Pernikahan Dini Gen Z di Netflix Tuai Kritik Pedas dari Tenaga Medis: Ini 3 Alasan Utamanya!

Pernikahan Dini Gen Z di Netflix Tuai Kritik Pedas dari Tenaga Medis: Ini 3 Alasan Utamanya!

Pernikahan gen z-Instagram-

Pernikahan Dini Gen Z di Netflix Tuai Kritik Pedas dari Tenaga Medis: Ini 3 Alasan Utamanya!
Series Terbaru Richelle Skornicki dan Aliando Syarief Dianggap Berpotensi Menyesatkan Remaja

Jakarta – Dunia hiburan Tanah Air kembali dihebohkan dengan rilisnya serial orisinal Indonesia terbaru di Netflix berjudul Pernikahan Dini Gen Z. Serial ini dibintangi oleh aktris muda Richelle Skornicki dan aktor ternama Aliando Syarief, yang berperan sebagai pasangan remaja bernama Dini dan Rangga. Meski sempat mencuri perhatian penonton berkat chemistry keduanya dan kisah yang dramatis, serial ini justru menuai kritik tajam—bukan hanya dari publik, tetapi juga dari kalangan tenaga kesehatan profesional, khususnya seorang bidan.



Serial yang mengusung tema sensitif kehamilan di usia muda ini memang sengaja dirancang sebagai cerminan realitas sosial yang kerap terjadi di kalangan remaja. Namun, alih-alih menjadi edukasi, sejumlah adegan justru dianggap berpotensi menyesatkan dan berbahaya jika ditiru oleh penonton muda, terutama generasi Z yang menjadi sasaran utama tontonan ini.

Melalui unggahan di platform Threads dengan akun @spheniscidae17 yang mengutip video TikTok dari @bidan.rumah.sakit, seorang bidan angkat suara mengkritisi tiga adegan utama dalam Pernikahan Dini Gen Z. Menurutnya, ketiga adegan tersebut tidak hanya tidak akurat secara medis, tetapi juga berisiko memicu perilaku berbahaya di kalangan remaja. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Pernyataan Medis yang Menyesatkan: “Usia Muda = Tubuh Lebih Kuat”
Salah satu adegan paling kontroversial dalam serial ini terjadi ketika karakter Dini mengalami pendarahan hebat akibat kehamilan di usia remaja. Dalam adegan tersebut, seorang dokter justru mengatakan bahwa kondisi Dini “akan baik-baik saja karena usianya masih muda, jadi tubuhnya lebih kuat”.


Pernyataan ini sontak menuai kecaman dari tenaga medis. Sang bidan menegaskan bahwa pernyataan semacam itu sangat tidak bertanggung jawab dan jauh dari fakta ilmiah. “Kehamilan di usia remaja justru memiliki risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi, termasuk pendarahan antepartum maupun postpartum,” jelasnya.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, ibu hamil berusia di bawah 19 tahun berisiko tiga kali lipat mengalami kematian akibat komplikasi kehamilan dibandingkan ibu hamil usia dewasa. Tubuh remaja belum sepenuhnya matang secara fisiologis untuk menanggung beban kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu, menggambarkan kondisi tersebut sebagai “tak berbahaya karena masih muda” justru bisa menyesatkan remaja lain yang menonton.

2. Potensi Menjadi Role Model Negatif bagi Remaja
Selain ketidakakuratan medis, kritik utama terhadap Pernikahan Dini Gen Z adalah kekhawatiran bahwa serial ini bisa menjadi inspirasi—bukan peringatan—bagi remaja. “Karakter utama digambarkan romantis, stylish, dan seolah mudah mengatasi konsekuensi kehamilan di usia muda. Padahal kenyataannya jauh lebih kelam,” kata sang bidan.

Ia menambahkan, remaja yang masih dalam tahap pencarian identitas sangat rentan terpengaruh oleh narasi media. Jika serial ini tidak disertai peringatan eksplisit atau edukasi pendukung, maka pesan moral yang ingin disampaikan—yakni agar remaja tidak terburu-buru menikah—bisa terdistorsi. Alih-alih takut, mereka justru bisa melihat kisah Dini dan Rangga sebagai “romansa tragis” yang menarik untuk ditiru.

Fenomena ini bukan tanpa preseden. Sejumlah studi komunikasi menunjukkan bahwa tontonan populer memengaruhi persepsi risiko di kalangan remaja. Maka, tayangan yang menampilkan kehamilan remaja tanpa konteks edukasi kesehatan yang memadai berpotensi memperparah angka pernikahan dini di Indonesia, yang menurut BPS masih mencapai 23,4% pada 2023.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya