Generasi Z mulai meninggalkan model karier linier tradisional dan beralih ke karier portofolio yang didorong oleh teknologi AI dan sistem kerja hybrid.

Temuan ini berasal dari riset terbaru International Workplace Group (IWG) yang mengungkap tren profesional muda di dunia kerja.

>>> LHS 1140b: Planet Mirip Bumi dengan Atmosfer Terkonfirmasi, Target Baru Astrobiologi

Pekerja muda kini lebih proaktif menggabungkan pekerjaan utama dengan peran tambahan hingga wirausaha untuk menjaga stabilitas finansial.

Studi IWG terhadap pekerja di Inggris menunjukkan 33 persen responden Gen Z telah memiliki atau mempertimbangkan pekerjaan sampingan.

Faktor pendorong utama bagi 48 persen responden adalah tingginya biaya hidup, tekanan inflasi, dan utang pendidikan.

>>> Samsung Galaxy Z Fold8 Bobot 201 Gram, Harga Mulai Rp28,4 Juta

AI Ubah Arah Karier Gen Z

Kehadiran kecerdasan buatan menjadi katalis utama dalam pergeseran cara bekerja generasi masa kini.

Sekitar 55 persen responden meyakini teknologi otomasi akan mengubah peta karier mereka secara signifikan.

Meski AI mengambil alih tugas teknis, keterampilan esensial manusia justru semakin berharga.

Sebanyak 90 persen pemimpin SDM menyatakan kegagalan memprioritaskan kemampuan manusia dapat menghambat inovasi bisnis.

>>> 7 HP di Bawah Rp2 Juta dengan Kamera 108 MP dan NFC, Pilihan Terbaik 2026

AI dinilai memiliki keterbatasan dalam interaksi emosional; 65 persen pemimpin sepakat AI tidak bisa meniru empati, dan 53 persen menganggap kepemimpinan tetap ranah manusia.

Selain teknologi, potensi pendapatan finansial tetap menjadi motivasi utama Gen Z dalam memilih pekerjaan.

Alih-alih bertahan lama di satu tempat, mereka berpindah antarperan atau industri demi kompensasi lebih baik.

>>> 29 Kode Redeem Free Fire 27 Juli 2026: Klaim Skin dan Voucher Gratis

Data menunjukkan 43 persen profesional muda telah berpindah pekerjaan dua hingga tiga kali dalam tiga tahun terakhir.