Manohara Tegaskan Dirinya Korban Kekerasan, Bukan Mantan Istri Pangeran Kelantan: Bahasa Itu Penting, Karena Bahasa Membentuk Realitas
Manohara--
Bagi Manohara, penggunaan bahasa yang tepat bukan soal kebenaran semantik semata, tapi soal keadilan. "Para korban tidak membutuhkan sebutan yang menyiratkan adanya pilihan, padahal kenyataannya tidak ada pilihan sama sekali. Inilah mengapa penggunaan bahasa itu penting," lanjutnya.
Respons Publik: Dukungan Luas dari Netizen dan Aktivis
Unggahan Manohara langsung mendapat gelombang dukungan luas di media sosial. Banyak netizen Indonesia, terutama dari kalangan aktivis perempuan dan pendukung hak anak, menyatakan solidaritas. Di Twitter, tagar #DukungManohara dan #BahasaItuPenting sempat menjadi trending topic nasional sepanjang Rabu pagi.
"Akhirnya ada yang berani bicara blak-blakan soal bagaimana bahasa bisa melukai korban dua kali," tulis seorang pengguna Twitter dengan akun @advokatperempuan. Sementara itu, seorang psikolog anak, Dr. Rina Wijaya, menulis di Instagram Story-nya: "Trauma kekerasan seksual pada anak tidak bisa disamakan dengan putus cinta. Ini kejahatan. Dan korban berhak atas narasi yang akurat."
Konteks Hukum: Relevansi dengan KUHP Baru 2026
Momen pernyataan Manohara juga bertepatan dengan berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru—yang mulai efektif pada 1 Januari 2026. KUHP baru ini memperkuat perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, termasuk dengan memperjelas definisi persetujuan dan memperberat sanksi terhadap pelaku kekerasan terhadap anak di bawah umur.
Pasal 451 dan 452 KUHP baru, misalnya, secara eksplisit menyatakan bahwa hubungan seksual dengan anak di bawah 16 tahun—tanpa memandang status pernikahan atau kedekatan emosional—masuk kategori tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak. Hal ini menjadi landasan hukum penting yang mendukung narasi Manohara: bahwa apa yang dialaminya bukan “pernikahan bermasalah”, melainkan kejahatan.
Manohara Kini: Bangkit dari Trauma, Menemukan Cinta yang Sehat
Di balik keberaniannya berbicara, Manohara kini diketahui tengah menjalani hubungan yang sehat dengan seorang pria asal Denmark bernama Kristian Hansen. Dalam beberapa wawancara sebelumnya, ia sempat menyebut bahwa proses penyembuhan dari trauma memakan waktu bertahun-tahun—dan bahwa cinta yang sejati adalah yang didasarkan pada rasa aman, saling menghormati, dan tanpa kekerasan.
Keberaniannya kali ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk ribuan korban lain yang masih bungkam karena takut tidak dipercaya atau justru disalahkan.
Baca juga: 8 Gugatan Langsung Menyerbu Mahkamah Konstitusi! Inilah KUHP Baru Resmi Berlaku 2 Januari 2026
Mengapa Ini Penting bagi Kita Semua?
Kisah Manohara mengingatkan kita bahwa narasi publik—baik di media, media sosial, maupun percakapan sehari-hari—memiliki kekuatan luar biasa. Kata-kata bisa menjadi alat pemulihan, tapi juga bisa menjadi senjata yang melukai. Dengan menolak label “mantan istri” dan menegaskan posisinya sebagai korban kekerasan, Manohara tidak hanya membela dirinya sendiri, tapi juga membuka ruang bagi perubahan budaya: di mana korban tidak lagi dipaksa memakai topeng “mantan kekasih” hanya agar kisah mereka terdengar lebih “sopan”.
Di era di mana kesadaran terhadap kekerasan berbasis gender terus tumbuh, suara Manohara adalah pengingat penting: bahwa keadilan dimulai dari cara kita bercerita.