Banjir Bandang di Sumatra Telan Ratusan Jiwa: Starlink Elon Musk Beri Internet Gratis—Tapi Hanya untuk Pengguna yang Sudah Terdaftar

Banjir Bandang di Sumatra Telan Ratusan Jiwa: Starlink Elon Musk Beri Internet Gratis—Tapi Hanya untuk Pengguna yang Sudah Terdaftar

Banjir-Instagram-

Banjir Bandang di Sumatra Telan Ratusan Jiwa: Starlink Elon Musk Beri Internet Gratis—Tapi Hanya untuk Pengguna yang Sudah Terdaftar

Bencana Alam Terparah dalam Satu Dekade Mengguncang Sumatra
Duka mendalam menyelimuti wilayah Sumatra setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi sekaligus—Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—dalam beberapa hari terakhir. Bencana yang terjadi sejak akhir pekan lalu ini tergolong sebagai salah satu yang paling mematikan dalam dekade terakhir, menghancurkan permukiman, memutus akses jalan, dan memaksa ribuan warga mengungsi demi menyelamatkan nyawa.



Hingga Sabtu (29/11/2025) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan angka korban yang mengkhawatirkan: setidaknya 303 orang telah meninggal dunia, sementara 279 jiwa lainnya masih dalam status hilang. Data ini terus diperbarui seiring upaya tim SAR yang bekerja tanpa henti di medan yang sulit dan cuaca yang masih tidak menentu.

Fenomena Langka Siklon Senyar Jadi Pemicu Utama
Menurut kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bencana ini dipicu oleh Siklon Senyar, sebuah fenomena meteorologis langka yang terbentuk di wilayah khatulistiwa—tempat biasanya tidak terjadi pembentukan siklon tropis. Siklon ini menghadirkan curah hujan ekstrem dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama berhari-hari tanpa henti.

“Siklon Senyar memicu akumulasi hujan hingga lebih dari 300 milimeter per hari di beberapa titik, melampaui kapasitas drainase alami dan buatan,” jelas seorang peneliti BRIN. Kondisi geografis Sumatra yang bergunung dan berlembah memperparah risiko longsor, terutama di kawasan dengan tutupan hutan yang telah terdegradasi.


Ribuan Rumah Hancur, Akses Jalan Terputus Total
Dampak bencana tidak hanya terasa dari angka korban jiwa. Ratusan desa kini terisolasi sepenuhnya akibat jembatan ambruk dan jalan utama tertimbun lumpur dan batu. Di beberapa daerah terpencil, bantuan logistik dan medis masih belum bisa menjangkau warga karena medan yang terlalu berat.

Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Basarnas, dan relawan lokal telah mendirikan puluhan posko pengungsian sementara. Namun, tantangan terbesar kini adalah komunikasi dan koordinasi—karena jaringan seluler dan infrastruktur internet di banyak lokasi rusak parah atau bahkan lenyap sama sekali.

Starlink Elon Musk Turun Tangan, Tawarkan Internet Gratis—Tapi dengan Syarat
Di tengah keputusasaan itu, muncul secercah harapan dari langit—tepatnya dari satelit. Starlink, layanan internet satelit milik Elon Musk, mengumumkan langkah kemanusiaan cepat melalui akun resminya di X (dulu Twitter): akses internet gratis selama satu bulan penuh bagi pengguna yang terdampak di Sumatra.

“Mulai hari ini hingga akhir Desember 2025, semua pelanggan Starlink di wilayah terdampak bencana di Sumatra akan menerima layanan internet gratis secara otomatis,” demikian pernyataan resmi Starlink.

Namun, ada catatan penting yang perlu digarisbawahi: bantuan ini hanya berlaku bagi pelanggan yang sudah memiliki perangkat Starlink dan telah berlangganan sebelum bencana terjadi. Artinya, masyarakat yang belum pernah menggunakan layanan ini—termasuk pemerintah daerah, relawan, atau warga yang baru ingin mengakses—tidak bisa serta-merta mendapatkan akses gratis tanpa membeli perangkat terlebih dahulu.

Yang menarik, Starlink juga menjamin bahwa bahkan pelanggan yang sebelumnya menonaktifkan atau menunda langganan (pause/hold) akan langsung aktif kembali selama periode bantuan ini, tanpa perlu melakukan pengaturan manual.

Koordinasi dengan Pemerintah, Distribusi Terminal Baru Dipacu
Dalam pernyataan lanjutannya, Starlink mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi erat dengan pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika serta BNPB, untuk mempercepat distribusi terminal satelit tambahan ke daerah-daerah yang paling parah terdampak.

“Tujuan utama kami adalah memastikan bahwa komunikasi darurat tetap hidup. Internet bukan sekadar kebutuhan, tapi jembatan penyelamat nyawa dalam situasi krisis,” tulis tim Starlink.

Mengapa Konektivitas Jadi Nyawa dalam Bencana?
Di era digital, akses internet selama bencana bukan lagi kemewahan—ia adalah sarana penyelamatan nyawa. Melalui koneksi internet, warga bisa:

Mengakses informasi terkini tentang kondisi cuaca dan jalur evakuasi
Menghubungi keluarga dan relawan di luar zona bencana
Melaporkan lokasi korban yang terjebak
Mendapatkan panduan medis darurat
Mengkoordinasikan distribusi logistik secara real-time
Bagi para pengungsi yang kehilangan segalanya, kemampuan untuk tetap terhubung dengan dunia luar bisa menjadi penghiburan psikologis sekaligus alat untuk bertahan hidup.

Baca juga: Deretan Film dan Serial Terbaru di Netflix 1–7 Desember 2025: Drakor Pro Bono Hingga Misteri Sihir Pelakor yang Bikin Penasaran!

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya