Amerika Serikat telah menarik sebagian besar pasukan tempur yang dikerahkan ke Nigeria awal tahun ini, setelah menyelesaikan operasi kontraterorisme melawan kelompok ISIS di negara tersebut.

Jenderal Dagvin Anderson, kepala Komando Afrika AS (AFRICOM), mengonfirmasi penarikan "sebagian besar pasukan kami yang dikerahkan khusus untuk operasi itu."

>>> Penyanyi Country Jon Pardi dan Istri Summer Resmi Bercerai

Pernyataan itu disampaikan Anderson dalam Konferensi Kepala Pertahanan Afrika 2026.

Ia mengatakan kampanye di sekitar Cekungan Danau Chad pada musim semi lalu tidak hanya membantu negara-negara di kawasan tersebut, tetapi juga mengganggu jaringan ISIS secara global.

"Kepemimpinan ISIS telah mengalami degradasi signifikan di sana," tambah Anderson.

Operasi Bersama dan Hasilnya

Operasi bersama AS-Nigeria meningkat pada Mei lalu dengan serangkaian serangan udara dan penggerebekan di timur laut Nigeria antara 15-18 Mei.

Sasaran utama adalah Abu-Bilal al-Minuki, orang nomor dua ISIS secara global. Sekitar dua lusin komando, termasuk anggota SEAL Team 6, menyerang posisinya untuk menangkapnya.

Setelah pertempuran hampir tiga jam, komando memanggil serangan udara yang menewaskan al-Minuki. Serangan tambahan menyusul dalam beberapa hari berikutnya.

AFRICOM kemudian menyatakan sekitar 200 militan ISIS tewas dalam misi tersebut. "Nigeria sangat aktif sejak operasi pada Mei itu.

Mereka terus membidik target sendiri," kata Anderson.

>>> Summer Pardi Umumkan Ayahnya Idap Kanker di Tengah Kabar Perceraian

Penarikan pasukan tempur terjadi setelah beberapa bulan eskalasi.

Pada musim gugur lalu, Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan militer di Nigeria, menuduh pemerintah gagal melindungi warga Kristen dari kekerasan.

Pada Hari Natal, AS menembakkan beberapa rudal ke Nigeria, menargetkan militan di negara bagian Sokoto, barat laut.