Aktris Hana Saraswati mengenang momen emosional bersama almarhum Gary Iskak saat peluncuran trailer dan poster resmi film Lastri: Arwah Kembang Desa.

Acara berlangsung di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Kamis (11/6/2026).

>>> Review 3 Fried Chicken Lokal di Tegal Parang: Siapa Paling Enak?

Suasana haru mewarnai acara tersebut karena ketidakhadiran Gary Iskak dalam karya terakhirnya sebelum wafat.

Film horor yang mengangkat cerita urban legend berlatar tahun 1980-an ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 Juli mendatang.

Hana berharap proyek terakhir sang aktor senior dapat diapresiasi dan diingat dengan baik oleh masyarakat luas.

"Aku pengin film ini dikenang dengan baik sama banyak orang, dan semoga teman-teman bisa bantu mewujudkan itu, salah satu mimpi kita.

Mengingatkan lagi katanya ini mungkin project terakhirnya Mas Gary ya sebelum almarhum gak ada," kata Hana.

Kesan Mendalam tentang Gary Iskak

Penampilan luar Gary Iskak yang tampak sangar dinilai bertolak belakang dengan kepribadian aslinya yang lembut dan terbuka.

>>> Polda Metro Jaya Periksa Roger Danuarta dan Cut Meyriska Terkait Kasus Penipuan Umrah

Hana merasa proses membangun chemistry dengan mendiang yang berperan sebagai Turenggo berlangsung sangat mudah.

"Dia tuh memang baiknya tuh baik tulus. Jadi chemistry-nya kita sama dia juga nyaman, enak, gak perlu maksa gitu, chemistry-nya tuh emang jalan aja.

Ternyata begitu ngomong, tampilan sama hatinya beda jauh," beber Hana.

Rasa kehilangan juga diungkapkan Eksekutif Produser sekaligus pemain film, Audi Bela. Ia menyebut hubungannya dengan mendiang sudah terjalin sangat dekat selama lebih dari sepuluh tahun.

"Bareng-bareng beliau tuh karena kan udah bukan seperti teman ya, udah seperti saudara, udah kayak abang, kayak bapak saya sendiri, lebih dari teman lah," kenang Audi Bela.

Sinema arahan sutradara Hendry Tifo ini menyajikan atmosfer horor kuat serta konflik emosional mendalam.

>>> Misbakhun: KEM-PPKF 2027 Harus Jaga Daya Beli Kelas Menengah

Karya ini sekaligus diproduksi sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi panjang Gary Iskak di industri seni peran Indonesia.