HYROX tengah menjadi tren olahraga yang banyak dibicarakan.

Namun, di balik euforia kompetisi, muncul fenomena peserta yang mengalami diare atau keinginan buang air besar mendadak saat berlomba.

>>> Boy Arnez Buka Rahasia Lompat Lebih Tinggi dari Net di AVC Cup

Dalam gelaran HYROX di Jakarta baru-baru ini, salah satu alat pertandingan sempat terkena kotoran akibat peserta yang 'cepirit' di tengah kompetisi.

Secara medis, kondisi ini disebut exercise-induced gastrointestinal symptoms, yaitu gangguan saluran cerna yang dipicu aktivitas fisik berintensitas tinggi.

Kondisi serupa juga sering dialami pelari marathon dan atlet ketahanan lainnya.

Penyebab Gangguan Pencernaan saat HYROX

Saat olahraga intensitas tinggi, tubuh memprioritaskan aliran darah ke otot, jantung, paru-paru, dan kulit. Akibatnya, aliran darah ke lambung dan usus berkurang signifikan.

Hal ini dapat mengganggu lapisan pelindung usus, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), hingga memicu mulas, kram perut, dorongan BAB mendadak, bahkan diare.

Mekanisme ini disebut circulatory-gastrointestinal pathway.

Olahraga berat juga mengaktifkan sistem saraf simpatis atau respons fight or flight.

Respons ini memengaruhi fungsi saluran cerna sehingga sebagian orang mengalami perut penuh, kembung, sering buang angin, mual, hingga dorongan BAB yang sulit ditahan.

Setiap langkah saat berlari menghasilkan hentakan yang mengguncang organ di rongga perut. Faktor mekanis ini menjadi alasan pelari lebih sering mengalami gangguan pencernaan dibanding atlet cabang lain.

>>> Persija Segera Resmikan Denis Kolinger, Bek Kroasia Sudah Pamit dari NK Lokomotiva

Pada HYROX, tekanan semakin besar karena peserta bergantian melakukan lari dan latihan kekuatan dengan intensitas tinggi.

Suhu inti tubuh yang meningkat membuat aliran darah ke kulit bertambah untuk pendinginan, sehingga suplai darah ke saluran cerna semakin berkurang.