Sepanjang kuartal II 2026, harga emas diperkirakan telah melemah sekitar 11 persen. Penurunan itu menjadi salah satu kinerja kuartalan terburuk dalam beberapa dekade.

Data ekonomi Amerika Serikat yang tetap kuat memperbesar peluang suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan kerja mencapai level tertinggi dalam dua tahun.

Pelaku pasar juga menantikan data non-farm payrolls Juni 2026 yang diperkirakan kembali mencatat pertumbuhan lapangan kerja. Di sisi lain, inflasi inti masih berada di atas target 2 persen sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat dan membuat aset berbunga lebih menarik dibandingkan emas.

Ketua The Fed, Warsh, turut mengumumkan pembentukan kelompok kerja untuk mengkaji kebutuhan neraca bank sentral. Langkah tersebut dinilai membuka peluang penjualan obligasi pada masa mendatang.

Selain emas, harga perak dunia juga bergerak turun. Pada perdagangan yang sama, logam tersebut tercatat melemah 1,22 persen menjadi 57,794 dollar AS per ons.