Jarang mendapatkan menit bermain, ia tiba-tiba dimasukkan dalam situasi krusial adu penalti melawan Paraguay dalam kondisi mental yang rapuh, yang berujung pada kegagalan eksekusinya.

Lebih buruk lagi, Nagelsmann tak segan mengambinghitamkan pemainnya sendiri di depan publik. Usai laga kontra Paraguay, ia menyalahkan penyerang Deniz Undav secara terbuka ke media.

"Deniz harusnya mengoper bola secara horizontal di menit pertama. Dia tidak boleh men-chip bola dalam situasi seperti itu.

Jika itu gol, kita sudah unggul 1-0," ujar Nagelsmann.

Kamp Latihan Membosankan

Kondisi psikologis pemain makin diperparah dengan pemilihan lokasi kamp latihan di Hotel 'The Graylyn Estate' di Winston-Salem, Carolina Utara.

Kamp yang dipilih demi efisiensi jarak ke bandara dan lapangan latihan itu ternyata sangat terisolasi dan membosankan.

Saking frustrasinya dengan atmosfer yang menjemukan, Joshua Kimmich bahkan sempat bertanya kepada wartawan di sela-sela konferensi pers mengenai rekomendasi aktivitas luang di hari libur.

Penyerang Nick Woltemade juga membeberkan dalam sebuah konten YouTube bahwa ia dan beberapa rekan setimnya terpaksa bermain petak umpet di area hotel karena kehabisan ide untuk mengusir kejenuhan.

Kisruh Fisioterapis Selundupan

Borok paling mengejutkan yang diungkap oleh Sky Sport adalah pecahnya keharmonisan antara pemain dengan staf medis pilihan Nagelsmann.

Pada awal tahun, DFB memecat Michael Deiss, fisioterapis kesayangan para pemain yang dikenal sangat dekat dengan mantan asisten pelatih Sandro Wagner (yang telah hengkang pada 2025).

Kepergian Deiss digantikan oleh staf bawaan Nagelsmann yang dinilai tidak kompeten oleh skuad. Gerah dengan penanganan medis yang buruk, Kimmich dan sejumlah pemain pilar mengambil tindakan nekat.

Mereka secara sembunyi-sembunyi mendatangkan fisioterapis eksternal ternama, dokter Jurgen Siegele, dari Stuttgart menuju lokasi yang dekat dengan hotel tim.