Kasus Rudapaksa Sitok Srengenge Kembali Viral: Cuitan Lawas Nong Andah Picu Kemarahan Publik

Kasus Rudapaksa Sitok Srengenge Kembali Viral: Cuitan Lawas Nong Andah Picu Kemarahan Publik

Sitok-Instagram-


Kasus Rudapaksa Sitok Srengenge Kembali Viral: Cuitan Lawas Nong Andah Picu Kemarahan Publik

Kasus dugaan rudapaksa yang melibatkan sastrawan ternama Sitok Srengenge kembali mencuat ke permukaan dan memicu gelombang kemarahan di media sosial. Peristiwa kelam yang terjadi lebih dari satu dekade lalu kini kembali menjadi sorotan publik setelah musisi Sal Priadi membagikan unggahan foto kebersamaannya dengan Sitok di akun media sosial pribadinya.



Foto tersebut secara instan memantik reaksi keras dari warganet, terutama dari kalangan aktivis perempuan dan pegiat hak asasi manusia. Banyak yang mengecam Sal Priadi karena dianggap memberikan legitimasi sosial kepada seseorang yang diduga pernah melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan muda.

Kasus yang Mengguncang Dunia Sastra dan Kampus
Korban dalam kasus ini adalah seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berinisial RW. Saat kejadian berlangsung pada awal 2010-an, RW berusia 22 tahun dan sedang aktif menempuh studi di kampus bergengsi tersebut. Menurut laporan yang beredar, ia mengalami kekerasan seksual yang berujung pada kehamilan—sebuah trauma fisik dan psikologis yang berdampak panjang dalam hidupnya.

Dalam upaya menuntut keadilan, RW sempat mengirimkan surat terbuka kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam). Namun sayangnya, proses hukum yang seharusnya menjadi jalan bagi keadilan justru berujung pada vonis yang dianggap terlalu ringan oleh publik. Sitok Srengenge—yang kala itu dikenal sebagai figur sastrawan dan budayawan—hanya menerima hukuman ringan, memicu tanda tanya besar soal keadilan bagi korban kekerasan seksual di Indonesia.


Selain tekanan sistem hukum, RW juga menghadapi tekanan sosial dari lingkaran terdekat Sitok. Beberapa pihak dikabarkan justru berusaha menutupi peristiwa tersebut, bahkan menyalahkan korban—sebuah pola yang kerap muncul dalam kasus kekerasan seksual di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Cuitan Kontroversial Nong Andah Kembali Beredar
Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan dengan beredarnya cuitan lawas dari Nong Andah Darol Mahmada, seorang aktivis yang pernah tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Cuitan yang diunggah pada 2013 tersebut kini viral kembali dan memicu kemarahan luas lantaran dianggap menyalahkan korban.

Dalam unggahannya, Nong Andah menulis sindiran yang terkesan meremehkan trauma korban:

“Makanya jangan lupa pakai kondom.”

Lebih jauh, ia bahkan menyarankan agar laki-laki yang "malas atau lalai" menggunakan pengaman bisa memilih jalan lain:

“Vaksetomi aja deh kalau udah malas atau lalai pakai pengaman.”

Komentar tersebut—yang kini diarsipkan di forum Kaskus dan viral ulang pada Jumat, 2 Januari 2026—dikecam sebagai bentuk victim-blaming yang berbahaya. Banyak netizen menilai pernyataan tersebut tidak hanya tidak sensitif, tetapi juga mencerminkan ketidaktahuan mendalam tentang dinamika kekerasan seksual, di mana korban sama sekali tidak memiliki kuasa atas tindakan pelaku.

Pembelaan dari Keluarga Sitok Srengenge
Di tengah kemarahan publik, pembelaan justru datang dari pihak keluarga Sitok. Putrinya, Laire Siwi, tampil ke publik untuk menegaskan bahwa hubungan antara ayahnya dan RW bersifat suka sama suka. Ia menolak narasi bahwa ayahnya melakukan tindakan kriminal dan menegaskan bahwa kehamilan yang terjadi bukan hasil dari pemaksaan.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh para aktivis dan pendukung korban, yang menegaskan bahwa pernyataan “suka sama suka” sering kali digunakan untuk mengaburkan fakta kekerasan dan ketimpangan kuasa dalam relasi antara pelaku dan korban.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya