Profil Tampang Nicolas Maduro Presiden Venezuela yang Ditangkap Amerika Atas Tuduhan Narkoba dan dan Pencurian Minyak di AS, lengkap: Umur, Agama dan IG

Profil Tampang Nicolas Maduro Presiden Venezuela yang Ditangkap Amerika Atas Tuduhan Narkoba dan dan Pencurian Minyak di AS, lengkap: Umur, Agama dan IG

Nicolas-Instagram-

Profil Tampang Nicolas Maduro Presiden Venezuela yang Ditangkap Amerika Atas Tuduhan Narkoba dan dan Pencurian Minyak di AS, lengkap: Umur, Agama dan IG
Dunia terperangah pada Sabtu (3/1/2026) ketika Amerika Serikat melancarkan serangan militer skala besar ke ibu kota Venezuela, Caracas, dan sejumlah kawasan strategis di sekitarnya. Aksi militer mendadak ini tidak hanya mengguncang stabilitas nasional Venezuela, tetapi juga memicu kekhawatiran global terhadap eskalasi konflik yang berpotensi meluas ke seluruh Amerika Latin. Lebih mengejutkan lagi, Gedung Putih mengklaim telah berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores, dalam operasi rahasia yang melibatkan pasukan khusus.

Langkah ekstrem Washington ini langsung memantik reaksi cepat dari pemerintah Venezuela, yang segera mengajukan gugatan darurat ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, pertanyaan besar pun bermunculan: Siapa sebenarnya Nicolas Maduro? Mengapa Amerika Serikat—yang selama ini menghindari intervensi militer langsung di Amerika Latin—memilih jalan kekerasan terhadap pemimpin Venezuela yang telah berkuasa sejak 2013? Dan apakah tuduhan narkoterorisme yang selama ini menjadi dasar hukum AS benar-benar terbukti?



Artikel ini mengupas mendalam jejak politik, latar belakang pribadi, serta kontroversi yang menyelimuti sosok Nicolas Maduro—pemimpin yang bertransformasi dari sopir bus menjadi buronan paling dicari di dunia oleh kekuatan adidaya.

Dari Sopir Bus ke Kursi Kepresidenan: Perjalanan Politik Nicolas Maduro
Nicolas Maduro Moros lahir di Caracas pada 23 November 1962, dari keluarga kelas pekerja yang sederhana. Sebelum menjelma menjadi figur sentral dalam politik Venezuela, Maduro dikenal sebagai sopir bus yang aktif dalam gerakan serikat buruh. Keterlibatannya dalam perjuangan hak-hak pekerja membentuk fondasi ideologisnya yang kuat: keberpihakan kepada rakyat kecil dan penentangan terhadap dominasi kapitalis.

Di awal 1990-an, Maduro mulai menonjol sebagai orator ulung di kalangan buruh transportasi. Karismanya menarik perhatian Hugo Chávez, presiden revolusioner Venezuela yang sedang membangun basis dukungan di kalangan rakyat jelata. Ketika Chávez berkuasa sejak 1999, Maduro tak lama kemudian masuk ke lingkaran dalam kekuasaan.


Tahun 2000, Maduro terpilih menjadi anggota Majelis Nasional Venezuela, menandai pintu gerbangnya ke panggung politik nasional. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Luar Negeri (2006–2012) dan Wakil Presiden (2012–2013), menjadi tangan kanan Chávez yang paling dipercaya. Ketika Chávez wafat pada 5 Maret 2013 akibat kanker, Maduro langsung ditunjuk sebagai penerus ideologis dan politik sang mantan presiden.

Pemilu Kontroversial dan Krisis Legitimasi
Pada 14 April 2013, pemilihan presiden khusus digelar. Maduro, yang diusung oleh Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV), menang tipis dengan 50,62% suara, mengalahkan kandidat oposisi Henrique Capriles. Namun, kemenangan ini segera dipertanyakan. Oposisi menuduh terjadi kecurangan sistematis, termasuk penggunaan sumber daya negara untuk kampanye dan pembatasan akses media.

Sejak itu, legitimasi Maduro terus digerogoti—baik di dalam maupun luar negeri. Meski secara konstitusional sah, banyak pengamat menilai ia tidak memiliki daya tarik karismatik seperti Chávez, yang dikenal sebagai “bapak bangsa” oleh pendukungnya. Di bawah kepemimpinan Maduro, Venezuela justru terperosok ke dalam krisis multidimensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Venezuela di Ambang Kehancuran: Inflasi, Kelaparan, dan Eksodus Massal
Sejak 2014, ekonomi Venezuela kolaps. Inflasi hiperbolik mencapai jutaan persen, membuat mata uang lokal nyaris tak berharga. Kekurangan pangan dan obat-obatan menyebabkan warga antre berjam-jam hanya untuk membeli roti atau susu bayi. Lebih dari 7 juta orang—hampir seperempat populasi—melarikan diri dari negara itu, menciptakan salah satu krisis pengungsi terbesar dalam sejarah Amerika Latin.

Penyebab utamanya adalah kombinasi ketidakmampuan pengelolaan sektor minyak—sumber 95% pendapatan negara—dan sanksi ekonomi ketat dari Amerika Serikat serta Uni Eropa. Namun, pemerintah Maduro selalu menyalahkan “perang ekonomi” yang dijalankan oleh “imperialisme AS” sebagai akar masalah.

Situasi ini memperkuat narasi Washington bahwa rezim Maduro telah gagal melindungi rakyatnya, dan justru menggunakan negara sebagai sarana untuk memperkaya diri dan jaringan kriminalnya.

Tuduhan Narkoterorisme: Titik Balik Konflik AS-Venezuela
Hubungan antara AS dan Venezuela memburuk drastis sejak era Presiden Donald Trump. Pada Maret 2020, Departemen Kehakiman AS mengumumkan dakwaan berat terhadap Maduro: konspirasi narkoterorisme, impor kokain ke AS, kepemilikan senjata ilegal, dan persekongkolan melawan keamanan nasional Amerika.

Jaksa Agung AS saat itu menyatakan bahwa Maduro dan jenderal-jenderalnya diduga menjalin aliansi dengan Cartel de los Soles—sebuah sindikat narkoba yang diklaim dijalankan oleh perwira tinggi militer Venezuela. Organisasi ini, menurut intelijen AS, mengirim tonase besar kokain ke Amerika Serikat dan Eropa, dengan keuntungan digunakan untuk mempertahankan kekuasaan rezim.

Sebagai insentif, pemerintah AS menawarkan hadiah US$15 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Jumlah itu kemudian dinaikkan menjadi US$50 juta pada Agustus 2025, menjadikannya salah satu buronan dengan imbalan tertinggi dalam sejarah AS—setara dengan Osama bin Laden.

Pada November 2025, AS secara resmi menetapkan Cartel de los Soles sebagai Organisasi Teroris Asing (FTO), langkah hukum yang memungkinkan Washington menggunakan kekuatan militer untuk melawannya. Ini menjadi landasan legal bagi operasi militer yang terjadi pada awal 2026.

Operasi Militer 3 Januari 2026: Penangkapan atau Propaganda?
Menurut pernyataan Gedung Putih, pada Sabtu pagi (3/1/2026), pasukan khusus Delta Force dan SEAL Team Six melancarkan serangan presisi ke Fuerte Tiuna—markas besar militer Venezuela—serta wilayah Miranda, Aragua, dan La Guaira. Dalam operasi yang hanya berlangsung beberapa jam, Maduro dan Cilia Flores diklaim berhasil ditangkap dan langsung dievakuasi ke pangkalan militer AS di Puerto Rico.

Namun, hingga Minggu (4/1/2026), tidak ada bukti visual atau konfirmasi independen yang mendukung klaim tersebut. Pemerintah Venezuela membantah keras, menyebutnya sebagai “operasi psikologis” untuk melemahkan moral rakyat. Juru bicara Kementerian Pertahanan Venezuela menegaskan bahwa Maduro “masih berada di Caracas dan memimpin rapat kabinet darurat”.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB telah menerima permohonan darurat dari Venezuela untuk sidang khusus. Namun, prospek resolusi anti-AS kemungkinan besar akan diveto oleh Amerika Serikat sendiri—salah satu dari lima anggota permanen Dewan.

Siapa Cilia Flores? Perempuan di Balik Kekuatan Maduro
Tak bisa memahami Maduro tanpa mengenal Cilia Adela Flores de Maduro. Ia bukan sekadar ibu negara, melainkan tokoh politik senior yang telah duduk di Majelis Nasional sejak 2006. Sebagai pengacara, Flores dikenal tangguh dan memiliki jaringan luas di kalangan peradilan dan militer.

Namun, ia juga tak luput dari skandal. Pada 2015, media AS mengekspos dugaan keterlibatannya dalam penyelundupan narkoba oleh keponakannya. Flores membantah, tetapi kasus ini memperkuat narasi bahwa keluarga Maduro terlibat dalam jaringan kejahatan transnasional.

Reaksi Dunia dan Ancaman Perang Regional
Serangan militer AS ke Venezuela memicu kecaman luas. Rusia dan Tiongkok menyebutnya sebagai “pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima”. Meksiko, Kolombia, dan Brasil—meski memiliki hubungan rumit dengan Maduro—juga menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional.

Baca juga: Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 6 - 11 Januari 2026

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya