Sinema Laga Klasik ANTV Tayang 5-11 Januari 2025

Sinema Laga Klasik ANTV Tayang 5-11 Januari 2025

ANTV -Instagram-

Sinema Laga Klasik ANTV Tayang 5-11 Januari 2025

Sinema Laga Klasik Indonesia Kembali Hadir: Jadwal Tayang Lengkap 5–11 Januari 2026 di Layar Kaca. Pecinta film Tanah Air, bersiaplah untuk bernostalgia! Mulai pekan ini, sejumlah sinema laga klasik Indonesia yang melegenda akan kembali menyapa penonton lewat layar kaca. Dalam rangka mengenang kejayaan perfilman nasional era 1970–1990-an, stasiun televisi nasional menghadirkan program khusus berjudul “Sinema Laga Klasik” yang akan tayang setiap malam mulai 5 hingga 1 h Januari 2026.



Deretan judul ikonik seperti Jaka Sembung, Si Buta Lawan Jaka Sembung, hingga Malin Kundang akan tampil kembali dengan kualitas gambar yang diperbarui, membawa penonton melayang ke masa keemasan perfilman populer Indonesia. Tak hanya menghibur, penayangan ulang ini juga menjadi momentum edukatif bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya sinematik lokal yang kaya akan nilai heroisme, mitos, dan tradisi.

Senin, 5 Januari 2026 – “Sri Rawing”: Awal Petualangan Epik di Nusantara Kuno
Pekan ini dibuka dengan Sri Rawing, film laga epik yang mengisahkan perjalanan seorang ksatria muda di tengah konflik kerajaan dan kekuatan gaib. Diproduksi pada awal dekade 1980-an, film ini menampilkan koreografi silat khas Indonesia yang memadukan unsur pencak silat dengan narasi mistis. Meski minim efek visual, Sri Rawing dikenal kuat dalam membangun atmosfer dunia fiksi Nusantara yang autentik.

Film ini sempat menjadi fenomena di masanya, terutama karena kostum dan setting yang terinspirasi dari naskah kuno Jawa dan Sunda. Penayangannya kembali diharapkan mampu membangkitkan minat terhadap adaptasi cerita rakyat dalam format sinematik modern.


Selasa, 6 Januari 2026 – “Jaka Tuak”: Kelucuan dan Keberanian dalam Satu Nafas
Di hari kedua, penonton akan disuguhi Jaka Tuak, sebuah film laga komedi yang dibintangi aktor legendaris Barry Prima. Dikenal sebagai “Indiana Jones-nya Indonesia”, tokoh Jaka Tuak memadukan keberanian, akal cerdik, dan sedikit kelucuan dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Film ini tak hanya mengandalkan aksi, namun juga menyisipkan kritik sosial ringan terhadap korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan—tema yang hingga kini masih relevan. Kehadiran Jaka Tuak pada Selasa malam diyakini akan mengundang tawa sekaligus mengingatkan penonton pada kepiawaian perfilman lokal dalam menyajikan hiburan bernuansa lokal.

Rabu, 7 Januari 2026 – “Pendekar Jagad Kelana”: Laga Spiritual di Tengah Rimba Nusantara
Rabu malam menghadirkan Pendekar Jagad Kelana, film yang lebih bernuansa filosofis dibanding sekadar laga. Tokoh utamanya, seorang pendekar yang mengembara demi mencari makna sejati kehidupan, sering dianggap sebagai metafora dari pencarian jati diri bangsa di tengah modernisasi.

Dipenuhi dialog puitis dan pertarungan yang sarat makna simbolis, film ini menarik perhatian karena menggabungkan unsur spiritual Jawa dengan aksi silat. Penayangan ulangnya menjadi ajang apresiasi terhadap kedalaman narasi yang jarang ditemui dalam film laga kontemporer.

Kamis, 8 Januari 2026 – “Jin Gulunggung”: Ketika Dunia Gaib Bertemu Dunia Nyata
Nuansa horor-fantasi menyusup dalam Jin Gulunggung, film yang memadukan laga dengan elemen mistis khas Nusantara. Berkisah tentang seorang pejuang yang harus melawan jin jahat yang mengganggu ketenteraman desa, film ini mengeksplorasi takhayul lokal dengan kemasan sinematik yang menarik.

Meski dianggap sebagai film “kelas B” pada masanya, Jin Gulunggung kini justru dipandang sebagai karya kultus yang merefleksikan kepercayaan rakyat terhadap dunia gaib. Tayangannya di Kamis malam akan menjadi pengingat bahwa horor Indonesia tak melulu tentang hantu, tapi juga pertarungan moral dan keberanian.

Jumat, 9 Januari 2026 – “Jaka Sembung”: Pahlawan Rakyat yang Tak Pernah Mati
Tak lengkap rasanya membahas film laga klasik tanpa Jaka Sembung. Film yang dibintangi Barry Prima ini menjadi ikon abadi perfilman Indonesia. Dikenal dengan jubah putihnya dan senjata keris sakti, Jaka Sembung melambangkan perlawanan rakyat kecil terhadap penjajah dan tirani.

Penayangan ulang pada Jumat malam diprediksi akan viral di media sosial, terutama di kalangan Gen Z yang kerap menjadikan adegan-adegan kultusnya sebagai meme atau konten TikTok. Bahkan, tagar #JakaSembungComeback sempat muncul di Twitter menjelang penayangan, menunjukkan betapa besar rasa cinta publik terhadap tokoh fiksi satu ini.

Sabtu, 10 Januari 2026 – “Si Buta Lawan Jaka Sembung”: Pertarungan Dua Legenda
Malam Sabtu menjadi panggung epik: Si Buta Lawan Jaka Sembung. Ini adalah salah satu kolaborasi paling ditunggu dalam sejarah sinema laga Indonesia—dua pahlawan fiksi dari dua seri berbeda akhirnya bertemu dalam satu layar.

Si Buta dari Gunung Iblis, tokoh ciptaan Ganes TH yang dikenal lewat kemampuan indra keenamnya, berhadapan dengan Jaka Sembung yang mengandalkan ilmu kebal dan keris sakti. Pertarungan bukan hanya fisik, tapi juga ideologi: antara balas dendam dan keadilan.

Film ini menjadi simbol keberanian sineas Indonesia dalam berinovasi, jauh sebelum konsep crossover menjadi tren global. Penonton muda diharapkan bisa melihat betapa kaya dan visionernya kreator lokal tempo dulu.

Minggu, 11 Januari 2026 – “Malin Kundang”: Tragedi Moral yang Abadi
Minggu malam menutup pekan nostalgia ini dengan Malin Kundang, adaptasi legenda Minangkabau yang sarat pelajaran moral. Dikemas dalam format film laga dengan sentuhan drama keluarga, kisah anak durhaka yang berubah jadi batu ini terus relevan sebagai pengingat pentingnya menghormati orang tua.

Versi film ini, yang tayang perdana pada 1970-an, dianggap paling otentik karena lokasi syuting yang diambil langsung di Pantai Air Manis, Padang—tempat asal legenda tersebut. Tayangannya menjadi penutup yang reflektif, mengajak penonton merenung usai seminggu penuh disuguhi aksi dan petualangan.

Mengapa Sinema Laga Klasik Masih Relevan di 2026?
Di tengah dominasi konten global dan film superhero Hollywood, kehadiran kembali sinema laga klasik Indonesia bukan sekadar nostalgia—melainkan juga upaya pelestarian budaya. Banyak dari film-film ini memuat nilai-nilai lokal, kearifan tradisional, serta representasi identitas Nusantara yang unik.

Platform media sosial seperti TikTok dan Instagram juga turut memperkuat kebangkitan minat terhadap genre ini. Konten kreator muda kerap mengunggah ulasan, reaksi, dan parodi lucu dari adegan-adegan ikonik—menyebabkan film-film lawas ini kembali menjadi trending.

Bagi generasi tua, tayangan ini adalah jendela ke masa lalu. Bagi generasi muda, ini adalah pintu masuk untuk mengenal akar perfilman nasional yang penuh keberanian, kreativitas, dan jiwa perlawanan.

Baca juga: 10 Daftar Pemain dan Sinopsis Sinetron Baru SCTV Jejak Duka Diandra Dibintangi Rio Dewanto dan Michelle Ziudith Tayang 6 Januari 2026

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya