Super Flu Mulai Menyebar di Indonesia: Ini Perbedaan Nyata dengan Flu Biasa yang Wajib Diketahui

Super Flu Mulai Menyebar di Indonesia: Ini Perbedaan Nyata dengan Flu Biasa yang Wajib Diketahui

flu-pixabay-

Super Flu Mulai Menyebar di Indonesia: Ini Perbedaan Nyata dengan Flu Biasa yang Wajib Diketahui

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengumumkan temuan terbaru yang mengejutkan publik: varian virus influenza yang dijuluki “super flu” telah terdeteksi masuk ke wilayah Indonesia. Pengumuman ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama di tengah musim hujan yang kerap meningkatkan risiko penularan penyakit pernapasan.



Kasus pertama “super flu” di Tanah Air dikonfirmasi pada Kamis, 25 Desember 2025, berdasarkan laporan resmi dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK). Temuan ini menandai awal dari potensi penyebaran yang lebih luas, mengingat karakteristik virus ini yang jauh lebih mudah menular dibandingkan flu musiman biasa.

Namun, di balik kehebohan istilah “super flu”, para ahli kesehatan justru mengingatkan bahwa penamaan tersebut bisa menyesatkan. Menurut dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), seorang subspesialis pulmonologi dan respirologi anak sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), istilah “super flu” sebenarnya tidak dikenal dalam dunia medis.

“Secara ilmiah, tidak ada istilah ‘super flu’. Yang dimaksud masyarakat sebenarnya adalah infeksi influenza tipe A, khususnya subvarian H3N2 dengan subclade K,” jelas dr. Nastiti dalam keterangan pers baru-baru ini.


Mengapa Disebut “Super”? Ini Fakta Sebenarnya
Meski bukan penyakit baru, subvarian H3N2 subclade K ini menarik perhatian karena pola penyebarannya yang sangat agresif. Berdasarkan data epidemiologis global, satu orang yang terinfeksi varian ini dapat menularkan virus kepada dua hingga tiga orang di sekitarnya—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan flu musiman biasa.

Penularan terjadi melalui droplet saat penderita batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Selain itu, virus juga dapat bertahan di permukaan benda seperti gagang pintu, layar ponsel, atau meja kerja selama beberapa jam, sehingga menyentuh benda terkontaminasi lalu menyentuh wajah bisa menjadi jalur infeksi lainnya.

“Masyarakat perlu waspada, tapi jangan panik berlebihan,” tegas dr. Nastiti. “Ini bukan virus baru, melainkan varian yang sudah ada, namun dengan kemampuan transmisi yang lebih tinggi dan gejala yang cenderung lebih berat.”

Perbedaan Kunci: Super Flu vs Flu Biasa
Meski sama-sama disebabkan oleh virus influenza, ada sejumlah perbedaan signifikan antara apa yang disebut “super flu” dan flu biasa:

Tingkat Penularan
Flu biasa umumnya menyebar dari satu orang ke satu atau dua orang lainnya. Sementara varian H3N2 subclade K dilaporkan memiliki angka reproduksi dasar (R0) yang lebih tinggi, mempercepat penyebaran di komunitas padat.
Gejala yang Lebih Berat
Penderita “super flu” kerap mengalami demam tinggi hingga 39–40°C, disertai kelelahan ekstrem yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Gejala lain termasuk batuk kering yang persisten, sakit kepala hebat, nyeri otot, dan kelemahan umum yang berlangsung lebih lama.
Durasi Pemulihan Lebih Lama
Jika flu biasa biasanya sembuh dalam 5–7 hari, infeksi oleh varian ini bisa berlangsung hingga 10–14 hari, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan komorbid.
Risiko Komplikasi Lebih Tinggi
Varian H3N2 diketahui memiliki risiko lebih besar menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, bronkitis, bahkan eksaserbasi penyakit kronis seperti asma atau penyakit jantung.
Langkah Pencegahan yang Efektif
Menghadapi potensi peningkatan kasus, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan berbasis ilmu pengetahuan:

Segera vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan.
Hindari menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci.
Gunakan masker di tempat umum, terutama di ruang tertutup atau area padat.
Jaga jarak fisik jika mengalami gejala batuk, demam, atau pilek.
Tingkatkan imunitas melalui pola makan bergizi, tidur cukup, dan aktivitas fisik rutin.
“Vaksin influenza yang tersedia saat ini masih efektif melawan varian H3N2, meski perlindungannya tidak 100 persen. Namun, vaksinasi tetap menjadi cara terbaik untuk mencegah gejala berat dan komplikasi,” tambah dr. Nastiti.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya