Kementerian Ramai-ramai Ajukan Tambahan Anggaran, Ekonom Soroti Program Prioritas
Fenomena maraknya kementerian dan lembaga yang mengajukan tambahan anggaran dalam RAPBN 2027 dinilai mencerminkan masalah struktural dalam perencanaan keuangan negara.
Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai kondisi ini bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan akibat desain awal anggaran yang tidak berbasis kebutuhan riil sektor.
>>> Pakistan Umumkan Perundingan Teknis AS-Iran di Swiss pada Minggu
Menurutnya, penyusunan pagu anggaran sejak awal lebih banyak disetir oleh agenda program prioritas presiden, bukan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian.
"Sejak awal, pembuatan pagu APBN tidak berdasarkan pada kebutuhan masing-masing K/L melainkan kebutuhan program prioritas presiden," ujar Nailul Huda, Minggu (21/6).
Ruang Fiskal Menyempit Akibat Dominasi Program Prioritas
Nailul menjelaskan, program raksasa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi jangkar utama postur keuangan negara.
Akibatnya, penetapan indikator makro tersebut memaksa kementerian lain menyesuaikan diri, sehingga ruang fiskal untuk program mandiri sangat terbatas.
>>> Pratinjau Belgia vs Iran: Duel Tim Pemburu Kemenangan Perdana di Grup G
Program besar seperti MBG ditentukan porsinya terlebih dahulu, baru sisa anggaran dibagi ke K/L lain. Rencana kerja tiap instansi seolah dipaksakan melebur ke agenda besar Presiden.
Pengetatan di awal ini memicu gejolak ketika kementerian dituntut merealisasikan program secara ideal, namun terbentur keterbatasan dana dan terpaksa mengajukan tambahan anggaran.
"Bahkan beberapa K/L terkesan nganggur karena tidak ada program yang dijalankan," tambah Nailul, menyoroti risiko ketidakseimbangan perencanaan fiskal.
Di sisi lain, DPR RI telah menyepakati pagu indikatif dan tambahan anggaran bagi sejumlah kementerian, seperti Kementerian Agama, Kementerian Sosial, dan BNPB dalam rapat kerja di Senayan, Jakarta.
>>> Jerman Kalahkan Pantai Gading 2-1, Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Kementerian Keuangan sendiri menetapkan pagu indikatif internal tahun 2027 sebesar Rp49,8 triliun sebagai landasan penyusunan draf RAPBN secara makro.
Update Terbaru
Redmi Luncurkan Headphone Over-Ear Pertama dengan ANC 42dB dan Baterai 72 Jam
Rabu / 01-07-2026, 12:15 WIB
6 Drakor Terbaru Juli 2026: Comeback Nam Joo Hyuk hingga Lee Dong Wook
Rabu / 01-07-2026, 12:15 WIB
Ekspresi Marah Suporter Cantik Viral, Ternyata Anak Legenda Piala Dunia
Rabu / 01-07-2026, 12:15 WIB
Snapdragon Summit 2026 Digelar September, Ini Bocoran Chip Baru
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Meta dan Komdigi Bentuk Tim Khusus Berantas Spam Link Judi Online
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Potongan Aplikasi 8 Persen, Menhub Jamin Tarif Ojol Tak Berubah
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Ronald Koeman Mundur Usai Belanda Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 12:14 WIB
Blue Dragon Series Awards 2026 Umumkan Daftar Nominasi, Drama dan Variety Show OTT Terbaik Siap Bersaing
Rabu / 01-07-2026, 12:11 WIB
Ahn Bo Hyun Berburu Kriminal dengan Gaya Mewah Chaebol di Flex x Cop 2
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Creative Director Clair Obscur: Expedition 33 Puji Kingdom Hearts 2 sebagai Action RPG Terbaik
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Meksiko Lolos ke 16 Besar Piala Dunia Usai Kalahkan Ekuador
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Meksiko dan Prancis Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Jerman dan Belanda Tersingkir, Peta Kekuatan Piala Dunia 2026 Berubah
Rabu / 01-07-2026, 12:07 WIB
Hideo Kojima Kini Hadir sebagai Figur Nendoroid, Tatapan Tajamnya Bikin Merinding
Rabu / 01-07-2026, 12:05 WIB






