Emas Melesat 65% Sepanjang 2025: Kenaikan Terbesar Sejak 1979, Didorong Geopolitik dan Kebijakan Moneter Global
Emas Antam--
Emas Melesat 65% Sepanjang 2025: Kenaikan Terbesar Sejak 1979, Didorong Geopolitik dan Kebijakan Moneter Global
Tahun 2025 menjadi salah satu periode paling spektakuler dalam sejarah pasar emas modern. Harga logam mulia ini melonjak hampir 65% sepanjang tahun, mencatatkan kenaikan terbesar sejak 1979. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan hasil dari kombinasi dinamika ekonomi global, ketegangan geopolitik yang membara, serta perubahan strategi kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia.
Emas, yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven (pelindung nilai saat krisis), kembali membuktikan daya tariknya di tengah ketidakpastian ekonomi yang melanda berbagai belahan dunia. Namun, apa sebenarnya yang mendorong lonjakan harga yang begitu signifikan? Berikut analisis mendalam di balik fenomena emas yang sedang berada di puncak popularitasnya.
Suku Bunga Turun, Emas Jadi Lebih Menarik
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas adalah pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral global, terutama Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat. Sepanjang 2025, The Fed menurunkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali, dengan total pemangkasan mencapai 75 basis poin (bps). Langkah ini menempatkan Federal Funds Rate pada level terendah sejak 2022.
Mengapa ini penting? Emas adalah aset non-yielding, artinya tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau dividen. Saat suku bunga turun, imbal hasil dari instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi pemerintah juga menyusut. Akibatnya, investor mulai beralih ke emas sebagai alternatif yang lebih menarik, terutama dalam lingkungan inflasi yang masih fluktuatif.
Geopolitik Memanas, Emas Jadi Pelabuhan Aman
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik global turut menjadi katalis kuat bagi kenaikan harga emas. Di awal 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperkenalkan kebijakan tarif resiprokal yang kontroversial. Kebijakan ini menetapkan bahwa negara dengan surplus perdagangan terbesar terhadap AS akan dikenakan tarif bea masuk lebih tinggi.
Langkah ini bukan hanya memperkeruh hubungan dagang bilateral, tapi juga mengancam stabilitas rantai pasok global. Akibatnya, prospek pertumbuhan ekonomi dunia menjadi semakin suram dan penuh ketidakpastian—kondisi ideal bagi naiknya permintaan terhadap aset-aset aman seperti emas.
Sementara itu, sejumlah konflik bersenjata yang berkepanjangan turut memicu kekhawatiran investor. Perang Rusia-Ukraina, yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, masih belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian damai. Di Timur Tengah, situasi semakin memanas dengan keterlibatan Iran, salah satu kekuatan regional utama, yang memicu ketakutan akan eskalasi menuju Perang Teluk jilid baru.
Belum cukup sampai di situ, hubungan AS dan Venezuela juga mengalami penurunan drastis. Pemerintahan Trump memberlakukan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang masuk dan keluar Venezuela sebagai upaya untuk menekan rezim Presiden Nicolas Maduro. Langkah ini menambah daftar panjang ketegangan yang membuat pasar keuangan global semakin tidak stabil.
Bank Sentral Dunia Serbu Emas
Fenomena lain yang memperkuat tren kenaikan harga emas adalah pembelian masif oleh bank sentral global. Hingga Oktober 2025, bank-bank sentral di seluruh dunia telah menambah cadangan emas mereka sebanyak 254 ton, menjadikannya pembelian tahunan terbesar keempat dalam abad ke-21.
Negara-negara yang mencatat peningkatan signifikan antara lain Serbia, yang berencana menambah cadangan emasnya hingga 100 ton pada tahun 2030, hampir dua kali lipat dari posisi saat ini (52 ton). Presiden Serbia Aleksandar Vučić secara terbuka menyatakan komitmen negaranya untuk mendiversifikasi cadangan devisa dari dominasi dolar AS.
Dalam konferensi tahunan London Bullion Market Association (LBMA) di Kyoto, dua negara lain—Madagaskar dan Korea Selatan—juga mengisyaratkan niat mereka untuk meningkatkan kepemilikan emas, meski belum mengumumkan jadwal pembelian spesifik. Menurut Krishan Gopaul, Analis Senior di World Gold Council, survei terbaru menunjukkan bahwa 95% responden memperkirakan bank sentral global akan terus menambah cadangan emas mereka dalam beberapa tahun ke depan.
Diversifikasi dari Dolar AS dan Pasokan Emas yang Ketat
“Logam mulia diuntungkan secara ganda: pertama, dari tren kebijakan moneter yang longgar, dan kedua, dari upaya diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral yang mulai menjauh dari dominasi dolar AS,” ujar Michael Ball, Macro Strategist di Bloomberg.
Ia menambahkan bahwa pasokan emas fisik yang relatif ketat, ditambah dengan permintaan investor ritel yang tinggi, menciptakan latar belakang sempurna bagi emas untuk mencatatkan kinerja luar biasa sepanjang 2025.