Siapa Anak dan Suami Delcy Rodriguez Sosok Presiden Venezuela yang Baru Usai Gantikan Nicolas Maduro, Bukan Orang Sembarangan?
Delcy-Instagram-
Siapa Anak dan Suami Delcy Rodriguez Sosok Presiden Venezuela yang Baru Usai Gantikan Nicolas Maduro, Bukan Orang Sembarangan?
Pada awal tahun 2026, dunia dikejutkan oleh sebuah operasi militer berani yang dilancarkan oleh Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Dalam operasi yang menurut laporan media internasional berlangsung cepat dan terkoordinasi, Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dilaporkan ditangkap dan dievakuasi dari Caracas. Peristiwa ini bukan hanya mengguncang stabilitas politik Venezuela, tetapi juga memicu pergolakan diplomatik global.
Dalam kekosongan kekuasaan yang mendadak, pemerintahan Venezuela secara konstitusional beralih ke tangan Wakil Presiden Eksekutif Delcy Rodríguez—seorang politikus senior yang telah menjadi pilar utama dalam kekuasaan chavismo selama lebih dari dua dekade. Penunjukannya sebagai pengganti sementara sesuai dengan Pasal 233 dan 234 Konstitusi Venezuela, yang mengatur pengalihan kekuasaan kepada wakil presiden jika presiden tidak dapat melaksanakan tugasnya, baik sementara maupun permanen.
Namun, siapa sebenarnya Delcy Rodríguez? Apa latar belakangnya, dan bagaimana perempuan berusia 56 tahun ini menjadi sosok yang paling menentukan arah Venezuela di tengah krisis terparah sejak era Hugo Chávez?
Langsung Bertindak: Rodriguez Memimpin dalam Krisis
Hanya beberapa jam setelah kabar penangkapan Maduro menyebar, Delcy Rodríguez langsung mengambil alih kendali. Pada Sabtu sore (3/1/2026), ia memimpin rapat darurat Dewan Pertahanan Nasional bersama para menteri utama, panglima militer, dan pejabat tinggi pemerintahan. Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi pemerintah VTV, Rodríguez mengecam keras operasi militer AS dan menyebutnya sebagai "pelanggaran brutal terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional."
“Kami menyerukan kepada rakyat di tanah air besar ini untuk tetap bersatu, karena apa yang dilakukan terhadap Venezuela bisa dilakukan terhadap siapa pun. Penggunaan kekuatan brutal untuk membengkokkan kehendak rakyat bisa dilakukan terhadap negara mana pun,” tegas Rodríguez dengan suara tegas namun tenang.
Ia juga menuntut bukti konkret bahwa Maduro dan Flores masih dalam keadaan selamat, serta mendesak pembebasan segera keduanya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa, kendati menjadi pemimpin sementara, Rodríguez tetap menegaskan loyalitasnya terhadap Maduro—setidaknya secara retoris.
Perjalanan Panjang di Jantung Kekuasaan Chavismo
Lahir di Caracas, ibu kota Venezuela, Delcy Rodríguez menempuh pendidikan hukum di Universitas Pusat Venezuela (UCV), salah satu kampus paling bergengsi di negeri itu. Karier politiknya dimulai pada masa keemasan Revolusi Bolivarian di bawah kepemimpinan Hugo Chávez. Ia masuk ke lingkar dalam kekuasaan pada awal 2010-an dan dengan cepat menunjukkan dirinya sebagai strategis yang andal dan vokal yang tak kenal kompromi.
Pada 2013, setelah kematian Chávez dan naiknya Maduro ke kursi kepresidenan, Rodríguez ditunjuk sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi. Tahun berikutnya, ia naik jabatan menjadi Menteri Luar Negeri, posisi yang ia gunakan untuk membela kebijakan pemerintah Venezuela di forum-forum internasional seperti PBB. Ia kerap membalas kritik asing tentang pelanggaran HAM dan kemunduran demokrasi dengan menuduh Barat—terutama AS—melancarkan “perang hibrida” terhadap negaranya.
Pada 2017, ketika oposisi memenangkan mayoritas di Majelis Nasional, Maduro membentuk Majelis Konstituante untuk melumpuhkan otoritas legislatif. Rodríguez ditunjuk sebagai presiden majelis kontroversial tersebut, sebuah langkah yang memperkuat citranya sebagai “tangan besi” rezim.
Sejak 2018, ia menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif—posisi paling kuat kedua di Venezuela—dan terus dipertahankan hingga masa jabatan ketiga Maduro yang dimulai pada 10 Januari 2025, setelah pemilu Juli 2024 yang dituding curang oleh oposisi dan sejumlah negara Amerika Latin.
Wajah Baru, Tapi Ideologi Lama
Penangkapan Maduro memicu spekulasi bahwa Venezuela akan mengalami transisi menuju pemerintahan yang lebih moderat. Namun, banyak analis menilai bahwa Rodríguez bukan tokoh kompromis, melainkan salah satu penjaga paling loyal dari ideologi chavismo.
“Wakil presiden eksekutif republik adalah operator yang sangat efektif, seorang perempuan dengan kemampuan kepemimpinan yang kuat dalam mengelola tim,” ujar pakar hukum tata negara José Manuel Romano kepada CNN. “Ia sangat berorientasi pada hasil dan memiliki pengaruh besar terhadap seluruh aparat pemerintahan, termasuk Kementerian Pertahanan.”
Hal ini diperkuat oleh latar belakang keluarganya. Delcy tidak bekerja sendirian—ia memiliki sekutu kuat dalam figur kakaknya, Jorge Rodríguez, yang kini menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional. Bersama, keduanya membentuk poros kekuatan yang dominan dalam struktur pemerintahan Maduro.
Dua Wajah Rodriguez: Anti-AS di Layar, Diplomatik di Belakang Layar?
Yang menarik, beberapa jam setelah operasi penangkapan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berbicara langsung dengan Rodríguez. Menurut Trump, Rodríguez menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama.
“Ia berbicara dengan Marco. Ia mengatakan, ‘Kami akan melakukan apa pun yang Anda perlukan.’ Saya pikir ia cukup sopan. Kami akan melakukan ini dengan benar,” kata Trump melalui unggahan di platform Truth Social.
Pernyataan ini langsung memicu perdebatan di antara pengamat politik. Sebagian menilai ini sebagai tanda awal rekonsiliasi, sementara yang lain—seperti analis kebijakan Imdat Öner—justru melihatnya sebagai manuver taktis.
“Ia bukan alternatif moderat bagi Maduro. Ia adalah salah satu figur paling kuat dan paling keras di seluruh sistem,” tegas Öner. “Kenaikannya ke tampuk kekuasaan tampaknya merupakan hasil dari suatu bentuk kesepahaman antara Amerika Serikat dan para aktor kunci yang sedang mempersiapkan skenario pasca-Maduro. Dalam konteks itu, ia pada dasarnya akan berperan sebagai penjaga sementara hingga pemimpin yang dipilih secara demokratis mengambil alih.”
Namun, sikap publik Rodríguez justru menunjukkan sebaliknya. Dalam wawancara pagi hari dengan VTV, ia menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro dan Flores, serta menuntut bukti bahwa keduanya masih hidup. Di sore harinya, ia kembali menegaskan bahwa “hanya ada satu presiden di negara ini, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros.”