Lebih dari separuh pertandingan Piala Dunia 2026 telah dimainkan. Yang mengejutkan, ofisial tidak pernah membuat satu pun kesalahan.

Tidak ada tim yang diuntungkan oleh undian yang tidak adil atau jadwal yang bias. Para komentator pun bersikap netral tanpa keberpihakan.

>>> Trump Perkenalkan Air Force One Baru Hadiah dari Qatar

Setidaknya itulah kesimpulan yang bisa ditarik dari ribuan penggemar yang datang ke Amerika Utara dari berbagai penjuru dunia.

Perayaan budaya Amerika oleh para pendatang asing menjadi gambaran abadi Piala Dunia tahun ini.

Namun, ada hal lain yang tak kalah penting: tidak adanya keluhan.

Tim Skotlandia hanya mencetak satu gol dalam tiga pertandingan, dua kali tanpa gol, dan tersingkir di fase grup.

Pelatih mereka pun mengundurkan diri karena malu. Namun, yang dikenang justru Tartan Army—para penggemar Skotlandia yang membanjiri Boston dan Miami.

Mereka minum bir, menyerap budaya Amerika, dan memenuhi stadion bisbol Red Sox serta Marlins dengan antusiasme. Mereka bersenang-senang mendukung tim mereka sepenuh hati, terlepas dari hasil di lapangan.

Para penggemar itu pasti berharap timnya tampil lebih baik. Namun, mereka akan mengingat perjalanan ke Amerika atau ke pub di kampung halaman sebagai pengalaman positif.

Mereka datang, makan di Texas Roadhouse, mengunjungi Buc-ee's, dan menyaksikan tim mereka dikalahkan. Mereka tetap mencintai tim mereka dan tak sabar untuk melakukannya lagi.

Berapa banyak dari kita yang bisa mengatakan hal yang sama tentang Sabtu sepak bola kampus, Minggu NFL, atau Maret basket?

Terlalu sering, kita meninggalkan pengalaman menonton tim kesayangan dengan perasaan kecewa dan marah.

Kita khawatir tentang draft, rekrutmen, atau jadwal mendatang. Kita menderita saat rival sukses.