TAMPANG An Shaohong Alias Antony Sosok di Balik Tiga Emiten yang Kini Jadi Buronan Otoritas China, Simak Biodata Lengkapnya!
TAMPANG An Shaohong Alias Antony Sosok di Balik Tiga Emiten yang Kini Jadi Buronan Otoritas China, Simak Biodata Lengkapnya!
Nama An Shaohong, atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrab Antony, kini tengah menjadi sorotan publik di Indonesia maupun internasional. Bukan karena prestasi bisnisnya yang gemilang, melainkan karena statusnya yang resmi ditetapkan sebagai buronan oleh otoritas China. Pria berkebangsaan Tiongkok ini diduga telah melanggar ketentuan izin tinggalnya, sehingga masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh pemerintah negara asalnya.
Yang menarik, Antony bukanlah sosok asing di dunia korporasi Indonesia, khususnya di sektor baja, properti, dan perdagangan umum. Ia tercatat menjabat sebagai Direktur Utama PT Green Power Group Tbk (kode saham: LABA), perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan distribusi baja. Selain itu, ia juga menempati posisi strategis sebagai Komisaris Utama di dua perusahaan publik lainnya, yakni PT Bangun Karya Perkasa Tbk (KRYA) dan PT Oscar Mitra Sukses Indonesia Tbk (OLIV). Dengan portofolio seluas ini, langkah hukum yang diambil otoritas China terhadapnya tentu mengundang tanda tanya besar di kalangan investor dan pengamat pasar modal.
Latar Belakang Pendidikan dan Karier Awal yang Tak Biasa
Lahir di Zhejiang, salah satu provinsi pesisir paling dinamis di Tiongkok bagian tenggara, pada 9 Juni 1970, Antony memulai perjalanan akademisnya di Zhejiang University, salah satu kampus paling bergengsi di China. Ia menempuh studi S1 di bidang Atmospheric Dynamics (Meteorologi) dari 1988 hingga 1992—sebuah latar belakang yang tampaknya jauh dari dunia bisnis baja dan properti yang kini ia geluti.
Namun, seperti banyak pengusaha sukses asal Tiongkok, Antony membuktikan bahwa latar belakang akademis bukanlah batasan. Ia justru menunjukkan kepiawaian dalam beradaptasi dan membangun jaringan bisnis lintas sektor. Pada tahun 2008–2010, ia memperkuat fondasi manajerialnya dengan menyelesaikan program Magister di Cheung Kong Graduate School of Business (CKGSB), institusi bergengsi yang dikenal melahirkan para pemimpin bisnis kelas dunia.
Jejak Karier Korporat yang Mengesankan
Perjalanan profesional Antony dimulai tak lama setelah lulus kuliah. Pada 1992, ia langsung menjabat sebagai Direktur Utama di Zhejiang Ruixun Technology Development Co., Ltd., sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di kampung halamannya. Ia memimpin perusahaan tersebut selama lebih dari satu dekade, hingga 2003, menunjukkan ketangguhannya dalam mengelola bisnis di tengah transformasi ekonomi Tiongkok pasca-reformasi Deng Xiaoping.
Langkah berikutnya membawanya ke sektor properti real estat. Dari 2003 hingga 2009, ia menjabat sebagai Komisaris Utama di Hefei Huitong Real Estate Development Company, perusahaan pengembang properti yang beroperasi di wilayah Anhui. Di sinilah ia mulai memperluas jaringan keuangan dan investasinya, sekaligus memperdalam pemahaman tentang dinamika pasar properti di Tiongkok—pengalaman yang kelak menjadi fondasi penting saat ia memasuki pasar Indonesia.
Ekspansi ke Indonesia dan Jejak di Bursa Efek
Masuknya Antony ke kancah bisnis Indonesia terjadi dalam beberapa tahun terakhir, ketika ia mulai mengambil alih posisi kunci di sejumlah emiten. Di PT Green Power Group Tbk (LABA), perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2022, ia menjabat sebagai Direktur Utama. LABA sendiri berfokus pada produksi dan distribusi baja, termasuk baja canai panas dan dingin, yang menjadi tulang punggung industri manufaktur nasional.
Selain LABA, Antony juga menduduki kursi Komisaris Utama di PT Bangun Karya Perkasa Tbk (KRYA)—perusahaan konstruksi dan perdagangan umum—serta PT Oscar Mitra Sukses Indonesia Tbk (OLIV), yang bergerak di bidang distribusi dan perdagangan barang konsumsi. Dengan tiga perusahaan publik di bawah pengaruhnya, keberadaan Antony seharusnya menjadi aset penting bagi ekosistem investasi Indonesia.
Update Terbaru
OJK Batasi Kepemilikan Asing PVML Maksimal 85 Persen
Kamis / 18-06-2026, 19:33 WIB
PLN Akui Pemadaman Bergilir di Jawa Timur Akibat Pasokan Batu Bara Menurun
Kamis / 18-06-2026, 19:32 WIB
Menlu Sugiono Dorong Kerja Sama Nuklir RI-Rusia untuk Ketahanan Energi
Kamis / 18-06-2026, 19:32 WIB
Pelita Jaya Jakarta Waspadai Tiga Pemain Asing Bogor Hornbills di Final IBL
Kamis / 18-06-2026, 19:32 WIB
BI Turunkan Batas Beli Valas Tanpa Underlying Jadi 10.000 Dolar AS per 1 Juli
Kamis / 18-06-2026, 19:32 WIB
Menhan Sjafrie Minta Prajurit YTP di Aceh Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
Kamis / 18-06-2026, 19:32 WIB
OJK Batasi Kepemilikan Asing Fintech P2P Lending Maksimal 85 Persen
Kamis / 18-06-2026, 19:32 WIB
Studi Baru: Narsisme Ternyata Bisa Diturunkan dari Orang Tua
Kamis / 18-06-2026, 19:29 WIB
Festival Film Indonesia 2026 Resmi Dimulai, Pendaftaran Dibuka Hari Ini
Kamis / 18-06-2026, 19:29 WIB
Bank Mandiri Gelar Mandiri Jogja Marathon 2026 di Candi Prambanan
Kamis / 18-06-2026, 19:29 WIB
PLN UID Jatim Kurangi Pasokan Listrik Akibat Penurunan Suplai Batu Bara
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
OJK Tetapkan Tujuh Direksi Baru BEI Periode 2026-2030
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
Petugas Landis Sektor 5 Makkah Kawal Ribuan Jemaah Haji Lansia
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
Menkeu Purbaya Yakinkan Investor China soal Stabilitas Fiskal Indonesia
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB






