Mengapa Pulau Kalimantan Bisa Rayakan Tahun Baru Dua Kali? Ini Penjelasan Historis dan Geografisnya
tanda tanya-geralt/pixabay-
Mengapa Pulau Kalimantan Bisa Rayakan Tahun Baru Dua Kali? Ini Penjelasan Historis dan Geografisnya
Tepat saat lonceng pergantian tahun berdentang di tengah malam, jutaan orang di seluruh dunia merayakan awal yang baru dengan sukacita, harapan, dan semangat segar. Namun, tahukah Anda bahwa di Indonesia, ada satu-satunya pulau yang bisa “merayakan” Tahun Baru dua kali dalam satu malam? Ya, pulau tersebut adalah Kalimantan.
Fenomena unik ini bukanlah sekadar mitos atau cerita rakyat, melainkan fakta geografis dan administratif yang didukung oleh kebijakan pemerintah. Pulau terbesar ketiga di dunia ini—yang sebagian besar wilayahnya dikuasai Indonesia—menjadi satu-satunya pulau di Nusantara yang dibelah oleh dua zona waktu berbeda: Waktu Indonesia Barat (WIB) dan Waktu Indonesia Tengah (WITA). Akibatnya, saat sebagian warga Kalimantan sudah memasuki 1 Januari pukul 00.00 WIB, warga di bagian lainnya masih berada di 31 Desember pukul 23.00 WITA—sehingga “masih bisa” merayakan malam pergantian tahun sekali lagi satu jam kemudian.
Dua Zona Waktu, Satu Pulau
Berbeda dengan pulau-pulau besar lain di Indonesia—seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, atau Papua—yang masing-masing berada dalam satu zona waktu, Kalimantan justru terbelah. Bagian barat dan tengah pulau, yaitu Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng), berada di bawah zona WIB (UTC+7). Sementara itu, provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kalimantan Utara (Kaltara) mengikuti zona WITA (UTC+8).
Perbedaan ini berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari, terutama saat momen-momen nasional seperti libur nasional, siaran langsung acara penting, hingga—tentu saja—perayaan Tahun Baru. Warga Pontianak di Kalbar, misalnya, menyambut 1 Januari pukul 00.00 WIB, sementara warga Balikpapan di Kaltim baru akan merayakannya satu jam kemudian, tepat pukul 00.00 WITA.
Asal-Usul Perubahan Zona Waktu: Dari Satu Menjadi Dua
Menariknya, kondisi ini bukanlah sesuatu yang selalu ada sejak dulu. Pada awalnya, seluruh wilayah Kalimantan—termasuk Kalbar dan Kalteng—berada dalam zona waktu WITA, sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 243 Tahun 1963. Kebijakan tersebut menetapkan pembagian zona waktu nasional dengan hanya dua wilayah: WIB dan WITA, sebelum kemudian wilayah Indonesia Timur (WIT) ditambahkan.
Namun, seiring perkembangan administrasi negara dan kebutuhan sinkronisasi dengan aktivitas nasional dan internasional, pemerintah merevisi kebijakan tersebut. Melalui Keppres Nomor 41 Tahun 1987 tentang Pembagian Wilayah Republik Indonesia Menjadi Tiga Wilayah Waktu, dilakukan penyesuaian besar-besaran. Dalam aturan baru ini, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dialihkan dari WITA ke WIB, sementara Bali juga mengalami pergeseran serupa—tetapi justru sebaliknya, dari WIB ke WITA.
Alasan utama di balik perubahan tersebut, menurut dokumen resmi pemerintah, adalah ketidaksesuaian antara pembagian zona waktu sebelumnya dengan realitas geografis dan aktivitas sosial-ekonomi di wilayah-wilayah tersebut. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, yang berbatasan langsung dengan provinsi-provinsi di Sumatra dan Jawa (yang berada di WIB), dinilai lebih sinkron secara ekonomi, komunikasi, dan transportasi jika menggunakan zona waktu yang sama.
Dampak Sosial dan Kultural dari Perbedaan Zona Waktu
Perbedaan zona waktu di Kalimantan tidak hanya menjadi bahan obrolan menarik saat pergantian tahun, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, dalam dunia pendidikan, siaran televisi, jadwal penerbangan, hingga koordinasi antarinstansi pemerintah daerah.
Bagi warga yang tinggal di perbatasan antarprovinsi—seperti antara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan—perbedaan waktu ini kadang memunculkan keunikan tersendiri. Mereka bisa menerima ucapan “Selamat Tahun Baru!” dua kali, dengan selisih hanya 60 menit. Fenomena ini bahkan kerap menjadi konten viral di media sosial setiap akhir Desember, dengan netizen berlomba-lomba membagikan momen “perayaan ganda” mereka.