Perjodohan di era modern tidak lagi identik dengan paksaan. Praktik ini perlahan berevolusi menjadi ruang dialog antara orang tua dan anak.

Orang tua kini lebih sering berperan sebagai penghubung, bukan penentu akhir. Perjodohan menjadi pintu perkenalan, bukan instrumen kontrol.

>>> BI Rate Naik ke 5,5%, Likuiditas Bank KBMI 1 Tertekan

Perubahan Makna Perjodohan

Kompasianer Nurul Rahmawati mengaku dulu merasa terganggu dengan pertanyaan "kapan kawin" saat Lebaran.

Namun seiring waktu, ia justru menyadari bahwa kekhawatiran orang tua muncul dari rasa ingin memastikan pasangan yang aman.

Ia bahkan bercanda bahwa bakat mak comblang mengalir dalam DNA-nya, meski enggan menjadikannya bisnis.

Kompasianer Enny Ratnawati A. menulis bahwa perjodohan tidak selalu buruk.

Seorang temannya menikah melalui rekomendasi setelah berdoa, dan pernikahan itu telah berjalan 14 tahun.

>>> Kemesraan di Media Sosial: Antara Ekspresi Cinta dan Risiko Hubungan

Meski demikian, perjalanan mereka tidak mulus. Perbedaan suku, kebiasaan, dan masalah ekonomi sempat menjadi ujian.

Enny juga pernah menjodohkan dua orang yang akhirnya batal karena tidak cocok saat bertemu langsung.

Kompasianer Rahmah Chemist berbagi pengalaman dibanding-bandingkan dengan teman yang menikah lewat perjodohan. Di usia 27 tahun, ia kerap didorong untuk segera dijodohkan.

Namun ia menegaskan bahwa pernikahan bukan kompetisi. Ia pernah hampir menikah tetapi gagal, dan trauma itu membuatnya tidak ingin terburu-buru.

Ia menulis, "Jika kemudian keduanya tidak sejalan, maka sudah dipastikan kualitas hubungan dan perjalanan pernikahan akan berjalan tanpa arah."

>>> Ronaldo Nazario Jagokan Spanyol dan Prancis Juara Piala Dunia 2026

Perjodohan modern mencerminkan perubahan sosial: bagaimana keluarga beradaptasi, individu memperjuangkan suara, dan cinta didefinisikan ulang.