Kerupuk Camilan Favorit Warga RI, Diam-Diam Picu Buncit dan Sakit Jantung
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menyantap kerupuk. Di balik kenikmatannya, kerupuk menyimpan risiko kesehatan serius.
Menkes mengingatkan bahwa konsumsi kerupuk berlebihan dapat memicu perut buncit hingga penyakit jantung. Ia menekankan pentingnya memahami jumlah kalori dari makanan ringan ini.
>>> Mengenal Jenis-Jenis Kopi Indonesia yang Populer di Berbagai Daerah
Satu buah kerupuk mengandung sekitar 65 kalori. Jika dikonsumsi sebanyak satu renteng (10 buah), total kalori yang masuk mencapai 650 kalori.
"Sepuluh kerupuk itu hampir setara dengan proporsi 1 piring nasi lengkap lauk pauknya," jelas Budi. Padahal, nasi lengkap lebih bervariasi rasa, tekstur, dan bernutrisi.
Kerupuk sering dianggap camilan ringan karena teksturnya renyah dan terasa 'kosong'. Padahal, makanan ini bisa berkontribusi pada perut buncit bila dikonsumsi berlebihan.
Sebagian besar kerupuk terbuat dari tepung tapioka atau tepung lain yang tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat. Akibatnya, cepat dicerna dan tidak memberikan rasa kenyang tahan lama.
Seseorang cenderung makan lebih banyak tanpa sadar, baik kerupuknya maupun makanan pendamping lainnya. Selain tinggi karbohidrat, kerupuk umumnya digoreng dalam minyak dan mengandung garam cukup tinggi.
Kombinasi lemak, natrium, dan kalori ini dapat memicu penumpukan lemak tubuh jika asupannya berlebihan dan tidak diimbangi aktivitas fisik.
>>> Tema Hari Keluarga Nasional 2026: 'Ayah Wajib Hadir', Ini Maknanya
Kandungan garam yang tinggi juga membuat tubuh menahan lebih banyak cairan.
Kerupuk sering dimakan sebagai pelengkap hampir di setiap waktu makan, mulai dari nasi goreng hingga bakso dan soto.
Kebiasaan ini membuat total asupan kalori harian meningkat tanpa terasa.
Jika dikonsumsi terus-menerus dalam porsi besar, terutama bersama pola makan tinggi gula dan lemak serta kurang gerak, kebiasaan makan kerupuk dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan dan penumpukan lemak di area perut.
Mayoritas kerupuk digoreng dalam minyak sawit yang mengandung lemak trans. Lemak trans dapat menaikkan kolesterol LDL ('jahat') dan menurunkan kolesterol HDL ('baik').
Konsumsi kerupuk yang sering, terutama karena kandungan garam tinggi, proses penggorengan, dan rendahnya nilai gizi, dapat meningkatkan faktor risiko seperti hipertensi, obesitas, dan diabetes.
>>> Granblue Fantasy Versus Rising Rilis Versi 2.60 dan Versi Switch 2 pada 17 September
Pada akhirnya, hal ini meningkatkan risiko penyakit jantung.
Update Terbaru
Ada Berapa Role di MLBB? Ini Penjelasan Lengkap dan Tugasnya
Rabu / 01-07-2026, 12:20 WIB
iQOO Pad 5c Resmi Meluncur dengan Snapdragon 8s Gen 3 dan Baterai 10.000 mAh
Rabu / 01-07-2026, 12:20 WIB
Redmi Luncurkan Headphone Over-Ear Pertama dengan ANC 42dB dan Baterai 72 Jam
Rabu / 01-07-2026, 12:15 WIB
6 Drakor Terbaru Juli 2026: Comeback Nam Joo Hyuk hingga Lee Dong Wook
Rabu / 01-07-2026, 12:15 WIB
Ekspresi Marah Suporter Cantik Viral, Ternyata Anak Legenda Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 12:15 WIB
Snapdragon Summit 2026 Digelar September, Ini Bocoran Chip Baru
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Meta dan Komdigi Bentuk Tim Khusus Berantas Spam Link Judi Online
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Potongan Aplikasi 8 Persen, Menhub Jamin Tarif Ojol Tak Berubah
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Ronald Koeman Mundur Usai Belanda Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Blue Dragon Series Awards 2026 Umumkan Daftar Nominasi, Drama dan Variety Show OTT Terbaik Siap Bersaing
Rabu / 01-07-2026, 12:11 WIB
Ahn Bo Hyun Berburu Kriminal dengan Gaya Mewah Chaebol di Flex x Cop 2
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Creative Director Clair Obscur: Expedition 33 Puji Kingdom Hearts 2 sebagai Action RPG Terbaik
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Meksiko Lolos ke 16 Besar Piala Dunia Usai Kalahkan Ekuador
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Meksiko dan Prancis Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB






