Atta Halilintar Tuai Kritik Usai Pamer Salat di Trotoar China: Konten atau Ibadah?
Atta-Instagram-
Baca juga: Kasih Sayang, Jembatan Emas Menuju Persaudaraan Sejati! Inilah Khutbah Jumat 9 Januari 2026
Profil Atta Halilintar: Dari YouTuber hingga Kontroversi Publik
Atta Halilintar, pria kelahiran Dumai, 20 November 1994, dikenal sebagai salah satu konten kreator paling berpengaruh di Indonesia. Bersama keluarganya yang terkenal sebagai Gen Halilintar, ia membangun kerajaan konten digital yang mencakup YouTube, bisnis fashion, hingga kolaborasi internasional. Pernikahannya dengan Aurel Hermansyah pada 2021 semakin mengangkat popularitasnya ke level selebriti global.
Meski dikenal dermawan dan aktif dalam kegiatan sosial, Atta tak jarang menjadi sorotan karena konten-kontennya yang dianggap terlalu dramatis atau kurang pantas. Kali ini, aksi salat di trotoar Tiongkok kembali memantik pertanyaan: apakah ia benar-benar menjadikan ibadah sebagai bagian dari kesehariannya, atau justru menjadikannya sebagai alat pemasaran?
Pentingnya Sensitivitas dalam Membagikan Konten Keagamaan
Para ulama dan tokoh masyarakat sejak lama mengingatkan agar umat Muslim berhati-hati dalam membagikan aktivitas ibadah di ruang publik digital. Syekh Ali Jaber pernah menekankan bahwa ibadah sebaiknya dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk dipamerkan. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat baik…” (QS. Al-Baqarah: 224).
Dalam konteks media sosial, hal ini bisa diterjemahkan sebagai ajakan untuk tidak menjadikan ibadah sebagai “aset konten” tanpa pertimbangan etis dan spiritual yang matang.
***