Denny Sumargo Kembali Jalani Program Bayi Tabung, Cari ‘Ibu’ untuk Embrio: Apa Itu IVF dan Siapa Saja yang Bisa Mengaksesnya?
Denny-Instagram-
Denny Sumargo Kembali Jalani Program Bayi Tabung, Cari ‘Ibu’ untuk Embrio: Apa Itu IVF dan Siapa Saja yang Bisa Mengaksesnya?
Aktor sekaligus presenter kondang Denny Sumargo kembali mencuri perhatian publik, bukan karena karyanya di dunia hiburan, melainkan karena pengakuan pribadinya yang cukup mengejutkan. Pada 2 Januari 2025, melalui unggahan di akun Threads miliknya, pria berusia 44 tahun ini membuka hati bahwa dirinya sedang menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF)—dan sedang mencari seorang perempuan yang bersedia menjadi “ibu” bagi embrio hasil proses tersebut.
“Abis ambil sperma dong, tinggal nyari ibunya buat dibuahin. Ada yang mau jadi ibunya? Hari ini gue memulai lagi program IVF di @morulaivf_jakarta setelah 2025 kemarin gagal. Doakan ya, man teman,” tulisnya dengan nada ringan namun menyiratkan tekad kuat.
Unggahan tersebut langsung memicu gelombang respons dari netizen—mulai dari dukungan hangat hingga rasa penasaran tentang bagaimana proses IVF sebenarnya, terlebih dalam konteks seorang lajang pria yang ingin menjadi ayah tanpa pasangan resmi. Lantas, apa sebenarnya IVF? Mengapa metode ini kini semakin populer, bahkan di luar pasangan suami-istri? Dan siapa saja yang berhak mengakses teknologi reproduksi ini?
Apa Itu IVF? Mengenal Program Bayi Tabung Secara Ilmiah
IVF, atau In Vitro Fertilization, secara harfiah berarti “pembuahan dalam kaca”. Istilah ini merujuk pada prosedur medis di mana sel telur (ovum) dan sperma dipertemukan di luar tubuh manusia—tepatnya di laboratorium—dalam wadah khusus seperti cawan petri atau tabung reaksi. Setelah terjadi pembuahan dan berkembang menjadi embrio, hasilnya kemudian ditanamkan ke dalam rahim seorang perempuan untuk melanjutkan kehamilan.
Menurut data terbaru dari Cleveland Clinic (2 Januari 2026), IVF bukan lagi prosedur eksklusif bagi pasangan infertil. Kini, teknologi ini juga diakses oleh:
Pasangan sesama jenis (laki-laki),
Lajang yang ingin memiliki keturunan biologis,
Perempuan lajang yang ingin menunda kehamilan (melalui egg freezing),
Pasangan yang menghadapi risiko genetik serius,
Atau mereka yang sebelumnya gagal hamil melalui metode konvensional.
Tahapan Kompleks dalam Proses IVF
Proses IVF bukanlah hal yang instan. Dibutuhkan komitmen fisik, emosional, dan finansial selama 4 hingga 6 minggu untuk menyelesaikan satu siklus. Berikut tahapan umumnya:
Stimulasi Ovarium: Calon ibu (atau donor sel telur) diberikan obat hormonal untuk merangsang produksi banyak sel telur sekaligus.
Pengambilan Sel Telur: Melalui prosedur minor, sel telur diambil dari ovarium menggunakan panduan ultrasonografi.
Pengambilan Sperma: Sperma dikumpulkan dari pasangan atau donor—seperti yang dilakukan Denny Sumargo.
Pembuahan di Laboratorium: Sel telur dan sperma digabungkan dalam kondisi terkontrol. Kadang, teknik ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection) digunakan jika kualitas sperma rendah.
Kultur Embrio: Embrio dipantau selama 3–6 hari hingga mencapai tahap blastokista.
Transfer Embrio: Embrio yang sehat ditanamkan ke rahim penerima—bisa ibu biologis, ibu pengganti (surrogate), atau donor rahim.
Tes Kehamilan: Sekitar 9–14 hari setelah transfer, dilakukan tes darah untuk memastikan keberhasilan implantasi.
Mengapa IVF Menjadi Pilihan? Kondisi Medis yang Mendorongnya
Menurut para ahli fertilitas, IVF sering direkomendasikan ketika metode lain gagal. Beberapa kondisi medis yang menjadi indikasi kuat untuk menjalani IVF antara lain:
Tuba falopi tersumbat atau rusak, yang menghalangi perjalanan sel telur menuju rahim.
Endometriosis, gangguan di mana jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim.
Kualitas atau jumlah sperma rendah, termasuk masalah motilitas atau morfologi sperma.
Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS), yang mengganggu ovulasi teratur.
Fibroid rahim, tumor jinak yang dapat mengganggu implantasi embrio.
Namun, di luar aspek medis, faktor sosial dan personal juga mendorong individu seperti Denny Sumargo untuk memilih IVF—terlebih di tengah perubahan norma sosial yang semakin terbuka terhadap konsep keluarga non-tradisional.
IVF di Indonesia: Regulasi, Tantangan, dan Realitas Sosial
Di Indonesia, IVF diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. 69/2014 tentang Penyelenggaraan Program Bayi Tabung. Secara hukum, program ini hanya diizinkan bagi pasangan suami-istri yang sah menurut agama dan negara. Namun, realitasnya lebih kompleks.
Klinik fertilitas ternama seperti Morula IVF Jakarta, tempat Denny Sumargo menjalani prosedur, memang menawarkan layanan lengkap—termasuk donor sperma, donor sel telur, dan embryo adoption. Meski demikian, penggunaan ibu pengganti (surrogacy) masih dilarang secara hukum di Indonesia. Ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana Denny Sumargo berencana melanjutkan kehamilan jika ia mencari “ibu” untuk embrionya?
Kemungkinan besar, ia mengacu pada seorang donor rahim informal atau berencana melanjutkan proses di luar negeri—seperti di Amerika Serikat, Kanada, atau negara Eropa yang memperbolehkan surrogacy untuk lajang. Atau, bisa jadi, ia sedang menjajaki adopsi embrio yang telah dibuahi dan membutuhkan rahim penerima.
Dukungan Publik dan Perubahan Narasi tentang Keturunan
Respons masyarakat terhadap pengakuan Denny Sumargo mayoritas positif. Banyak netizen menyatakan kekaguman atas keberaniannya membuka diri soal impian menjadi ayah, meski tanpa pasangan. Ini mencerminkan pergeseran nilai sosial: hak atas keturunan tak lagi eksklusif milik pasangan heteroseksual yang menikah.