Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendakian di Gunung Merapi.

Potensi bahaya erupsi eksplosif masih mengancam.

>>> Top Skor Piala Dunia 2026: Harry Kane Samai Haaland, Buru Mbappe-Messi

Kepala BPPTKG, Agus Budi, menegaskan keselamatan pendaki harus menjadi prioritas. Ancaman erupsi eksplosif dapat terjadi sewaktu-waktu.

"Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan," kata Agus Budi, Rabu (1/7).

Agus Budi menjelaskan, jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

Area tersebut mencakup jalur dan batas akhir pendakian, sehingga siapa pun di zona itu berisiko tinggi.

Ia juga meminta masyarakat memahami dinamika aktivitas Merapi saat ini. Merapi sedang dalam fase erupsi efusif dengan magma keluar perlahan ke permukaan.

Potensi Erupsi Eksplosif Masih Tinggi

Kondisi erupsi efusif tidak berarti ancaman berakhir. Potensi erupsi eksplosif tetap tinggi jika jalur magma tersumbat tiba-tiba.

"Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi," tegas Agus Budi.

Sumbatan pada jalur magma menyebabkan akumulasi tekanan gas kuat di kawah. Tekanan itu dapat melepaskan energi dalam bentuk erupsi eksplosif mendadak.

Kewaspadaan didasarkan pada data historis aktivitas Merapi. Dalam tiga abad terakhir, erupsi eksplosif merupakan tipe yang paling sering terjadi.

Sejak erupsi 2010, tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi erupsi freatik. "Oleh karena itu, penutupan aktivitas pendakian merupakan langkah mitigasi utama," pungkasnya.

Penutupan Jalur Pendakian

Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) sebelumnya menegaskan jalur pendakian masih ditutup. Pernyataan ini merespons konten viral yang menampilkan ajakan pendakian.