Apa Arti Pita Merah? Simbol Solidaritas Global di Hari AIDS Sedunia yang Wajib Kamu Tahu

Apa Arti Pita Merah? Simbol Solidaritas Global di Hari AIDS Sedunia yang Wajib Kamu Tahu

ilustrasi-pixabay-

Apa Arti Pita Merah? Simbol Solidaritas Global di Hari AIDS Sedunia yang Wajib Kamu Tahu

Setiap 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sedunia—sebuah momen penting untuk menunjukkan solidaritas, meningkatkan kesadaran, serta melawan stigma yang masih melekat pada orang yang hidup dengan HIV. Di tengah perayaan ini, satu simbol menjadi ikon universal yang mudah dikenali: pita merah. Tapi tahukah kamu, di balik warna merah yang sederhana itu, tersimpan makna mendalam tentang empati, penghormatan, dan perjuangan global melawan epidemi yang telah mengubah jutaan kehidupan?



Hari AIDS Sedunia: Lebih dari Sekadar Peringatan Tahunan
Hari AIDS Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 1988 dan sejak itu menjadi momentum global untuk mengedukasi masyarakat, mendorong akses pengobatan, serta mendukung mereka yang terdampak HIV/AIDS. Menurut data terbaru dari UNAIDS, sekitar 38 juta orang di seluruh dunia saat ini hidup dengan virus HIV. Sementara itu, lebih dari 35 juta nyawa telah hilang dalam empat dekade terakhir akibat komplikasi terkait AIDS—angka yang mengejutkan dan menyedihkan, namun sekaligus menjadi pengingat betapa pentingnya upaya pencegahan, pengobatan, dan penerimaan sosial.

Peringatan ini bukan hanya soal angka statistik, melainkan juga tentang kisah-kisah manusia: orang-orang yang berjuang melawan penyakit, keluarga yang kehilangan orang tercinta, tenaga medis yang tanpa lelah merawat pasien, serta aktivis yang terus memperjuangkan hak-hak para penyintas HIV.

Pita Merah: Simbol Kemanusiaan yang Lahir dari Seni
Salah satu elemen paling ikonik dari Hari AIDS Sedunia adalah pita merah yang kerap dikenakan di dada—di jaket, tas, atau bahkan di media sosial sebagai bentuk dukungan. Tapi dari mana asalnya simbol ini?


Pita merah pertama kali diciptakan pada tahun 1991 oleh sekelompok seniman yang tergabung dalam Visual AIDS Artists Caucus, sebuah komunitas seni di New York yang fokus pada isu HIV/AIDS. Dalam pertemuan mereka, 12 seniman berdiskusi tentang kebutuhan akan ekspresi visual yang sederhana namun kuat untuk menunjukkan empati terhadap mereka yang terinfeksi HIV—terutama saat stigma sosial masih sangat tinggi dan banyak orang enggan berbicara terbuka tentang penyakit ini.

Mereka sepakat untuk menciptakan simbol yang mudah dibuat, murah, dan bisa dikenakan siapa saja—tanpa memandang usia, gender, latar belakang, atau status sosial. Dari sana, lahirlah pita merah, terinspirasi dari pita kuning yang digunakan untuk mendukung tentara AS, namun dengan warna yang lebih emosional dan universal: merah.

Mengapa Warna Merah?
Warna merah dipilih bukan tanpa alasan. Dalam banyak budaya, merah melambangkan cinta, gairah, keberanian, dan kehidupan—semua nilai yang relevan dalam konteks perjuangan melawan HIV/AIDS. Merah juga menggambarkan darah, mengingatkan kita bahwa virus ini menyerang tubuh manusia secara biologis, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap orang yang terinfeksi tetap layak dihargai, dicintai, dan didukung.

Pita merah bukan hanya aksesori mode—ia adalah pernyataan politik, seruan moral, dan jembatan empati antara mereka yang sehat dan mereka yang sakit. Dengan memakainya, seseorang menyatakan: “Aku peduli. Aku tidak takut. Aku menolak stigma.”

Baca juga: Apa Penyebab Muhammad Rizki Saputra Alias Ciko Meninggal Dunia? Ini Kronologi Tewasnya Anak Bos Kerudung Tasikmalaya Benarkah Akibat Kecelakaan Mobil Pajero?

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya