Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melampaui batas yang telah ditetapkan.

Pernyataan itu disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Diponegoro, Semarang, Jumat (3/7/2026).

>>> APBN 2026 Alokasikan Rp769,1 Triliun untuk Pendidikan, Dorong Investasi SDM

Ia mengaku siap memotong belanja negara jika defisit berpotensi melebihi 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menurut Purbaya, kondisi fiskal dipantau secara rutin setiap pekan hingga bulan. Hal itu dilakukan agar seluruh program prioritas tetap berjalan sesuai kemampuan keuangan negara.

"Kita monitor kondisi fiskal setiap minggu, setiap bulan. Dulu sempat ribut kan?

Oh, akan lewat lewat. Saya bilang, nggak mungkin lewat.

Analis di pasar bilang, oh lewat 3 persen. Saya bilang, nggak mungkin lewat.

Apa hasilnya? Saya potong aja belanjanya, turun kan?

>>> Sarwendah dan Ruben Onsu Saling Siapkan Kejutan di Sidang Hak Asuh Anak

Itulah disiplin fiskal," ujar Purbaya.

Ia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjalankan program prioritas nasional. Namun, komitmen tersebut tidak boleh mengorbankan kesehatan fiskal negara.

Apabila terdapat indikasi defisit melampaui batas, Kementerian Keuangan akan segera melakukan penyesuaian anggaran. "Perkembangan program prioritas tetap jalan tapi fiskalnya kita kendalikan terus.

Kalau melebihi, ya saya potong," tegasnya.

Disiplin Fiskal untuk Optimalkan Potensi Strategis

Purbaya menjelaskan bahwa disiplin fiskal menjadi fondasi penting bagi pemerintah. Dengan kebijakan yang ketat, pemerintah dapat mengoptimalkan potensi strategis Indonesia.

>>> Xiaomi Civi Series Dikabarkan Dihentikan, Bocoran Konfirmasi Tak Akan Dihidupkan Kembali

Potensi tersebut meliputi posisi geografis yang menguntungkan, kekayaan sumber daya alam, hingga bonus demografi. Semua itu menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.