Emas Melesat 65% Sepanjang 2025: Kenaikan Terbesar Sejak 1979, Didorong Geopolitik dan Kebijakan Moneter Global
Emas Antam--
Prospek Emas 2026: Menuju Rekor Baru di Atas US$5.000?
Lalu, bagaimana prospek harga emas di tahun 2026? Apakah lonjakan dramatis pada 2025 akan berlanjut, atau justru berbalik arah?
Sejumlah lembaga keuangan ternama memperkirakan bahwa tren kenaikan masih akan berlangsung, bahkan berpotensi mencetak rekor baru.
Goldman Sachs Inc. memproyeksikan harga emas pada skenario dasar mencapai US$4.900 per troy ons pada 2026, dengan potensi upside lebih tinggi lagi.
Bob Michele, Chief Investment Officer di JPMorgan Asset Management, bahkan lebih optimis. Dalam wawancara dengan Bloomberg News, ia memprediksi harga emas bisa menyentuh US$5.000 per troy ons tahun depan.
Sementara itu, ANZ Group Holdings Ltd. memperkirakan puncak harga akan terjadi pada akhir kuartal II-2026, dengan level tertinggi di kisaran US$4.800 per troy ons, sebelum kemudian mengalami koreksi.
Yang menarik, dalam survei terbaru Bank of America Corp, emas diprediksi menjadi pilihan investasi terpopuler kedua di dunia pada 2026—hanya kalah dari yen Jepang, dan bahkan mengungguli aset-aset safe haven tradisional lainnya seperti dolar AS, euro, dan franc Swiss.
Penutup: Emas di Tengah Badai Ketidakpastian Global
Lonjakan harga emas sepanjang 2025 bukanlah kebetulan. Ia adalah cerminan dari dunia yang semakin penuh risiko: dari perang dagang hingga konflik bersenjata, dari krisis energi hingga fragmentasi sistem keuangan global. Di tengah badai ini, emas tetap menjadi mercusuar bagi investor yang mencari stabilitas.
Dengan bank sentral yang terus membeli, suku bunga yang masih rendah, dan ketegangan geopolitik yang belum reda, semua tanda menunjukkan bahwa 2026 mungkin akan menjadi tahun emas dalam arti yang sesungguhnya—baik secara harfiah maupun metaforis.
Bagi investor ritel, ini adalah pengingat penting: dalam dunia yang penuh ketidakpastian, terkadang logam kuning tua tetap menjadi jawaban paling modern.