Pofil Tampang Pandji Pragiwaksono Komika dan Mantan Timses Anies Baswedan yang Kini Viral Usai Acara Mens Rea di Netflix

Pofil Tampang Pandji Pragiwaksono Komika dan Mantan Timses Anies Baswedan yang Kini Viral Usai Acara Mens Rea di Netflix

Panji-Instagram-

Pofil Tampang Pandji Pragiwaksono Komika dan Mantan Timses Anies Baswedan yang Kini Viral Usai Acara Mens Rea di Netflix
Di tengah hiruk-pikuk dunia hiburan yang kerap kali menjauh dari isu serius, Pandji Pragiwaksono tampil beda. Komika senior sekaligus sutradara dan penulis ini kembali membuktikan bahwa komedi bukan sekadar tawa, melainkan juga alat kritik sosial yang tajam. Pertunjukan stand-up comedy terbarunya, Mens Rea, kini menjadi buah bibir publik—bukan karena sekadar lucu, melainkan karena menyentuh akar persoalan demokrasi, peran rakyat, dan absurditas sistem hukum di Indonesia.

Tak hanya menghibur, Mens Rea—istilah Latin yang secara hukum berarti “niat jahat” atau “mens rea” dalam konteks pertanggungjawaban pidana—menjadi metafora cerdas untuk menggambarkan paradoks dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lewat candaan yang disusun apik, Pandji mengajak penonton untuk tidak hanya tertawa, tetapi juga merenung: siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kondisi politik dan hukum di Tanah Air?



Dari Panggung Lokal Hingga Pentas Global
Antusiasme terhadap Mens Rea terus mengalir, bahkan menyeberang batas negara. Melalui unggahan di akun Threads-nya, Pandji mengungkapkan kebanggaannya bahwa pertunjukan ini telah digelar tidak hanya di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga di Jepang. “Mens Rea hadir World Wide,” tulisnya, menandai bahwa pesan universal tentang partisipasi demokrasi dan akuntabilitas publik ternyata relevan di berbagai latar budaya.

Respons global ini membuktikan bahwa humor satir Pandji—yang menggabungkan kecerdasan verbal, kepekaan sosial, dan keberanian menyentuh topik sensitif—mampu menembus tembok bahasa dan perbedaan sistem politik. Di era pasca-kebenaran, di mana informasi sering dikaburkan dan rakyat terpecah, komedi justru menjadi medium yang mampu menyatukan sekaligus mengkritik.

Sindiran Politik: Untuk Pejabat atau Rakyat?
Salah satu sorotan utama yang memicu perdebatan publik adalah asumsi bahwa Mens Rea sarat dengan sindiran terhadap pejabat atau elit kekuasaan. Memang, beberapa leluconnya menyentuh isu korupsi, inkonsistensi kebijakan, dan ketidakadilan struktural—hal yang lazim menjadi sasaran satir komedi politik. Namun, Pandji justru mengejutkan banyak pihak dengan klarifikasinya.


Dalam sebuah potongan video viral dari kanal YouTube Suara Anti Korupsi, Pandji dengan tegas menyatakan: “Yang saya sindir bukan pejabatnya—tapi rakyatnya sendiri.”

Pernyataan ini sontak mengguncang asumsi publik. Banyak yang mengira Mens Rea adalah bentuk protes terhadap penguasa, tetapi justru Pandji membalik narasi: rakyatlah yang perlu bercermin.

Rakyat Bukan Penonton Pasif, Tapi Arsitek Demokrasi
Menurut Pandji, selama ini masyarakat Indonesia terlalu nyaman berperan sebagai “penonton politik.” Mereka mengeluh soal pemimpin korup, undang-undang yang timpang, atau kinerja legislatif yang buruk—namun lupa bahwa semua itu bermula dari pilihan mereka sendiri.

“Wakil rakyat itu datang dari rakyat. Mereka dipilih oleh rakyat. Jadi, kalau kita ingin pemimpin yang lebih baik, kita harus meningkatkan kualitas kesadaran politik kita sendiri,” tegas Pandji.

Lewat Mens Rea, ia tidak menggurui atau menyudutkan, melainkan mengajak penonton untuk melihat ke dalam, bukan hanya menyalahkan ke luar. Ini adalah bentuk tanggung jawab intelektual yang jarang ditemukan dalam dunia hiburan—apalagi dalam stand-up comedy yang kerap dianggap ringan.

Komedi yang Inklusif: Dari yang Paham Politik hingga yang Hanya Mencari Tawa
Salah satu kekuatan Mens Rea adalah kemampuannya menjangkau berbagai lapisan penonton. Pandji sadar bahwa tidak semua orang datang ke pertunjukannya dengan bekal pengetahuan politik yang sama. Bagi yang sudah melek isu, leluconnya menjadi semacam inside joke yang memperkuat kritik. Namun bagi yang belum paham, materinya tetap lucu dan mengalir secara naratif.

“Saya tidak mau penonton merasa dihakimi. Saya ingin mereka pergi dari pertunjukan dengan satu pertanyaan: ‘Apa peranku dalam semua ini?’” ujarnya.

Inilah yang membuat Mens Rea bukan sekadar pertunjukan komedi, melainkan pengalaman reflektif. Di tengah polarisasi media sosial dan kejenuhan terhadap narasi politik yang hitam-putih, Pandji menawarkan jalan tengah: humor yang mempersatukan, bukan memecah belah.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya