Tragedi di Balik Stetoskop: Mahasiswa PPDS UNSRI Diduga Jadi Korban Perundungan dan Pemerasan Senior, Sampai Nekat Coba Bunuh Diri

Tragedi di Balik Stetoskop: Mahasiswa PPDS UNSRI Diduga Jadi Korban Perundungan dan Pemerasan Senior, Sampai Nekat Coba Bunuh Diri

mayat-aitoff/pixabay-

Tragedi di Balik Stetoskop: Mahasiswa PPDS UNSRI Diduga Jadi Korban Perundungan dan Pemerasan Senior, Sampai Nekat Coba Bunuh Diri

Dunia pendidikan kedokteran di Tanah Air kembali diguncang dugaan praktik perundungan dan eksploitasi yang berujung pada tragedi kemanusiaan. Sebuah kabar mengejutkan beredar luas melalui pesan broadcast WhatsApp pada Minggu (4/1/2026), menyebut seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Sriwijaya (UNSRI) diduga nekat melakukan percobaan bunuh diri akibat tekanan berat dari senior di lingkungan kampusnya.



Kabar ini sontak memicu kekhawatiran publik, terutama di kalangan tenaga medis muda dan komunitas akademik, yang selama ini menganggap institusi pendidikan kedokteran sebagai tempat yang menjunjung tinggi etika, integritas, dan tanggung jawab moral.

Kronologi Beredar: Pesan Viral yang Menggugah Hati Nurani
Informasi awal mengenai insiden ini pertama kali disebarkan oleh seorang dokter bernama Mirza melalui akun Instagram pribadinya, @drg.mirza. Dalam unggahannya, drg. Mirza membagikan tangkapan layar pesan broadcast yang diduga berasal dari Aliansi Masyarakat Peduli Keadilan Sipil (AMPKS) Sumatera Selatan.

Dalam pesan tersebut, disebutkan bahwa seorang residen—istilah untuk dokter muda yang sedang menjalani spesialisasi—di Fakultas Kedokteran UNSRI diduga mengalami tekanan psikologis ekstrem akibat perundungan sistematis oleh oknum senior PPDS. Tekanan itu bukan hanya berupa intimidasi verbal, tetapi juga pemerasan finansial yang dilakukan secara terstruktur dan tersembunyi.


“Malam tadi dapat info bahwa ada dugaan bullying yang menyebabkan residen di UNSRI melakukan percobaan bunuh diri dan mengundurkan diri,” demikian kutipan pesan yang beredar.

Modus Pemerasan: Uang untuk Gaya Hidup Hedon Senior
Yang paling mencengangkan dari laporan ini adalah motif di balik pemerasan tersebut. Menurut pesan broadcast, mahasiswa korban dipaksa menyerahkan sejumlah uang yang digunakan oleh para senior untuk membiayai gaya hidup mewah dan hedon, termasuk:

Uang semesteran pribadi sang senior,
Biaya clubbing di tempat hiburan malam,
Pembelian produk skincare premium,
Tiket konser artis ternama,
Bahkan sewa lapangan padel—olahraga yang sedang naik daun di kalangan eksekutif muda.
Praktik ini tidak berlangsung secara terbuka, melainkan dilakukan dengan cara yang “rahasia namun rapi”, menurut narasi dalam pesan tersebut. Korban dilaporkan mengalami intimidasi berulang dan ancaman, yang membuatnya takut untuk melawan atau melapor.

“Jika tidak menuruti, maka junior akan dipersulit selama masa pendidikan oleh para oknum senior PPDS,” bunyi pesan itu.

Antara Tekanan Akademik dan Budaya Senioritas yang Toksik
Insiden ini kembali memperlihatkan bayangan kelam dari budaya senioritas yang toksik dalam dunia pendidikan kedokteran—sebuah lingkungan yang seharusnya menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai kemanusiaan.

Di banyak institusi medis, program PPDS dikenal sebagai fase paling menantang dalam karier seorang dokter. Selain tuntutan akademik yang tinggi, para residen juga harus menjalani jadwal kerja yang padat, sering kali tanpa hari libur, sambil bertanggung jawab atas nyawa pasien. Dalam kondisi seperti itu, tekanan psikologis sangat rentan muncul—apalagi jika ditambah dengan praktik perundungan dari rekan sejawat sendiri.

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Wijaya, pernah menyatakan bahwa lingkungan akademik yang otoriter dan tidak suportif justru bisa menghancurkan mental mahasiswa berprestasi, bukan memperkuatnya. “Yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter justru berubah menjadi arena penindasan,” ujarnya dalam wawancara terpisah.

Respons UNSRI dan Upaya Verifikasi Fakta
Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Sriwijaya (UNSRI) belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan peristiwa ini. Namun, kabar yang beredar menyebut bahwa mahasiswa tersebut memilih mengundurkan diri dari program PPDS setelah kejadian percobaan bunuh diri—sebuah langkah ekstrem yang menunjukkan betapa parahnya tekanan yang dialami.

Baca juga: Profil Tampang Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Prajurit Muda yang Meninggal Dunia, Lengkap dari Umur, Agama dan Akun Instagram

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya