Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu fenomena geologi paling menarik di Indonesia.

Muncul dari reruntuhan Gunung Krakatau yang legendaris setelah letusan dahsyat tahun 1883, Anak Krakatau bukan sekadar pulau baru, melainkan bukti bahwa aktivitas vulkanik di Selat Sunda masih sangat hidup.

>>> Penjualan Daihatsu Naik 27% pada Juni 2026, Gran Max Jadi Andalan

Pertanyaan “kenapa Anak Krakatau bisa muncul?” mengajak kita menyelami proses tektonik, siklus gunung api, dan kekuatan alam yang tak pernah berhenti.

Latar Belakang Letusan Krakatau 1883

Pada 26-27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan luar biasa. Letusan ini termasuk salah satu yang terdahsyat dalam sejarah modern, dengan indeks eksplosivitas vulkanik (VEI) 6.

Krakatau Purba yang tingginya mencapai sekitar 800 meter lebih hancur hampir separuh.

Ledakan tersebut menghasilkan suara yang terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya, tsunami setinggi puluhan meter yang menewaskan lebih dari 36.000 orang, serta abu vulkanik yang menutupi langit hingga menyebabkan “tahun tanpa musim panas” di belahan bumi utara.

Akibat letusan itu, terbentuklah kaldera besar di tengah Selat Sunda.

Kaldera ini adalah cekungan raksasa yang dulunya adalah tubuh gunung, kini terisi air laut dengan kedalaman rata-rata sekitar 200-300 meter.

Banyak yang mengira aktivitas vulkanik Krakatau telah berakhir. Namun, justru di sinilah benih Anak Krakatau mulai tumbuh.

Proses Kemunculan Anak Krakatau

Sekitar 44 tahun kemudian, tepatnya pada akhir 1927, aktivitas vulkanik kembali muncul di pusat kaldera.

Awalnya berupa semburan air laut dan uap, kemudian material vulkanik mulai menumpuk di dasar laut.

>>> Cara Membedakan Mitsubishi Lancer Evo Asli dan Evo Convert Menurut Pakar, Harga 40 Jutaan