9 Episode Doraemon Paling Mengharukan yang Bikin Penonton Nangis Tersedu-sedu—Sekaligus Mengajarkan Makna Persahabatan, Keluarga, dan Kehidupan
Doraemon-Instagram-
9 Episode Doraemon Paling Mengharukan yang Bikin Penonton Nangis Tersedu-sedu—Sekaligus Mengajarkan Makna Persahabatan, Keluarga, dan Kehidupan
Belakangan ini, media sosial di Indonesia sedang diramaikan oleh gelombang nostalgia dan kekhawatiran para penggemar setia Doraemon. Sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, serial ikonik asal Jepang tersebut mendadak hilang dari jadwal siaran RCTI di platform digital resminya. Hilangnya Doraemon dari layar kaca—yang selama hampir empat dekade menjadi teman setia masa kecil hingga dewasa banyak orang—memicu gelombang emosional di kalangan penonton lintas generasi.
Bukan tanpa alasan. Doraemon bukan sekadar kartun hiburan. Ia adalah kanvas emosi yang menyampaikan pesan mendalam tentang cinta keluarga, persahabatan sejati, penyesalan, pertumbuhan, dan bahkan makna keberadaan. Lewat berbagai episode pendeknya yang sarat makna, Doraemon berhasil menyentuh relung hati terdalam penonton—baik anak-anak maupun orang dewasa.
Berikut ini adalah tujuh episode Doraemon paling mengharukan yang tak hanya bikin mata berkaca-kaca, tapi juga meninggalkan jejak moral yang mendalam. Simak ulasan lengkapnya!
1. “The Heartfelt Rebirth of Doraemon” – Saat Robot Pun Takut Kehilangan Kenangan
Episode 102 ini menampilkan sisi paling rentan Doraemon yang jarang terlihat. Biasanya selalu hadir sebagai penolong andal Nobita, kali ini justru Doraemon yang goyah. Ia merasa tidak cukup baik setelah bertemu Dopaemon—robot versi “lebih sempurna” yang tak punya kekurangan.
Rasa tidak aman itu dimanfaatkan oleh seorang ilmuwan eksentrik yang menculik Doraemon dengan niat “meng-upgrade” tubuhnya agar menjadi robot ideal. Namun, dalam momen paling menyentuh, Doraemon menolak tawaran tersebut. Ia lebih memilih tetap menjadi dirinya—meski “cacat”—karena tak ingin kehilangan kenangan indah bersama Nobita.
Episode ini mengajarkan bahwa kekurangan justru yang membuat kita unik, dan bahwa kasih sayang lebih berharga daripada kesempurnaan teknis.
2. “A Memory of Grandma” – Penyesalan yang Datang Terlambat, Tapi Masih Bisa Ditebus
Episode 43 menghadirkan sisi sentimental Nobita yang jarang terlihat. Semua berawal ketika ia menemukan boneka beruang lamanya, Kuma—hadiah dari neneknya yang telah tiada. Kenangan masa kecil langsung menghujam, dan dorongan rindu membawanya kembali ke masa lalu menggunakan mesin waktu Doraemon.
Di sana, Nobita menyaksikan dirinya yang dulu bersikap egois: merusak Kuma karena kesal tak bisa beli petasan, padahal sang nenek rela menabung untuk membelikannya. Dengan hati penuh penyesalan, Nobita akhirnya menghadap sang nenek, mengungkap identitasnya sebagai cucu dari masa depan, dan meminta maaf secara tulus.
Episode ini menjadi pengingat universal: kasih sayang keluarga adalah hal yang tak ternilai, dan tak ada kata terlambat untuk meminta maaf—bahkan kepada mereka yang sudah tiada.
3. “The Great Escape from Arigato Prison” – Persahabatan yang Tak Pernah Menyerah
Dalam episode 307, Nobita secara iseng menggunakan alat ajaib yang membuat dunia jadi tempat tanpa kritik atau teguran. Hasilnya? Ironis. Doraemon justru ditangkap dan dipenjara—karena pernah menegur Nobita di masa lalu!
Di penjara Arigato, Doraemon bergabung dengan sesama robot narapidana dan merancang pelarian lewat terowongan bawah tanah yang digali selama 30 tahun. Sementara itu, Nobita yang merasa bersalah, bekerja sama dengan Dorami dan teman-temannya untuk menyusup ke penjara menggunakan alat canggih.
Adegan pelarian penuh ketegangan ini diakhiri dengan kemenangan persahabatan. Episode ini menunjukkan bahwa kesalahan kecil bisa berdampak besar, tapi pertobatan dan upaya memperbaiki kesalahan layak dihargai.
4. “Shizuka and the Ancient Cherry Blossom Tree” – Ketika Alam Juga Punya Kenangan
Episode 211 adalah salah satu yang paling puitis dalam seluruh seri Doraemon. Shizuka bersedih karena pohon sakura tua di halaman sekolah—tempat ia sering bermain dan bermimpi—akan ditebang demi proyek infrastruktur.
Bersama Doraemon dan Nobita, Shizuka berusaha menyelamatkan pohon itu. Mereka mencoba memindahkannya ke Gunung Taika, namun pohon tersebut “menolak” dan kembali ke akarnya. Akhirnya, Doraemon memanggil roh pohon, yang menjelaskan bahwa kebahagiaan pohon bukan di tempat yang indah, tapi di tempat di mana ia tumbuh dan dicintai.
Episode ini bukan hanya tentang lingkungan, tapi juga metafora tentang akar, identitas, dan pentingnya menjaga warisan emosional.
5. “The Day Nobita Was Born” – Cinta Orang Tua yang Tak Pernah Berubah
Di episode 81, Nobita merasa tidak dicintai karena ditegur ayah dan ibunya di hari ulang tahunnya. Ia pun kabur dari rumah, mengharapkan pengertian dari teman-temannya—namun justru merasa semakin kesepian.
Doraemon lalu membawanya kembali ke hari kelahirannya. Di sana, Nobita menyaksikan betapa bahagianya orang tuanya menyambut kelahirannya, dan betapa mereka rela begadang, khawatir, dan mencintainya tanpa syarat sejak detik pertama.
Adegan ini menjadi salah satu yang paling menyayat hati—dan mengingatkan kita semua bahwa orang tua mungkin menegur, tapi cinta mereka tak pernah berkurang.
6. “A Long Day for Doraemon” – Ketika Musuh Pun Bisa Berubah Hati
Episode 185 menampilkan plot yang penuh drama: sebuah alat pertukaran tubuh membuat Doraemon terjebak dalam tubuh Gencha—penjahat kejam yang dibenci semua orang. Sementara Gencha justru mengalami kehidupan penuh kasih sayang dalam tubuh Doraemon.
Doraemon (dalam tubuh Gencha) dikejar polisi, dicurigai, bahkan diserang. Tapi Nobita tetap percaya padanya. Di sisi lain, Gencha—yang merasakan hangatnya persahabatan dan kepercayaan—perlahan berubah.
Episode ini menunjukkan bahwa orang jahat bukan lahir jahat, dan bahwa kasih sayang bisa menjadi kekuatan transformatif terbesar di dunia.
7. “Nobita, Goodbye! Doraemon Returns to the Future” – Perpisahan yang Mengajarkan Kedewasaan
Episode 62 ini mungkin adalah yang paling ikonik dan paling menyakitkan. Doraemon harus kembali ke masa depan karena tugasnya dianggap selesai. Nobita hancur, menolak kenyataan, dan berusaha menghindari perpisahan.