Super Flu Muncul di Akhir 2025: Apa yang Perlu Diketahui Masyarakat Indonesia?

Super Flu Muncul di Akhir 2025: Apa yang Perlu Diketahui Masyarakat Indonesia?

flu-pixabay-

Super Flu Muncul di Akhir 2025: Apa yang Perlu Diketahui Masyarakat Indonesia?

Di penghujung tahun 2025, dunia kesehatan kembali dikejutkan dengan munculnya varian baru virus influenza yang disebut “Super Flu”. Istilah ini kini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media, terutama setelah dilaporkan telah menyebar di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Serikat. Di Indonesia, Kementeruan Kesehatan (Kemenkes) telah memberikan tanggapan resmi terkait keberadaan virus tersebut, meski menegaskan bahwa hingga kini belum ada dampak signifikan terhadap situasi epidemi influenza di Tanah Air.



Apa Itu Super Flu?
Super Flu merujuk pada subclade baru dari virus influenza A (H3N2), tepatnya subclade K. Virus ini pertama kali terdeteksi secara luas sekitar 25 Desember 2025. Meski namanya terdengar menakutkan, para ahli menekankan bahwa “Super Flu” bukanlah penyakit baru, melainkan varian evolusioner dari virus influenza A yang telah lama beredar. Namun, karakteristik subclade K ini diduga memiliki potensi penularan yang lebih tinggi dan gejala yang lebih berat dibandingkan strain influenza biasa.

Menurut laporan dari Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, pemantauan kasus influenza di Indonesia justru menunjukkan tren penurunan selama dua bulan terakhir. “Dominasi kasus masih berasal dari influenza A, namun tidak ada peningkatan signifikan yang mengindikasikan penyebaran subclade K di masyarakat,” ungkapnya.

Meski demikian, Kemenkes tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. “Meskipun belum terdeteksi luas di Indonesia, kita harus tetap waspada. Penggunaan masker, terutama di tempat ramai, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus terus ditingkatkan,” tambah dr. Prima.


Super Flu Mengguncang New York
Sementara di Indonesia situasi masih terkendali, di Amerika Serikat—khususnya New York—Super Flu telah menyebabkan lonjakan kasus yang cukup mengkhawatirkan. Hingga 20 Desember 2025, tercatat sebanyak 71.123 kasus positif influenza dilaporkan hanya dalam satu pekan. Angka ini menandai peningkatan 38 persen dibandingkan minggu sebelumnya.

Yang lebih mencemaskan, jumlah pasien yang membutuhkan rawat inap akibat komplikasi flu juga melonjak hingga 63 persen, mencapai total 3.666 pasien di seluruh negara bagian New York. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan tenaga medis dan otoritas kesehatan setempat, yang kini mempercepat distribusi vaksin dan menggalakkan kampanye kesehatan masyarakat.

Apakah Super Flu Lebih Berbahaya?
Dr. dr. Nastiti Kaswandani, SpA, SubspRespi(K), yang juga merupakan anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa meskipun belum ada penelitian definitif yang membuktikan Super Flu lebih mematikan, ada indikasi kuat bahwa subclade K dapat menimbulkan gejala yang lebih parah—terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta (komorbid).

“Secara umum, influenza A mampu menularkan virus ke 2–3 orang. Jika Super Flu memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, maka potensi penyebarannya jauh lebih luas,” jelas dr. Nastiti.

Gejala Super Flu tidak jauh berbeda dari flu biasa, namun cenderung lebih intens. Di antaranya meliputi:

Demam tinggi yang sulit diturunkan
Nyeri tenggorokan parah
Sakit kepala berkepanjangan
Menggigil hebat
Keluhan pernapasan seperti sesak napas atau batuk berdahak
Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia atau komplikasi pernapasan lain yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Vaksin Influenza: Perisai Terbaik
Salah satu langkah pencegahan paling efektif terhadap Super Flu adalah vaksinasi. Vaksin influenza musiman yang tersedia saat ini telah dirancang untuk menargetkan strain-strain dominan termasuk H3N2. Meskipun tidak 100 persen melindungi dari infeksi, vaksin terbukti mampu mengurangi keparahan gejala dan menurunkan risiko rawat inap.

“Jika seseorang sudah divaksinasi dan tetap terinfeksi, kemungkinan besar gejalanya tidak akan separah mereka yang tidak divaksin,” tegas dr. Nastiti.

Kemenkes RI menyarankan agar masyarakat, terutama kelompok rentan, segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk menerima vaksin influenza tahunan. Vaksin ini aman, tersedia di puskesmas maupun rumah sakit, dan sebagian besar ditanggung oleh program pemerintah.

Pengaruh Cuaca dan Pola Hidup
Seperti halnya influenza pada umumnya, penyebaran Super Flu juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan—khususnya perubahan cuaca. Di Indonesia, peningkatan kasus influenza biasanya terjadi pada musim hujan, ketika kelembapan tinggi dan suhu berfluktuasi, menciptakan kondisi ideal bagi virus untuk bertahan dan menyebar.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya