Tompi Tegur Humor Pandji Pragiwaksono di Mens Rea: Menertawakan Fisik Bukan Kecerdasan, Tapi Kemalasan Berpikir

Tompi Tegur Humor Pandji Pragiwaksono di Mens Rea: Menertawakan Fisik Bukan Kecerdasan, Tapi Kemalasan Berpikir

Tompi-Instagram-

Baca juga: Firman Nugraha Anaknya Siapa? Inilah Biodata Pemain Liga 4 Asal Tulungagung, Jadi Korban Tendangan Brutal Muhammad Hilmi Gimnastiar, Bukan Orang Biasa?

Dukungan dari Komunitas Medis dan Aktivis Disabilitas
Respons terhadap pernyataan Tompi juga datang dari komunitas medis dan aktivis difabel. Banyak yang menyambut baik penjelasan ilmiahnya, karena membantu menormalisasi kondisi medis yang sering disalahpahami. Beberapa organisasi disabilitas bahkan menyebut momen ini sebagai pengingat pentingnya inklusivitas dalam budaya populer, termasuk dunia hiburan.



“Saat kita tertawa pada kondisi tubuh seseorang, kita tanpa sadar memperkuat stigma. Padahal, yang perlu dikritik adalah kebijakan, bukan penampilan,” kata Lina Wijaya, aktivis hak disabilitas, dalam pernyataan tertulisnya.

Penutup: Antara Tawa, Rasa Hormat, dan Tanggung Jawab Sosial
Kasus ini menjadi cerminan kompleksitas ekspresi di era digital: di satu sisi, kebebasan berpendapat dan berhumor adalah fondasi demokrasi; di sisi lain, tanggung jawab sosial dan kepekaan terhadap keragaman fisik dan latar belakang individu tak boleh dilupakan.

Tompi, dengan latar belakang ganda sebagai dokter dan seniman, berhasil mengangkat isu ini dengan cara yang informatif, proporsional, dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Ia tak menyerang, tapi mengingatkan. Tak menyalahkan, tapi mengedukasi.


Dan di tengah arus informasi yang serba cepat, mungkin inilah saat yang tepat untuk bertanya: Apa jenis humor yang ingin kita wariskan pada generasi mendatang? Humor yang membangun, atau humor yang melukai—meski disampaikan dengan senyum?

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya