Fitur fast charging pada motor listrik memang praktis, tetapi penggunaannya tidak boleh sembarangan. Pemilik kendaraan perlu memahami dampak buruk yang bisa terjadi jika terlalu sering menggunakan pengisian cepat.

Alfian, pemilik bengkel motor listrik AD Service Solo, menjelaskan bahwa keamanan fast charging tergantung pada tipe dan spesifikasi baterai.

>>> BYD Indonesia Rilis Harga M6 DM Mulai Rp298 Juta, PHEV Pertama untuk Keluarga

Tidak semua motor listrik dirancang untuk menerima arus tinggi.

Motor listrik yang mendukung fast charging, seperti beberapa model Polytron, umumnya aman digunakan. Kendaraan tersebut dilengkapi Battery Management System (BMS) yang mengatur proses pengisian agar tetap aman.

Selain BMS, tipe sel baterai juga disesuaikan untuk menerima arus lebih besar. Namun, meski aman, penggunaan fast charging secara terus-menerus tidak dianjurkan jika tidak mendesak.

>>> BYD Luncurkan M6 DM, MPV Hybrid Mulai Rp 298 Juta

Risiko Pengisian Cepat Berlebihan

Proses transfer arus tinggi dapat memicu lonjakan suhu baterai yang lebih agresif. Akibatnya, kesehatan baterai menurun dan umur pakainya menjadi lebih pendek.

Alfian menambahkan bahwa efek negatif tidak terjadi secara mendadak, melainkan berupa penyusutan kapasitas penyimpanan energi dalam jangka panjang.

Baterai yang seharusnya bertahan tiga tahun bisa mengalami penurunan performa lebih awal.

>>> Regulator China Panggil Produsen Mobil Terkait Perang Harga

Oleh karena itu, pengendara disarankan menggunakan fast charging hanya saat darurat, misalnya ketika mengejar waktu. Untuk penggunaan sehari-hari, metode slow charging tetap menjadi pilihan terbaik menjaga kesehatan baterai.