Pada Hari Kemerdekaan AS, di depan 72.000 penggemar di jantung Texas, Maroko mengingatkan bahwa bertahan adalah sebuah keterampilan.

Kanada memberikan segalanya selama 45 menit, dan tampaknya dongeng tuan rumah bersama akan berlanjut. Namun, Azzedine Ounahi muncul dua kali.

>>> Dewa United Resmi Berpisah dengan Jan Olde Riekerink

Maroko menang 3-0 untuk merebut tiket perempat final melawan Prancis atau Paraguay. Perjalanan bersejarah Kanada berakhir di babak 16 besar dengan kepala tegak.

Babak Pertama yang Menegangkan

Babak pertama tidak bisa ditutupi: Maroko goyah. Kanada menekan tanpa henti, mencatat 13 sentuhan di kotak penalti Maroko berbanding satu milik Maroko.

Jonathan David menguji Yassine Bounou, Tani Oluwaseyi gagal memanfaatkan peluang satu lawan satu, dan cedera Ismael Saibari setelah 22 menit memperparah kepanikan.

Tujuh kartu kuning sebelum turun minum menunjukkan betapa kacaunya situasi.

Kebangkitan di Babak Kedua

Apa yang berubah? Istirahat, terutama.

Maroko keluar lebih tenang, berhenti memaksakan umpan melalui tekanan Kanada, dan membiarkan permainan bernapas.

Lima menit babak kedua, Ounahi melepaskan tembakan dari tepi kotak penalti memanfaatkan umpan Achraf Hakimi, dan tekanan langsung berbalik.

Sejak saat itu, Maroko bermain cerdas: bertahan rapat dan membunuh Kanada melalui serangan balik. Ini bukan kebangkitan skor, melainkan kebangkitan mental.

Prestasi Bersejarah Kanada

Ini sudah menjadi Piala Dunia terbaik dalam sejarah Kanada.

Imbang dengan Bosnia dan Herzegovina di Toronto untuk poin pertama, kemenangan 6-0 atas Qatar dengan hattrick Jonathan David, dan kemenangan pertama di babak gugur berkat gol Stephen Eustaquio.

Namun, tanda tanya tetap ada. Alphonso Davies, yang belum pulih cedera, absen sepanjang fase grup dan hanya duduk di bangku cadangan.