Viral di Malam Tahun Baru 2026: Kades Hoho Digeruduk Warga, Ini Penyebabnya!

Viral di Malam Tahun Baru 2026: Kades Hoho Digeruduk Warga, Ini Penyebabnya!

Hoho-Instagram-

Viral di Malam Tahun Baru 2026: Kades Hoho Digeruduk Warga, Ini Penyebabnya!

Nama Kepala Desa (Kades) Hoho dari Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini, bukan karena penampilannya yang nyentrik atau prestasinya dalam membangun desa, melainkan karena insiden viral yang terjadi tepat di malam pergantian tahun 2025 ke 2026.



Video berdurasi singkat yang diunggah oleh akun TikTok @nalarmiring menunjukkan suasana malam Tahun Baru yang seharusnya penuh sukacita berubah menjadi tegang. Di tengah keramaian panggung hiburan di Desa Purwasaba, sejumlah warga terlihat mendekati area acara sambil berteriak menyebut nama Kades Hoho. Adegan tersebut langsung menjadi viral di berbagai platform media sosial, memicu spekulasi, kekhawatiran, bahkan dukungan dari berbagai kalangan.

Siapa Sebenarnya Kades Hoho?
Sebelum insiden ini mencuat, Kades Hoho dikenal sebagai sosok pemimpin desa yang progresif dan berani tampil beda. Gaya berpakaiannya yang unik—sering kali mengenakan aksesori mencolok atau busana tak lazim untuk pejabat desa—tidak mengurangi reputasinya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Bahkan, ia pernah beberapa kali diundang menjadi narasumber di stasiun televisi nasional untuk berbagi kisah sukses dalam membangun Desa Purwasaba.

Di bawah kepemimpinannya, Desa Purwasaba sempat dikenal sebagai desa yang aktif menggelar kegiatan seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Ia juga mendorong pemberdayaan UMKM lokal serta memperbaiki infrastruktur jalan dan drainase. Tak heran, banyak warganet yang awalnya memuji sosoknya sebagai “Kades milenial” yang mampu membawa angin segar bagi desanya.


Malam Tahun Baru yang Tegang
Namun, di malam pergantian tahun 2026, suasana di Desa Purwasaba justru dipenuhi ketegangan. Acara hiburan yang digelar untuk menyambut Tahun Baru—yang biasanya menjadi ajang silaturahmi dan kegembiraan—berubah menjadi ajang protes spontan. Dalam video yang beredar luas, terlihat beberapa orang yang diduga warga setempat berteriak memanggil nama Kades Hoho dengan nada keras dan penuh emosi.

Meski tidak terjadi bentrok fisik atau kerusuhan besar, insiden tersebut cukup mengguncang kepercayaan publik. Banyak netizen penasaran: apa sebenarnya yang memicu kemarahan warga hingga berani menggeruduk kepala desa di tengah acara resmi?

Dugaan Penyebab: Konflik Lahan Parkir Pasar Desa
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber warga setempat dan unggahan media sosial, akar persoalan diduga berkaitan dengan pengelolaan lahan parkir di sekitar pasar Desa Purwasaba. Menurut sejumlah warga, pengelolaan lahan tersebut dianggap tidak transparan dan merugikan pedagang kecil serta pengunjung pasar.

“Lahan parkir itu dulunya tempat terbuka untuk umum, tapi sekarang jadi dikelola pihak tertentu yang katanya mendapat izin dari pemerintah desa. Padahal, pedagang jadi kesulitan karena pengunjung enggan datang akibat tarif parkir yang mahal,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Isu ini, menurut warga, sudah berlarut-larut tanpa ada penyelesaian konkret meski telah berkali-kali disampaikan dalam musyawarah desa. Ketidakpuasan pun memuncak pada malam Tahun Baru, saat masyarakat berkumpul dalam jumlah besar dan emosi tak bisa lagi ditahan.

Respons Pemerintah Desa dan Aparat Setempat
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Purwasaba belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Namun, sumber dari kepolisian setempat menyebut bahwa situasi telah kembali kondusif dan aparat tengah melakukan pendekatan persuasif untuk menyelesaikan permasalahan secara musyawarah.

“Kami mengimbau warga untuk tidak terpancing emosi dan menyelesaikan persoalan melalui saluran yang tepat. Aparat desa dan kecamatan juga telah berkoordinasi untuk menangani konflik ini,” ungkap seorang anggota Polsek Mandiraja.

Reaksi Warganet: Antara Simpati dan Kritik
Di media sosial, reaksi terhadap insiden ini terbelah. Sebagian warganet bersimpati kepada warga yang merasa haknya dirugikan, sementara yang lain menyesalkan cara penyampaian aspirasi yang dianggap kurang tepat—terlebih di momen perayaan Tahun Baru.

“Kalau memang ada ketidakadilan, sampaikan saja lewat forum resmi, jangan bikin malam tahun baru jadi ricuh,” tulis salah satu komentar di unggahan TikTok tersebut.

Namun, tak sedikit pula yang membela warga. “Kalau aspirasi lewat forum resmi nggak pernah didengar, wajar kalau rakyat akhirnya turun langsung. Ini cerminan bahwa komunikasi antara pemimpin dan rakyat sudah renggang,” balas komentar lainnya.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya