Organisasi mahasiswa dan aktivis hak asasi manusia pun mulai menyerukan audit menyeluruh terhadap budaya kampus di seluruh Indonesia. Mereka mendesak agar pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) segera mengeluarkan regulasi tegas yang melindungi mahasiswa dari segala bentuk kekerasan psikologis dan fisik di lingkungan akademik.

Keluarga Korban: “Timothy Anak yang Baik dan Penyayang”
Dalam wawancara eksklusif dengan keluarga, ibunda Timothy, Ibu Maria Saputri, menangis tersedu-sedu saat mengenang putranya. “Timothy itu anak yang sangat baik, rajin, dan selalu peduli pada orang lain. Kami tidak pernah menyangka dia harus mengalami hal sekejam ini,” ujarnya dengan suara bergetar.

Baca juga: Tampang Erick Gonata Mahasiswa Kedokteran yang jadi Salah Satu Pembully Timothy Anugerah Saputra Mahasiswa Universitas Udayana Hingga Meninggal Dunia

Keluarga kini meminta keadilan penuh atas kematian Timothy. Mereka berharap kasus ini tidak hanya berakhir dengan sanksi akademik, tetapi juga ditindaklanjuti secara hukum jika terbukti ada unsur pidana dalam tindakan perundungan tersebut.

Refleksi Bersama: Kampus Harus Jadi Rumah, Bukan Medan Perang
Kematian Timothy Anugerah Saputra bukan sekadar tragedi pribadi, melainkan cermin dari kegagalan kolektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berempati. Di tengah era digital yang seharusnya mempermudah komunikasi dan memperluas akses terhadap dukungan, ironisnya, justru menjadi sarana baru bagi pelaku bullying untuk menyakiti sesamanya secara anonim dan kejam.

Kini, seluruh elemen masyarakat—mulai dari civitas akademika, orang tua, pemerintah, hingga masyarakat sipil—ditantang untuk bersatu melawan budaya perundungan. Karena setiap nyawa berharga, dan tak seorang pun layak kehilangan harapan hanya karena kekejaman sesama manusia.