Laut, Bukan Hutan, Paru-paru Dunia? Pernyataan Viktor Laiskodat Viral, Ini Fakta Ilmiah di Balik Kontroversi
laut-pixabay-
Laut, Bukan Hutan, Paru-paru Dunia? Pernyataan Viktor Laiskodat Viral, Ini Fakta Ilmiah di Balik Kontroversi
Pernyataan kontroversial politikus Partai NasDem, Viktor Laiskodat, soal “hutan bukan paru-paru dunia” mendadak mengguncang jagat media sosial di penghujung tahun 2025. Video singkat yang diunggah akun X @AidaGreenbury pada Rabu, 31 Desember 2025, menampilkan Laiskodat menyebut bahwa penyumbang oksigen terbesar di Bumi justru bukan hutan, melainkan laut.
Pernyataan itu langsung memicu gelombang reaksi—mulai dari keheranan hingga kritik pedas dari para ilmuwan, aktivis lingkungan, hingga warganet yang khawatir akan potensi kesalahpahaman publik mengenai ekosistem Bumi.
Dalam cuplikan video yang kini telah ditonton jutaan kali, Viktor Laiskodat mengatakan dengan tegas:
“Paru-paru dunia itu bukan hutan. Hutan itu nomor tiga. Penyumbang oksigen terbesar itu laut.”
Lebih jauh, ia bahkan menyatakan bahwa jika suhu Bumi terus meningkat dan es di kutub mencair, maka kadar oksigen global justru akan bertambah—sebuah klaim yang segera dipertanyakan oleh komunitas ilmiah.
Lantas, benarkah laut menjadi penyumbang oksigen terbesar dunia? Dan apakah pernyataan Viktor Laiskodat selaras dengan temuan ilmiah mutakhir? Berikut penjelasan komprehensif berdasarkan data dan konsensus sains global.
Fakta Ilmiah: Laut Memang ‘Pabrik Oksigen’ Terbesar Dunia
Di balik kontroversi tersebut, terdapat unsur kebenaran ilmiah yang jarang diketahui masyarakat umum. Menurut data dari NASA, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), serta Scripps Institution of Oceanography, sekitar 50 hingga 80 persen oksigen yang kita hirup berasal dari lautan—bukan dari pepohonan di hutan tropis Amazon, Kongo, atau Kalimantan.
Produsen utama oksigen di lautan adalah fitoplankton: mikroorganisme fotosintetik berukuran mikroskopis yang menghuni lapisan atas perairan laut. Melalui proses fotosintesis, fitoplankton menyerap karbon dioksida (CO₂) dan melepaskan oksigen (O₂) ke atmosfer—mirip dengan cara pohon melakukannya di darat.
Beberapa model ilmiah bahkan memperkirakan kontribusi fitoplankton mencapai 70–80% dari total produksi oksigen global, tergantung pada metode pengukuran dan variasi musiman serta geografis.
Dengan demikian, secara kuantitas, laut memang layak disebut sebagai “mesin oksigen” terbesar di planet ini—meski julukan “paru-paru dunia” selama ini lebih populer dikaitkan dengan hutan hujan tropis.
Tapi Mengapa Hutan Tetap Tak Bisa Diabaikan?
Meski produksi oksigen laut lebih dominan, menyebut hutan sebagai “bukan paru-paru dunia” justru menyesatkan dalam konteks ekologis yang lebih luas. Para ahli lingkungan menekankan bahwa hutan memiliki fungsi vital yang tak tergantikan:
Penyerap karbon aktif: Hutan menyerap miliaran ton CO₂ setiap tahun, membantu memperlambat laju pemanasan global.
Pengatur iklim mikro: Hutan memengaruhi pola curah hujan, kelembapan, dan suhu lokal.
Rumah bagi keanekaragaman hayati: Lebih dari 80% spesies darat hidup di hutan.
Penyedia oksigen stabil: Meski kontribusinya lebih kecil secara volume, hutan memberikan pasokan oksigen yang konsisten dan terdistribusi secara geografis di daratan—tempat manusia tinggal.
Menurut Dr. Rini Widyastuti, ekolog dari Universitas Indonesia, “Membandingkan laut dan hutan dalam konteks ‘penyumbang oksigen’ saja terlalu disederhanakan. Keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari sistem pendukung kehidupan Bumi. Melemahkan peran hutan berisiko memicu kebijakan yang mengabaikan deforestasi—yang justru sedang mengancam iklim global.”
Klaim Es Mencair Tingkatkan Oksigen? Ini Bantahan Ahli
Salah satu pernyataan paling kontroversial dari Viktor Laiskodat adalah klaim bahwa mencairnya es di kutub akan meningkatkan kadar oksigen di Bumi. Pernyataan ini langsung dibantah oleh para ahli kelautan dan iklim.