>>> Kimi Antonelli Menangi Sprint Silverstone, Perlebar Keunggulan Klasemen

Mereka menemukan sesuatu yang aneh.

Saat tumor berkembang pada tikus, jumlah sel tetraploid menurun, tetapi massa tumor membesar dengan cepat.

Ternyata, ekspansi ini disebabkan oleh rekrutmen sel stroma—sel non-kanker dari jaringan ikat yang mendukung organ.

Menurut Megan Sweet, keberadaan sel tetraploid dalam jumlah kecil pun dapat memicu rekrutmen sel non-kanker tambahan, sehingga mempercepat pertumbuhan tumor.

Penelitian juga mengungkap bahwa tidak semua klon sel tetraploid berukuran sama.

Beberapa klon 25 hingga 30 persen lebih kecil dari perkiraan, dan klon yang lebih kecil ini lebih tumorigenik.

“Klon yang lebih kecil lebih agresif,” kata para peneliti. “Mereka tumbuh lebih cepat, lebih invasif, dan lebih resisten terhadap obat antikanker yang umum digunakan.”

Eksperimen pada tikus mengonfirmasi bahwa tumor yang terdiri dari sel tetraploid kecil tumbuh lebih cepat, baik pada kanker kolorektal maupun payudara.

Dengan memeriksa data Cancer Genome Atlas, para ilmuwan menemukan bahwa sel tetraploid kecil pada beberapa jenis kanker berkorelasi dengan prognosis yang lebih buruk dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah.

Peneliti Cimini menyimpulkan, “Kami sudah tahu bahwa tetraploidi dapat membuat sel lebih tumorigenik, tetapi sekarang kami tahu bahwa ukuran sel membantu memprediksi potensi tumorigeniknya.”

>>> Warriors Hancurkan Lakers 104-72 di Debut Summer League

Kesimpulannya, dalam kanker, ukuran—baik kelebihan kromosom maupun skala sel—sangat menentukan. Terkadang, yang lebih kecil justru lebih ganas.