AS Pindahkan Data Korban Perang ke Kategori Baru, Publik Curiga Ada yang Ditutupi
Amerika Serikat kembali menjadi sorotan terkait transparansi data korban perang di Iran.
Laporan Associated Press (AP) pada Senin (27/7/2026) mengungkap bahwa empat anggota militer AS yang tewas dalam konflik terbaru tidak lagi tercantum dalam daftar resmi korban perang.
Keempat prajurit tersebut sebelumnya tercatat dalam sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS), basis data utama militer AS untuk mencatat korban operasi perang.
Namun, pekan lalu nama mereka bersama puluhan hingga ratusan korban luka dipindahkan ke kategori baru bertajuk 'Overseas Operations' atau Operasi Luar Negeri.
Dalam kategori tersebut tercantum empat prajurit yang meninggal dunia beserta 207 personel yang mengalami luka-luka.
Belum dapat dipastikan apakah seluruh korban luka dalam kategori baru itu langsung akibat konflik melawan Iran.
Perubahan Klasifikasi Picu Pertanyaan Transparansi
Perubahan klasifikasi ini memicu pertanyaan mengenai transparansi pemerintah dalam menyampaikan dampak sebenarnya dari perang.
Publik menilai pemindahan data membuat jumlah korban perang terlihat lebih kecil dibanding kondisi sebenarnya.
Juru Bicara Pentagon Joel Valdez membantah adanya upaya menyembunyikan jumlah korban.
Menurutnya, perubahan data terjadi akibat persoalan teknis dalam sistem pencatatan.
>>> Lewat Kawan Nusantara 2026, Pertamina Buka Pasar Produk Budaya
"Pengurangan angka korban yang dipublikasikan terjadi karena adanya anomali dan gangguan data sementara yang akan segera diperbaiki," kata Valdez.
Penjelasan Pentagon belum sepenuhnya meredakan kritik yang muncul.
Laporan menyoroti bahwa perubahan kategori korban terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap keterbukaan informasi selama konflik kembali memanas.
Amerika dalam beberapa hari terakhir dinilai semakin membatasi informasi mengenai perkembangan operasi di Iran.
Departemen Pertahanan AS sudah tidak lagi menggelar konferensi pers resmi mengenai perang sejak awal Mei.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga disebut menghentikan praktik rutin menyampaikan laporan korban kepada jurnalis.
Kondisi tersebut membuat proses verifikasi jumlah korban semakin sulit dilakukan secara independen.
Perubahan sistem pelaporan memunculkan spekulasi bahwa angka korban perang sebenarnya bisa lebih besar dari yang diketahui publik.
>>> Oppo A7 Pro Max Resmi Diumumkan, Bawa Baterai 10.000 mAh
Hingga kini Pentagon belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan pemindahan data empat prajurit tersebut.
Update Terbaru
Kisah Masa Kecil Sandara Park, Nyaris Tak Bicara 10 Tahun di Filipina
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
John Park Bongkar Rahasia Bisa Masuk Klub Malam Berghain di Berlin
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Young K DAY6 Ungkap Makna di Balik Album Solo Kedua YOUNGEST
Senin / 27-07-2026, 23:07 WIB
Vernon dan DK SEVENTEEN Umumkan Jadwal Resmi Wajib Militer
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
BabyMonster Siap Rilis Video Musik MOON pada 3 Agustus Mendatang
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Perjalanan Emosional Ibu dan Anak dalam The Journey to Gyeongju
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Festival musik global Fanomenon siap digelar Korea Selatan di LA pada 2028
Senin / 27-07-2026, 23:00 WIB
Boy band NouerA kembali lewat EP keempat berjudul .exe dengan konsep cinta
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Kecelakaan Maut Ferrari SF90 Terbelah Dua di Australia, Pengemudi Selamat
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Eks Insinyur VW Didakwa Insider Trading Saham Rivian dan Cari Batas Waktu Hukum
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Barclays, Halifax, dan Lloyds Alami Gangguan Massal Akses Rekening
Senin / 27-07-2026, 22:56 WIB
Susunan Pemain Laga Indonesia vs Kamboja: Debut Baker Warnai Lini Depan Garuda
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB
Danantara Masuk KSSK, Prabowo Ingin Kebijakan Ekonomi Lebih Luas
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB
Sebut AS Geng Mafia dan Abaikan Hukum, Iran Ajukan Syarat Diplomasi
Senin / 27-07-2026, 22:49 WIB







