Kapitil Artinya Apa? Tren Viral di Sosial Media yang Bikin Warganet Ngakak—Ternyata Resmi Ada di KBBI!
sekolah-Tho-Ge/pixabay-
Kapitil Artinya Apa? Tren Viral di Sosial Media yang Bikin Warganet Ngakak—Ternyata Resmi Ada di KBBI!
Dalam dunia bahasa yang terus berkembang, munculnya istilah-istilah baru bukanlah hal yang aneh. Namun, beberapa istilah bisa jadi viral dalam sekejap, terutama jika menyentuh selera humor masyarakat digital. Salah satunya adalah "kapitil", sebuah kata yang dalam beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial—terutama Instagram. Tapi jangan buru-buru menganggap ini sekadar lelucon internet semata. Faktanya, "kapitil" benar-benar tercatat resmi di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai lawan kata dari huruf kapital.
Lantas, apa sebenarnya arti "kapitil"? Mengapa istilah ini tiba-tiba jadi bahan perbincangan hangat warganet? Dan bagaimana respons kocak netizen terhadap kehadiran istilah yang terdengar absurd ini?
Asal Usul dan Arti Kata "Kapitil" Menurut KBBI
Secara linguistik, kata "kapitil" bukanlah ciptaan baru dari dunia maya. Istilah ini sebenarnya telah lama ada dalam khazanah bahasa Indonesia, meski kerap luput dari perhatian publik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kapitil adalah istilah baku yang digunakan untuk menyebut huruf kecil atau huruf non-kapital—seperti a, b, c, d, dan seterusnya.
Sebaliknya, huruf kapital (atau huruf besar) merujuk pada bentuk huruf seperti A, B, C, D, yang biasanya digunakan di awal kalimat, nama diri, atau dalam penulisan resmi tertentu. Jadi, secara teknis dan gramatikal, "kapitil" memang lawan kata resmi dari "kapital" dalam konteks penulisan aksara Latin.
Kendati demikian, istilah "kapitil" sangat jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari atau bahkan dalam pembelajaran bahasa formal di sekolah-sekolah. Hal inilah yang membuat keberadaannya terasa "baru" dan mengundang keheranan, bahkan tawa, ketika pertama kali muncul di jagat media sosial.
Viral di Instagram: Video Singkat yang Picu Badai Respons
Pemicu tren ini bermula dari unggahan akun Instagram @folkative, yang membagikan video singkat berdurasi kurang dari satu menit. Dalam video tersebut, terdengar suara narator yang menyampaikan dengan nada serius namun sedikit menggoda:
“Di tahun 2026 kamu harus tahu, lawan kata KAPITAL adalah KAPITIL.”
Kalimat tersebut, yang disampaikan dengan diksi seolah mengumumkan penemuan besar, langsung mencuri perhatian. Banyak warganet yang baru pertama kali mendengar kata “kapitil” dan mengira itu adalah lelucon. Namun, setelah dicek ke KBBI—baik versi daring maupun cetak—ternyata kata tersebut benar-benar ada dan sah secara linguistik.
Respons Warganet: Dari Bingung Sampai Bikin Meme Lucu
Sontak, kolom komentar unggahan tersebut dipenuhi beragam reaksi—mulai dari keheranan, geli, hingga kreativitas verbal ala netizen Indonesia.
Akun @ilhamcutsz menulis dalam logat Sunda yang khas:
“Kalau Sunda mah aya oge ‘kapatil’ kapatok lele matil.”
Kalimat ini adalah permainan kata lucu yang menggabungkan “kapitil” dengan frasa Sunda yang artinya kurang lebih “tubuh ikan lele yang mati”—sebuah sindiran kocak yang menunjukkan betapa absurd terdengarnya kata tersebut di telinga awam.
Sementara itu, akun @mutyaa.yeyo berkomentar dengan nada romantis yang sarkastik:
“I love men when he’s typing kapitil diawal.”
Komentar ini menyindir kebiasaan seseorang yang sering mengetik pesan dengan huruf kecil di awal kalimat—yang dalam dunia komunikasi digital sering dikaitkan dengan kesan santai, intim, atau bahkan “manly” dalam konteks gaul.
Tak ketinggalan, akun @ratu.rashiena menambahkan sentilan ekonomi yang cerdas:
“Huruf kapital & huruf kapitil. Keuntungan kapital, keuntungan kapitil.”
Kalimat ini memainkan kata “kapital” yang juga identik dengan sistem ekonomi kapitalisme, menciptakan kontras lucu antara tata bahasa dan tata ekonomi.
Mengapa Istilah Ini Jarang Dipakai?
Meski resmi terdaftar di KBBI, “kapitil” nyaris tidak pernah digunakan dalam percakapan informal maupun akademis di Indonesia. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, guru biasanya hanya menyebut “huruf besar” dan “huruf kecil”, bukan “kapital” dan “kapitil”. Di lingkungan penulisan profesional—seperti jurnalistik, penerbitan, atau desain grafis—istilah yang lebih umum adalah uppercase dan lowercase (dalam bahasa Inggris), bukan dalam bentuk Indonesianya.
Keberadaan “kapitil” di KBBI lebih bersifat preskriptif—yaitu mencatat bentuk baku bahasa yang seharusnya ada, meski tidak populer dalam praktik sehari-hari. Ini menunjukkan upaya Badan Bahasa untuk melengkapi sistem terminologi bahasa Indonesia secara utuh, meskipun pemakaiannya terbatas.
Dampak Viral: Edukasi Bahasa Lewat Humor
Fenomena “kapitil” membuktikan bagaimana media sosial bisa menjadi wahana edukasi bahasa yang efektif—meski dikemas dalam bungkus humor. Banyak pengguna yang awalnya hanya ikut tertawa, akhirnya penasaran dan mencari tahu lebih lanjut. Mereka membuka KBBI, membagikan fakta tersebut ke teman, bahkan membuat konten edukatif berbasis meme.