaya demi Keuntungan Ibuku”
Model kelahiran 28 Februari 1992 ini tidak berhenti di situ. Ia membongkar pengalaman traumatis yang dialaminya sejak remaja, yang menurutnya berdampak luar biasa pada kesehatan mental dan emosionalnya hingga kini.
“Secara pribadi, saya tumbuh dengan penyiksaan emosional dan psikologis jangka panjang, dan kadang-kadang penyiksaan fisik,” ujarnya dengan keberanian luar biasa. “Saya berulang kali dimanipulasi dan dimanfaatkan.”
Salah satu momen paling menyakitkan, menurut Manohara, terjadi ketika ia masih remaja. Ia mengaku dipaksa masuk ke dalam situasi yang ‘terkenal dan berbahaya’—merujuk pada pernikahannya dengan Tengku Muhammad Fakhry dari Kelantan pada 2008—yang notabene menjadi sorotan media internasional karena dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Situasi itu bukanlah sesuatu yang saya pilih atau setujui. Itu dilakukan demi keuntungan dirinya (sang ibu). Dan hal itu menyebabkan kerusakan yang berkepanjangan dalam hidup saya,” katanya dengan suara lirih—meski hanya tertulis, namun terasa begitu personal.
Jalan Menuju Pembebasan Diri: Dari Takut hingga Berani Memutus
Bagi banyak korban hubungan toksik, memutus ikatan dengan keluarga—terutama orang tua—bukanlah keputusan mudah. Namun, bagi Manohara, ini adalah proses penyembuhan yang panjang dan penuh perjuangan.
“Memutuskan kontak tidak datang dari satu kesadaran tiba-tiba. Itu terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun,” jelasnya. “Seiring saya tumbuh dewasa, menjadi lebih mandiri, lebih berani... kontrolnya atasku tak berhasil lagi.”
Kalimat penutupnya begitu kuat: “Akhirnya, saya tidak lagi takut padanya.”
Pernyataan ini bukan hanya pengakuan, melainkan juga deklarasi kemerdekaan emosional. Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayangan dan tekanan, Manohara akhirnya menemukan suara dan kekuatannya sendiri.
Siapa Manohara Odelia Pinot? Dari Korban KDRT hingga Aktivis Hewan Liar
Manohara Odelia Pinot lahir di Jakarta pada 28 Februari 1992 dari ayah berkebangsaan Amerika Serikat, George Manz, dan ibu keturunan bangsawan Bugis, Daisy Fajarina. Ia menjadi sorotan nasional dan internasional pada 2009 ketika kabur dari istana di Malaysia setelah mengaku mengalami KDRT oleh suaminya, Tengku Muhammad Fakhry.
Kisah pelariannya menjadi simbol perlawanan terhadap kekerasan terhadap perempuan, meski tak sedikit pula yang meragukan versinya—sebuah beban yang harus ia tanggung selama bertahun-tahun.
Kini, di usia 33 tahun, Manohara telah mundur dari dunia hiburan dan memilih jalan yang lebih tenang: sebagai aktivis perlindungan hewan liar. Ia kerap membagikan momen penyelamatan satwa dan kampanye lingkungan di media sosialnya, menunjukkan sisi baru yang jauh dari gemerlap sorotan kamera.
Profil Daisy Fajarina: Bangsawan Bugis yang Kontroversial
Sementara itu, sosok Daisy Fajarina memang tak pernah lepas dari sorotan sejak nama Manohara mencuat. Perempuan kelahiran Sulawesi Selatan, 17 Desember 1965 ini dikenal sebagai sosok yang vokal membela putrinya saat kasus KDRT merebak.
Namun di balik citra “ibu pejuang”, kini muncul narasi berbeda dari sang anak sendiri.
Daisy lahir dari keluarga bangsawan Bugis. Ibunya, Andi Nurul, berasal dari Cakke Enrekang, sementara ayahnya, H.A. Mustamin, adalah putra seorang saudagar Bugis terkemuka. Ia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh adat seperti Andi Sose dan Opu Tosaleu—menunjukkan betapa dalam akar budaya dan darah bangsawan yang mengalir dalam dirinya.
Daisy menempuh pendidikan di Jakarta dan lulus dari SMA Perguruan Cikini. Sebelum terjun ke dunia hiburan dan media, ia sempat bekerja di katering internasional “Bali Cuisine” di Hong Kong. Hobi memasaknya membawanya belajar kuliner di Swiss dan Prancis—menunjukkan sisi cosmopolitan yang kontras dengan latar belakang aristokratnya.
Namun, kini publik mulai mempertanyakan: apakah citra yang dibangun Daisy selama ini—sebagai ibu penuh kasih, bangsawan berpendidikan, dan pejuang—hanyalah topeng untuk menyembunyikan dinamika keluarga yang jauh lebih rumit?
Respons Publik dan Tren Media Sosial
Unggahan Manohara langsung memicu gelombang reaksi di media sosial. Di Twitter (X), tagar #ManoharaBeraniJujur dan #PutusKontakUntukSembuh sempat menjadi trending. Banyak netizen menyatakan dukungan, menyebut keberaniannya sebagai bentuk penyembuhan yang perlu dicontoh oleh korban hubungan toksik lainnya.
“Kadang memutus hubungan bukan tanda tidak sayang, tapi tanda cinta pada diri sendiri,” tulis seorang pengguna TikTok yang videonya telah ditonton lebih dari 2 juta kali.