Kenapa Doraemon Tak Lagi Tayang di RCTI Mulai 2026? Benarkah Resmi Tamat Usai 36 Tahun?
Doraemon-Instagram-
Kenapa Doraemon Tak Lagi Tayang di RCTI Mulai 2026? Benarkah Resmi Tamat Usai 36 Tahun? Netizen Haru, Nostalgia Masa Kecil Kembali Menghampiri
Kabar mengejutkan mengguncang para penggemar kartun legendaris Doraemon. Mulai awal tahun 2026, serial animasi asal Jepang yang telah menjadi bagian dari keseharian generasi 90-an hingga 2000-an ini resmi tidak lagi ditayangkan di RCTI, stasiun televisi swasta yang selama lebih dari tiga dekade menjadikan Doraemon sebagai salah satu program andalan di jam tayang anak-anak.
Kabar ini langsung menjadi trending topik di media sosial, terutama di Twitter dan Instagram. Banyak netizen yang mengekspresikan rasa kehilangan, haru, dan rindu terhadap momen-momen kecil mereka yang tak terpisahkan dari tokoh kucing robot berwarna biru itu. Bahkan, kata kunci “#DoraemonTidakTayangLagi” dan “#SelamatJalanDoraemon” sempat menduduki puncak daftar tren selama dua hari berturut-turut.
Akhir dari Era Emas Tayangan Anak di RCTI
Menurut unggahan akun Instagram populer @ahquote pada 5 Januari 2026, “Anime Doraemon yang selama lebih dari tiga dekade menjadi program unggulan RCTI resmi mengakhiri penayangannya di stasiun televisi tersebut mulai tahun 2026.”
Serial ini pertama kali hadir di layar kaca Indonesia melalui RCTI pada awal 1990-an, hampir bersamaan dengan penerbitan komiknya oleh Elex Media Komputindo. Di ranah distribusi televisi, hak siar awal dipegang oleh PT Hikmad & Chusen, lalu beralih ke ADK Indonesia (sebelumnya dikenal sebagai PT Perdana IMMG Indonesia) dan Animation International Indonesia, yang hingga kini masih memegang lisensi resmi Doraemon di Tanah Air.
Meski begitu, hingga berita ini diturunkan, pihak RCTI belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan pasti di balik penghentian penayangan Doraemon. Namun, berbagai spekulasi bermunculan, terutama terkait strategi perubahan konten dan restrukturisasi program siaran stasiun televisi tersebut di tengah persaingan ketat industri hiburan digital.
Kenangan yang Tak Terlupakan: Dari Nobita hingga Kotak Ajaib
Bagi jutaan penonton di Indonesia, Doraemon bukan sekadar kartun. Ia adalah sahabat masa kecil, guru tak langsung tentang persahabatan, tanggung jawab, dan arti mimpi. Serial yang diciptakan oleh Fujiko F. Fujio ini pertama kali terbit dalam bentuk manga pada tahun 1969, lalu diadaptasi ke layar lebar dan televisi sejak 1973.
Kisahnya mengikuti Nobita Nobi, seorang anak sekolah dasar yang pemalas, sering di-bully, dan selalu mendapat nilai buruk. Namun, hidupnya berubah ketika Doraemon, kucing robot dari masa depan, datang membawa kotak ajaib penuh gadget futuristik—dari Anywhere Door hingga Time Machine—untuk membantu Nobita mengatasi masalah sehari-hari, sekaligus mencegah masa depan kelam keluarganya.
Tokoh-tokoh seperti Shizuka, Gian, Suneo, dan tentu saja Doraemon sendiri, telah menjadi ikon budaya pop yang melampaui batas generasi. Bahkan, kini banyak orang tua yang dulunya menonton Doraemon bersama kakek-nenek atau orang tua mereka, kini menayangkan ulang episode-episode tersebut kepada anak-anak mereka.
Respons Emosional Netizen: “Dari Bocil Sampai Punya Bocil, Tetap Cinta Doraemon”
Di tengah kabar penghentian penayangan, unggahan-unggahan bernuansa nostalgia membanjiri media sosial. Salah satu komentar yang viral di Instagram menyebutkan:
“Terima kasih, film kartun favoritku. Jadi ingat masa kecilku. Dari aku jaman bocil sampe aku udah punya bocil, aku tetap suka filmnya.”
Ungkapan serupa juga terlihat di Twitter, dengan tagar seperti #TerimaKasihDoraemon dan #RCTIJanganGantiDoraemon yang di-retweet ribuan kali. Banyak warganet mengaku merasa kehilangan rutinitas harian mereka—menonton Doraemon selepas pulang sekolah atau sebelum jam makan malam.
Beberapa bahkan mengunggah video singkat momen mereka menonton Doraemon bersama anak-anak, dengan latar suara ikonik “Dora Doraemon~” yang langsung memicu flashback emosional bagi jutaan orang.
Apa Penyebab Doraemon Tidak Tayang Lagi di RCTI?
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari RCTI, para pengamat industri media menduga bahwa keputusan ini berkaitan dengan pergeseran strategi konten stasiun televisi di era digital. Sejak beberapa tahun terakhir, RCTI—seperti stasiun TV lainnya—menghadapi penurunan signifikan dalam rating siaran anak-anak, seiring meningkatnya penggunaan platform streaming seperti Disney+, Netflix, Viu, dan YouTube Kids.
Selain itu, biaya lisensi konten animasi internasional juga dikabarkan semakin mahal, sementara pendapatan iklan di segmen tayangan anak cenderung stagnan. Banyak stasiun TV kini lebih memilih menayangkan konten lokal berbiaya rendah, atau fokus pada program hiburan dewasa yang memiliki daya tarik komersial lebih tinggi—seperti Indonesian Idol, yang malam ini (6 Januari 2026) memasuki babak eliminasi.
Namun, perlu dicatat bahwa penghentian penayangan di RCTI bukan berarti Doraemon hilang dari Indonesia. Serial ini masih tersedia secara legal di berbagai platform digital, termasuk VIU, Bilibili, dan aplikasi resmi Doraemon dari ADK. Bahkan, film-film layar lebarnya tetap tayang di bioskop setiap tahun.
Dampak Sosial dan Budaya dari Kepergian Doraemon di TV Konvensional
Keputusan RCTI untuk tidak lagi menayangkan Doraemon menandai berakhirnya satu era dalam sejarah tayangan anak di televisi Indonesia. Bagi banyak orang, ini bukan hanya soal hiburan, melainkan kehilangan simbol persahabatan, imajinasi, dan nilai moral sederhana yang dibawa oleh setiap episodenya.
Psikolog anak, Dr. Mira Sari, mengatakan bahwa serial seperti Doraemon memiliki peran penting dalam membentuk empati dan kreativitas anak-anak. “Karakter Doraemon yang penuh kasih dan sabar mengajarkan anak-anak tentang pentingnya membantu sesama, meski dengan keterbatasan,” ujarnya dalam wawancara singkat via Zoom.
Sementara itu, komunitas penggemar Doraemon di Indonesia, seperti Doraemon Indonesia Community (DIC), telah menginisiasi kampanye daring untuk mendorong stasiun TV lain membeli hak siar atau bahkan mengajak masyarakat beralih ke platform digital yang lebih ramah konten anak.
Baca juga: Siapa Orang Terkaya Indonesia di Awal Tahun 2026 dengan Total Kekayaan Mencapai Rp754,17 Triliun?